ILUSTRASI Cuaca BMKG
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM – Pantas saja Kota Depok diamuk angin puting beliung. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  menyebut hal ini terjadi akibat pola perlambatan angin di sekitar Laut Jawa sebelah utara Jawa Barat. Dan angin tornado masih berpotensi terjadi hingga sepekan kedepan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG wilayah Bogor dan Depok, Indra Gutari mengataktan, hujan dan puting beliung yang terjadi di Depok dikarenakan kondisi transisi pada periode pergantian musim kemarau ke musim hujan.  Berdasarkan analisis kondisi Dinamika Atmosfer terkini Madden -Julian Oscillation (MJO) berada di Samudera Hindia hingga bagian barat wilayah Indonesia, yang berkontribusi terhadap pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Terdapatnya pola perlambatan angin di sekitar Laut Jawa sebelah utara Jawa Barat, pertumbuhan awan konvektif juga dipicu oleh pemanasan menjelang siang hari. Serta didukung kondisi lokal yang cukup kuat yakni indeks labilitas udara dan nilai kelembaban udara (RH) lapisan 850 mb hingga 500 mb yang lembab (60 – 80 %). Sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Bogor dan Depok.

“Berdasarkan citra radar Jabodetabek, tampak bahwa pada pukul 13:46 – 17:46 WIB,  terdapat tutupan awan hujan disekitar Kota Depok. Awan tersebut terbentuk sangat cepat dan intensif, terlihat dari nilai reflektifitas maksimum (50 – 55 dBz) di sekitar Bogor dan Depok terjadi pada pukul 16:50 – 17:22 WIB yang mengindikasikan terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode tersebut,” bebernya.

Dia menambahkan, masyarakat diminta untuk tetap waspada. Sebab, kejadian hujan dan angin puting beliung ini masih bisa berpotensi muncul kembali hingga awal Oktober mendatang. Bertepatan dengan awal masuknya musim penghujan. “Seminggu ke depan masih sangat berpotensi kembali terjadi hujan disertai angin puting beliung,” terangnya.

Dia menjelaskan, Depok sebenarnya sudah masuk periode musim kemarau sejak pertengahan Juni 2021 hingga saat ini. Hanya saja, di tahun ini kemarau di Depok cenderung lebih basah dibanding tahun–tahun sebelumya. “Tahun ini lebih basah gak kering kerontang seperti tahun–tahun sebelumnya lantaran pengaruh Fenomena Global La NINA yang terjadi sejak akhir tahun  2020 sampai Maret 2021,” tutupnya. (dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar