banjirrr
NIKMATI: Beberapa anak tengah bermain  genangan air banjir, di Perumahan Taman Duta, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya beberapa waktu lalu. FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Sebelum bencana di Kota Depok datang. Pemerintah kota (Pemkot) sudah sedia payung sebelum hujan. Apalagi, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) mewanti-wanti akan datangnya curah hujan tinggi pada awal September 2021.

Kepala Dinas Pengerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok, Dadan Rustandi mengatakan, secara rutin Satgas Banjir Bidang Sumber Daya Air (SDA) melakukan persiapan menghadapi datangnya suatu bencana. Seperti normalisasi dan pengangkutan sampah di situ, sungai, dan drainase serta menambah personel di piket harian dan hari libur hingga pemeliharaan rutin turap.

Beragam sarana dan prasarana yang dimiliki DPUPR Kota Depok. Diantaranya delapan alat berat terdiri dari eksavator besar maupun kecil, hingga spider.

“Kemudian ada dua pompa mobile serta empat perahu karet. Mengenai penambahan personel ini misalnya yang biasa piket empat orang kini menjadi enam orang,” ujarnya kepada Radar Depok, Rabu (1/9).

Dadan menyebut, jumlah Satgas Banjir yang dimiliki Bidang SDA sebanyak 170 petugas. Dan dibagi menjadi bagian administrasi serta petugas lapangan yang siap siaga bila dibutuhkan di 11 kecamatan.

“10 petugas di Administrasi dan 160 petugas di lapangan. Kami bekali juga mereka saat tugas dengan rompi apung jika sewaktu-waktu terjun langsung dalam bencana banjir,” tambahnya.

Adapun, lanjut Dadan, Kota Depok memiliki beberapa lokasi yang berpotensi terjadi banjir dan longsor jika curah hujan tinggi. Untuk banjir, biasanya terjadi di daerah cakungan Bukit Cengkeh, dekat Fly Over Arif Rahman Hakim, Jalan Dewi Sartika, Kampung Utan, Pinggiran aliran sungai, sepanjang outlet Situ Cilodong, Graha Studio Alam, Perumahan Mekar Persana, Seputaran Margonda, dan Perumahan Bumi Sawangan Indah (BSI).

Kemudian, potensi bencana longsor ada di Sempadan Kali Ciliwung, Sempadan Kali Baru Cabang Tengah dan Cabang Barat, Kali Pasanggerahan, Kali Angke. Lalu daerah dengan dataran tinggi misalnya Pesona Khayangan.

Dalam penanggulangan bencana, hal pertama yang dilakukan adalah mengecek masalahnya apa. Kalau misalkan longsor akibat turap, antisipasi pertama bisa dengan bronjong atau karung lalu akan dibangun tanggul kembali. Jika banjir berlangsung lama, kami gunakan pompa mobile untuk menyedot genangan air. “Penanggulangan secara rutin misalkan mengamankan badan air berkaitan kali atau sungai serta membangun turap dinding penahan tanah menjadi tebing,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok, Deny Romulo Hutahuruk menerangkan,  70 petugas siap dan tanggap bila bencana datang. Adapula beberapa sarana dan prasarana, contohnya perahu, pompa, tali, alat selam, pacul, linggis, dan alat rescue.

“Kami sifatnya mengevakuasi seperti ada angin puting beliung, pohon tumbang, banjir, dan lain-lain,” singkatnya.

Terpisah, Ketua Bidang SDM Taruna Siaga Bencana (Tagana), Dinas Sosial Kota Depok, Muhammad Romdoni mengungkapkan, monitoring titik titik bencana acapkali dilakukan untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem bersama 39 orang personel lainnya di Kota Depok. Pihaknya siap berkolaborasi dan ikut komando dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok.

“Tupoksi utama kami yakni assessment dan penanganan penyintas atau korban bencana, membuat posko banjir, logistik, psikososial dan dapur umum,” ucapnya.

Dalam menunjang hal tersebut, Tagana memiliki satu unit perabu karet dan dua senso atau gergaji mesin untuk memotong pohon, serta tenda pengungsian juga tenda keluarga 5 unit. (daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar