peraturan baru china

RADARDEPOK.COM – Pemerintah China kini sedang mengarahkan budaya anak muda, kesesuaian gender, dan jangkauan teknologi besar. Oleh karena itu, Beijing telah memerintahkan perusahaan raksasa game untuk mengakhiri fokus mereka pada keuntungan dan menghapus konten yang dianggap laki-laki “kewanitaan”. 

Pihak berwenang untuk memperketat regulasi mereka pada sektor teknologi menjadi langkah baru. Alhasil, ini memicu jatuhnya harga saham beberapa nama besar industri.

Dilansir dari AFP, pejabat China pada hari Rabu (8/9) memanggil perusahaan game termasuk Tencent dan NetEase, dua pemimpin pasar di kancah game multi-miliar dolar China, untuk membahas pembatasan lebih lanjut. Mereka telah diperintahkan untuk membatasi waktu bermain anak-anak hingga tiga jam seminggu.

Di antara target baru adalah menghilangkan laki-laki yang kewanitaan. Menurut para ahli, penyebab munculnya pengetatan ini, karena ada kecemasan di kalangan pemimpin Partai Komunis generasi tua yang konservatif.

Dalam beberapa hari terakhir, regulator telah memerintahkan penyiar untuk tidak lagi menggunakan “gaya abnormal” seperti pria “banci”, menyerukan representasi yang lebih maskulin dalam pemrograman.

Rabu malam, kantor berita resmi Xinhua melaporkan dekrit terbaru terhadap game.

“Konten cabul dan kekerasan yang menumbuhkan kecenderungan tidak sehat, seperti pemujaan uang harus dihapus,” katanya.

Pihak berwenang memperingatkan perusahaan yang melanggar aturan akan dihukum.

“Target tersebut didorong oleh persepsi di kalangan masyarakat bahwa laki-laki banci secara fisik lemah dan rapuh secara emosional,” kata profesor Universitas Hong Kong Geng Song, dengan kesimpulan bahwa laki-laki ‘feminin’ tidak dapat membela negara.

Pembicaraan regulasi terbaru kian mengetatkan pengawasan pada perusahaan raksasa teknologi di pasar game. Selain melepaskan diri dari fokus pada keuntungan dan mendapatkan penggemar, bisnis game juga diminta untuk “mengubah aturan dan desain game yang menyebabkan kecanduan”, kata Xinhua. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya