PTM
PERSIAPAN PTMT : Wakil Walikota Imam Budi Hartono saat melangsungkan peninjauan PTM di SMP Negeri 2 Depok, Rabu (29/9). FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Pekan depan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, tepatnya 4 Oktober. Berdasarkan data, ternyata masih ada 2.680 pelajar atau 4 persen lagi yang belum menerima vaksin, dari 67.000 pelajar. Adanya data tersebut wakil rakyat meminta segera mengejar kekurangannya, dan bila belum pelajar tersebut dilarang masuk sekolah.

Kabid SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Sada Sugianto memastikan, vaksinasi pelajar SMP terus dikejar dan masih berlangsung di sekolah maupun tempat lainnya. Ini agar PTM terbatas bisa berjalan sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan.

“Memang ada beberapa yang tidak bisa menerima vaksin, karena ada sakit penyerta. Tapi bagi yang bisa dan belum menerima, terus kita lakukan percepatan vaksin, karena persyaratan utama pelajar sudah terima vaksin,” jelasnya kepada Radar Depok, Rabu (29/9).

Dia melanjutkan, PTM terbatas bukan hanya vaksin para pelajar, melainkan para tenaga pendidik, seperti guru dan penghuni sekolah lainnya. Capaian ini sudah 98 persen, sehingga persyaratan PTM terbatas semakin terpenuhi dengan memberikn vaksin kepada setiap tenaga pengajar.

Lebih jauh, Sada menyampaikan, simulasi PTM terbatas berjalan sesuai harapan, dengan mengcu pada Peraturan Walikota (Perwal) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang telah ditetapkan. Seperti capaian vaksinasi pelajar, vaksinasi guru, waktu belajar di batasi, ruang satu kelas di batasi hanya sebanyak 20 orang dari total murid dalam satu kelas, sampai pada sarana dan prasarana protokol kesehatan yang meliputi tenpt cuci tangan, masker cadangan, hingga tidak ada kerumunan di sekolah.

“Simulasi ini dilakukan mulai dari datang ke sekolah sampai bubar sekolah. Salah satunya antar jemlut murid dan tidak ada orang tua murid yang menunggu anaknya di sekolah,” kata Sada.

Surat keterangsn izin yang ditanda tangani orang tua menjadi kunci keberlangsungan sang anak mengikuti PTM terbatas. Jika tidak diberikan izin dari orang tua, anak tetap menerima materi pembelajaran secara online.

Namun orang tua tidak perlu khawatir, sebab setiap sekolah telah membentuk satgas Covid-19 yang langsung berkoordinasi dengan Puskesmas setempat, untuk menindaklanjuti jika ada murid yang terpapar. Bahkan, ruang isolasi di sekolah sudah disiapkan.

“Tapi kita tidak mengharapkan itu. Saat pintu masuk sudah ada pengecek suhu tubuh, yang bisa mengetahui jika kondisi tidak murid normal. Kalau sudah ditemukan begitu langsung kita bergerak cepat,” ungkapnya.

Setelah melakukan simulasi ini, pemerintah akan melakukan evaluasi terkait simulasi PTM terbatas dan capaian vaksinasi para pelajar. Evaluasi akan disampaikan setiap perwakilan sekolah, agar mengetahui apa yang harus diperbaiki atay ditingkatkan agar PTMT berjalan sesuai tanggal yang ditentukan.

Sementara, Kabid SD Dinas Pendidikan Kota Depok, Awang menambahkan, setelah melangsungkan simulasi dua hari di seluruh SD negeri maupun swasta berjalan dengan baik, tidak ada laporan yang negatif, semua laporan yang masuk adalah positif.

Tercatat, ada 207 SD Negeri dan 108 SD Swasta yang telah siap melangsungkan PTMT, yang tentunya telah mendapat dukungan dari orang tua pelajar.

“Kalau memang ada kejadian yang tidak diinginkan seperti klaster baru. Sekolah tersebut akan di lockdown selama 7 hari, itu sesuai Juknis yang tertuang dalam melangsungkan PTMT,” jelas Awang.

Dilokasi terpisah, Kepala KCD wilayah 2, I Made Supriatna membeberkan, pelajar SMA di Kota Depok yang telah tervaksin, baik dari Negeri maupun Swasta sudah mencapai 37.908 pelajar, dari total 43.814 pelajar SMA di Kota Depok.

“Jumlah yang belum divaksin ada sekitar 5.906 pelajar. Capaian vaksin pelajar SMA secara keseluruhan sudah 87 persen,” terangnya.

Sementara, kata Made, terkait tenaga pendidik di Kota Depok, dari total 3.209, yang sudah menerima vaksin sebanyak 2.556 tenaga pendidik yang telah terima vaksin. Ada sekitar 653 yang belum menerima vaksin. Dengan capaian persentase sebesar 80 persen.

“Pasti kami terus melakukan percepat bagi yang belum divaksin. Mayoritas semua sudah divaksin dan sudah siap. Terkait PTM kebijakannya akan diatur oleh Peraturan Walikota Depok,” ungkap Made.

Menimpali hal ini, Wakil Ketua Komisi D DPRD Depok, Suparyono mengatakan, bagi pelajar yang belum menerima vaksin, untuk segera mendapatkan vaksin. Namun tetap harus di tahan jika mau melangsung PTMT. Sebab vaksin belum bekerja secara efektif karena waktunya yang mepet.

Menurutnya, harus melakukan percepatan dengan menghitung berapa jumlah pelajar yang belum dengan jumlah vaksinator di perbanyak, sehingga satu vaksinator bisa memegang banyak pelajar.

“Jadi setelah terima vaksin jangan langsung masuk PTMT dulu, tunggu vaksinnya bekerja. Percuma kalau vaksinnya belum bekerja. PTMT ini juga kan harus memberlakukan 50 persen siswa yang ikut. Nah, jadi masih ada waktu bagi pelajar yang baru terima vaksin, biar vaksinnya bekerja dulu,” paparnya saat dikonfirmasi.

Di lokasi berbeda, Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono menekankan, untuk yang melakukan antar jemput pelajar wajib dari komponen pendidikan.

“Termasuk itu harus kita perhatikan, apalagi anak di bawah umur. Yang antar jemput harus dari komponen pendidikan,” tegasnya saat meninjau pelaksanaan PTMT di SMP Negeri 2 Depok

Dia menjelaskan, yang dimaksud komponen pendidik adalah guru, satpam, penjaga kantin sampai penjaga sekolah. Hal itu jika orang tua tidak bisa melakukan antar jemput.

Upaya ini dilakukan demi mencegah hal yang tidak diinginkan, yang mana dapat menjadi celah kejahatan dalam menjalankan PTMT. Sebab hal yang harus diperhatikan bukan hanya prokes, namun lebih pada keamanan setiap pelajar. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar