DKP3 cek bahan pangan
CEK : Monitoring peredaran pangan yang dijual di pasar dan supermarket.

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok selama 2021, sudah dua kali melakukan monitoring peredaran pangan yang dijual di pasaran. Pemantauan tersebut guna mengambil sampel uji lab.

Kepala DKP3 Kota Depok, Widyati Riyandani mengatakan, monitoring produk pangan bukan hanya hewan sama, tetapi juga sayuran di pasar tradisional maupun modern. Memastikan semua produk itu layak dikonsumsi masyarakat.

Untuk sayuran, apakah terbebas dari pestisida dan zat-zat kimia lainnya atau tidak. Sementara, bahan pangan asal hewan turut diuji lab, mengecek di dalamnya mengandung mikroba atau bakteri berbahaya, jika dikonsumsi manusia.

“Apabila dalam kandungan tersebut ada level yang memang tidak diperkenankan di konsumsi,” terangnya kepada Radar Depok, Rabu (15/9).

Kata Widyati, pemeriksaan dilakukan secara langsung dengan melihat warna daging, bau, dan kekenyalan, termasuk kantong kemasan dan supplier daging di setiap pedagang. Selain melihat kondisi pangan asli hewan di lapak penjualan daging, kami pun memeriksa asal usul daging tersebut jangan sampai didatangkan dari daerah yang masuk blacklist terkait ternak.

Pemeriksaan berupa e-coli, boraks, formalin, uji speies kadang ada daging sapi yang dicampur dengan babi. Kasus yang paling sering ditemukan adalah bakteri, kalau ayam yakni formalin, sementara daging sapi itu boraks.

“Untuk melihat daging layak tidak layak itu bisa dilakukan dengan mata biasa, tapi kalau buat melihat apakah ada bakterinya perlu pengujian lab. Kita monitoring juga jika ada kecurigaan kita lakukan monitoring diluar tiga bulan,” bebernya.

Dikatakannya, pengujian lab dilakukan setahun tiga kali, dan hingga September 2021 pengecekan sudah dua kali digelar. Dengan hasil, baik supermarket maupun pasar tradisional tidak ditemukan bahan pangan tidak layak dikonsumsi masyarakat.

Pengambilan sampel juga dilakukan pada saat lakukan pemotongan hewan di RPH, pemeriksaan yang dilakukan pun sama yaitu ante mortem dan post mortem untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat yang nantinya mengonsumsi bahan pangan asal hewan. Petugas yang melakukan pengawasan ada beberapa tim yang satu timnya terdiri dari dua hingga tiga orang.

“Hasil pengawasan produk hewan kayak formalin tahun ini udah langka, yang masih jadi catatan adalah mikroba, fokus utama kita pengawasan produk pangan hewan di supermarket,” katanya.

Widyati mengungkapkan, bagi hewan yang terindikasi mengandung bakteri maupun virus di dalam tubuhnya, jelas tidak bisa diedarkan. Karena sebelum masuk ke pasar tradisional maupun modern, sudah melalui beberapa proses pengujian kesehatan dan sudah ada rekomendasi dari daerah asal, biasanya sudah ada suratnya bahwa produk pangan hewan ini sudah diperiksa dan di uji.

“Munculnya bakteri dan virus pada hewan bisa ditimbulkan dari pakan yang diberikan misalnya sapi diglongong pada saat daging itu mudah lembek dan mudah tertusuk apapun kan memudahkan bakteri masuk makannya,” ungkapnya.

Selain melakukan pemantauan, pihaknya juga memberikan pembinaan kepada pedagang tentang sertifikasi NKV (Nomor Kontrol Veteriner) yang wajib dimiliki pelaku usaha komoditas PAH. Sertifikat tersebut sebagai jaminan, bahwa produk yang diolah dan dijual telah memenuhi persyaratan keamanan, serta kesehatan dan keutuhan.

“Kalau untuk higienisanitasi kita ada namanya sertfikasi nomor control vertiriner, kalau ada unit usaha produk hewan harus punya sertifikat NKV. Walaupun sudah dapat NKV, unit usaha tersebut terus kita lakukan pengawasan dan pembinaan,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro