Ilustrasi

Menurutnya, dalam penangkapan kali ini Tim Densus menyasar pengurus teras JI selaku organisasi teror yang masih aktif di Indonesia. Setelah Juli lalu berhasil mengungkap sistem pendanaan kelompok JI dengan menangkap tersangka yang terlibat.

Ketiga terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Jumat ini merupakan jajaran pengurus pusat atau Markaziyah Jemaah Islamiyah (JI). “Beberapa orang dari kelompok ini sepertinya memang tidak mengalami penjeraan, sebagian yang pernah ditangkap ternyata tidak menghentikan kegiatannya,” ucap Aswin.

Terduga MEK terlibat dalam JI sebagai staf Qodiman Barat pada 2011 yang bertugas untuk mengurus personal dan non-struktural organisasi. Selain itu, MEK juga merupakan ketua Pengurus Perisai Nusantara Esa tahun 2017 dan Ketua Pembina Perisai tahun 2020. “Perisai merupakan sayap organisasi Jemaah Islamiyah dalam bidang advokasi,” kata Aswin.

Sedangkan terduga S alias MT adalah anggota fundraising Perisai pada tahun 2018, Pembina Perisai Nusantara Esa tahun 2020 dan anggota Tholiah Jabodetabek saat kepemimpinan Hari. Terduga lainnya yang ditangkap adalah SH, merupakan salah satu anggota Dewan Syuro Jemaah Islamiyah yang pernah mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina Selatan. SH diketahui pernah memberikan infak sebesar Rp40 juta pada tahun 2013-15 kepada Patria melalui Sholeh Habib yang telah tertangkap dalam operasi sebelumnya.

“Dalam penyelidikan terungkap bahwa SH juga merupakan anggota Pembina Perisai pada tahun 2017,” ujar Aswin.

Aswin mengatakan, Jamaah Islamiyah salah satu organisasi teror terlarang yang masih aktif bergerak di bawah permukaan. Belakangan ini kelompok JI terindikasi berusaha melakukan transformasi ke berbagai gerakan normatif, salah satunya pendidikan dan ranah politik.

Tim Densus 88, kata Aswin, tidak pernah melonggarkan operasinya di berbagai daerah terkait jaringan teroris yang terus berusaha untuk melakukan berbagai persiapan aksinya. Upaya pencegahan dan penindakan terorisme akan makin kuat apabila didukung peran serta masyarakat untuk tidak memberikan ruang bagi pelaku-pelaku teror tinggal di wilayahnya.

“Kami pihak kepolisian tidak bisa bergerak sendirian, harus ada peran aktif dari masyarakat untuk selalu melakukan gerakan penolakan secara masif terhadap kelompok radikal ini, setidaknya dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” tutur Aswin. (rd)

Editor : Fahmi Akbar