vaksinansi
VAKSIN PELAJAR : Pelaksanaan gebyar vaksinasi di SMPN 11, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos Kota Depok. FOTO : LULU/RADAR DEPOK.

RADARDEPOK.COM – Yang ditunggu-tunggu ditetapkan juga. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan menyelenggarakan simulasi menjelang Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Jika tak ada aral melintang, selama dua hari Selasa-Rabu (28-29/9) dari berbagai jenjang sekolah dilaksanakan simulasi PTM. Setelah simulasi, pemkot langsung melakukan uji coba PTM 4 Oktober 2021.

“Insha Allah setelah simulasi ada penerapan uji coba pada 4 Oktober 2021,” ujar Walikota Depok, Mohammad Idris kepada Harian Radar Depok, Jumat (24/9).

Idris menjelaskan, sebanyak 10 Sekolah yang berada di bawah Pemerintah Kota Depok seperti PAUD hingga SMP akan dilakukan simulasi. Sedangkan simulasi SMA akan dipantau oleh Kantor Cabang Dinas. Nantinya, pada saat simulasi berlangsung  akan dilaksanakan seluruh sekolah di Kota Depok.

“Nanti pada saat simulasi harus ada foto dan video untuk diserahkan ke Satgas. Gongnya pada tanggal 1 Oktober 2021. Dan akan di realisasi pada tanggal 4 Oktober 2021,” jelasnya.

Menurut walikota, dengan adanya 15.000 pelajar di luar Kota Depok yang terdampak Covid-19. Pemerintah Kota Depok tidak ingin adanya siswa yang terdampak saat melakukan PTM. Maka dari itu simulasi menjelang PTM sangat penting dan Pemerintah Kota Depok akan melaksanakan program Swab Rutin bertahap kepada siswa sekolah, untuk menghindari siswa dari covid-19.

“Nanti saya perintahkan untuk diadakan swab rutin bertahap dengan sistem acak kepada siswa sekolah. Misal nanti ada satu kasus, langsung kita adakan tindakan. Jadi jangan sampai ada penyebaran,” tegas walikota.

Sementara, hingga kini, sudah ada 1.295 SMA, SMK dan SLB se-Jawa Barat yang melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Dan belum ditemukan adanya klaster dari PTM yang dilaksanakan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dedi Supandi menerangkan, di beberapa kabupaten dan kota lain di Jawa Barat sudah ada yang melaksanakan PTM terbatas.

“Yang terpenting, sekolah wajib menyediakan kedua layanan, baik sarana PTM dan juga PJJ. Orang tua wajib di berikan hak memilih bagi anak-anaknya,” ucapnya kepada Radar Depok, Jumat (24/9).

Dia menyebut, apabila terjadi kebijakan dari pemerintah kabupaten/kota atau pusat. Maka PTM bisa saja berjalan atau diberhentikan sementara. Untuk Kota Depok, menurutnya kesiapan sudah dilakukan, tinggal Pemkot Depok kapan akan melakukan PTM.

Dari 5.333 SMA, SMK, dan SLB  se-Jawa Barat, sekitar 1.295 sudah melakukan PTM. Pastinya,  sudah memenuhi permohonan izin orang tua, dan Satgas di wilayahnya masing-masing. Dia menyebut, kemungkinan data-data tersebut akan bertambah dipekan depan.

Dedi mengatakan, hingga saat ini belum mendapatkan laporan adanya klaster PTM untuk SMK, SMK, dan SLB se-Jawa Barat. Dan akan melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota di Jawa Barat tentang klaster pelajar saat PTM terbatas.

“Karena untuk SMA, SMK, dan SLB belum ada laporan yang masuk. Bisa saja klaster dari SD, SMP, atau Pesantren. Untuk itu, kami harus koordinasi terlebih dahulu,” tuturnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok, M. Supariyono mengatakan, hingga kini belum kembali dilaksanakan rapat khusus dengan Disdik Kota Depok terkait persiapan PTM terbatas.

Dia mengatakan, memang saat ini kasus Covid-19 sudah mulai berangsur menurun, tetapi perlu ingat bahwa ini belum selesai, maka masih sangat perlu waspada. “Saya sejak awal menganjurkan ke Disdik untuk melakukan uji coba PTM, jangan langsung semua,” tuturnya.

Uji coba bisa dilakukan dengan tiap kecamatan di coba PTM untuk satu SD, SMP, dan SMA. Nantinya, setelah tiga bulan bisa dievaluasi. Jika tidak ada peningkatan kasus maka bisa ditambah, setiap kecamatan bisa 10 hingga 20 sekolah yang melakukan PTM.

“Setelah uji coba dan berhasil, maka baru bisa untuk seluruhnya PTM. Karena jangan gegabah langsung semua, kalau sampe terjadi peningkatan kasus kan berat,” jelasnya.

Dia pun memahami, orang tua saat ini sudah merasa lelah mendampingi anak-anaknya melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), tetapi ini perlu difikirkan kembali.  “Sabar itu salah satu solusi, sehingga alangkah lebih baiknya semua lebih bersabar lagi untuk membuka PTM,” tuturnya.

Perlu diketahui, Pemerintah Kota Depok terus menggeber pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi warga. Percepatan vaksinasi ini dilakukan untuk mengubah status Depok dari PPKM Level 3 ke Level 2, selai itu tentunya untuk menciptakan herd imunnity  bagi warga.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana  mengatakan progres vaksinasi di Depok dengan sasaran sejumlah 1.613.557 penduduk, 999.854 (61,97%) sudah mendapatkan vaksin dosis pertama, 569.678 (35,31%) dosis kedua, dan 9.328 (0,58%) dosis ke tiga.  “Kita targetkan cakupan vaksinasi bisa mencapai 100 persen pada Desember 2021 ini,” kata Dadang, Jumat (24/9).

Dia mengungkapkan, bila di rini lebih dalam, vaksinasi ini bisa dibagi menjadi beberapa data capaian seperti Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan 19.478 (175,05%) dosis pertama, 17.868 (160,58%) dosis kedua, 9.309 (83,66%) dosis ketiga. Lansia 60.937 (50,80%) dosis pertama, 42.318 (35,28%) dosis keuda, 0 dosis ketiga. Petugas Publik 362.426 (408,21%) dosis pertama, 196.792 (221,65%) dosis kedua, 13 (0,01%) dosis ketiga. Masyarakat rentan dan umum 497.301 (41,82%) dosis pertama, 266.020 (22,37%) dosis kedua, 6 (0,00) dosis ketiga. Remaja 46.034 (22,51%) dosis pertama, 266.020 (22,37%) dosis kedua, 0 dosis ketiga. Gotong royong 13.677 (0,09%) dosis pertama, 11.880 (0,08%) dosis kedua, 0 dosis ketiga. Ibu hamil 229 (0,02%) dosis pertama, 95 (0,01%) dosis kedua, 0 dosis ketiga. Disabilitas 235 (0,02%) dosis pertama, 113 (0,01%) dosis dua, 0 dosis ketiga.

“Saat ini vaksinasi terus digeber, baik melalui program Gerai Vaksinasi Kota Depok, maupun gerai vaksinasi yang diadakan Kodim 0508/Depok dan Polres Metro Depok,” bebernya. (cr1/tul/dra/rd)

Editor : Fahmi Akbar