wakil pantau vaksinasi
TINJAU: Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono saat meninjau vaksinasi pelajar di SMPN 3 Depok, Senin (6/9). ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan menyelenggarakan simulasi menjelang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Dijadwalkan, selama dua hari Selasa-Rabu (28-29/9) seluruh Sekolah Dasar dan enam Sekolah Menengah Pertama (SMP) diuji coba. Setiap satuan pendidikan yang menggelar uji coba, harus mematuhi protokol kesehatan (Prokes) mulai dari datang hingga sampai ke rumah.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Wijayanto mengatakan, sebelum mencetuskan simulasi menjelang PTMT. Pihaknya sudah menggelar monitoring kepada seluruh sekolah dari jenjang TK sampai SMP negeri maupun swasta, selama 20 hari.

Kemudian, dilanjutkan dengan rapat evaluasi bersama Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, guna menyusun timeline persiapan tersebut.

“Sesuai agenda persiapan PTMT, kami akan menyelenggarakan simulasi selama dua hari berturut-turut pada Selasa dan Rabu mendatang. Dari monitoring, seluruh sekolah bisa dikatakan sudah siap,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Minggu (26/9).

Wijayanto menyebut, Disdik bersama KCD akan mengundang seluruh satuan pendidikan di tingkat TK, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, sampai SMA untuk mengikuti sosialisasi mengenai simulasi PTMT.

“Besok (hari ini) jam 8 pagi, secara virtual kami mengundang satuan pendidikan terkait masalah peraturan walikota (Perwal) mudah-mudahan sudah disahkan,” bebernya.

Pola simulasi juga akan dibeberkan pada sosialisasi tersebut. Mulai dari bagaimana siswa datang ke sekolah diantar oleh orang tua, memasuki sekolah harus diukur suhu tubuh.

Lalu situasi proses belajar mengajar yang dibatasi dengan jumlah rombongan belajar (rombel), hingga siswa pulang ke rumah baik dijemput ataupun tidak. Peran wali kelas sangatlah penting untuk memantau, agar siswa tidak bermain. Dan berkerumun ketika pulang sekolah serta langsung pulang ke rumah masing-masing.

“Setelah sosialisasi nanti, diharapkan setiap sekolah mempersiapkan sosialisasi kepada keluarga besar sekolah baik berupa video, pamflet, maupun brosur ke orang tua siswa,” katanya.

Terkait pelaksanaan simulasi PTMT untuk jenjang SMP. Rencananya akan dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Barat, Tengah, dan Timur dengan masing-masing satu sekolah negeri dan swasta, misalnya saja di Timur adalah SMPN 4 Depok dan SMP YAPPA, Tengah yakni SMPN 5 dan SMP AL-Muhajirin, dan Barat SMPN 18 dengan SMP AL-Hasra.

“Lalu kami bagi harinya, contoh di hari Selasa tiga sekolah, dan Rabu tiga sekolah sisanya. Terus kami minta untuk satuan pendidikan di atas agar mendokumentasikan kegiatan belajar mengajar, jika bagus bisa menjadi contoh sekolah lainnya,” katanya.

Sementara, pada jenjang satuan pendidikan jenjang SD. Diinstruksikan agar seluruhnya melaksanakan simulasi PTMT berdasarkan sosialisasi yang akan digelar Senin (27/9), dan mematuhi pola-pola pembatasan.

Bila simulasi tersebut sudah dilakukan. Tentunya Disdik bersama stakeholder akan melakukan evaluasi simulasi PTMT untuk menyiapkan pelaksanaannya pada Senin (4/9) mendatang. Simulasi nanti tidak menghadirkan seluruh siswa di sekolah. Tetapi hanya kelas tingkat tinggi dan rendah saja, contohnya di SD hanya kelas 1 dan 6 diisi dalam kelompok kecil 15 siswa. “Sementara SMP, hanya diisi oleh Kelas 9 yang juga dibagi kelompok kecil karena mereka sudah punya pengalaman belajar offline sebelum pandemi,” tuturnya.

Namun, jika nantinya ternyata timbul klaster Covid-19 akibat pelaksanaan PTMT. Maka, kegiatan belajar mengajar langsung dihentikan dan sekolah dilakukan penguncian total atau lockdown selama satu pekan.

“Maka dari itu, pentingnya setiap sekolah memiliki Satgas Covid-19. Supaya, bisa berkomunikasi jika satu sekolah kedapatan siswanya kontak erat dengan orang terkonfirmasi positif, lalu diambil tindakan bersinergi dengan kelurahan, kecamatan, dan puskesmas setempat,” ucapnya.

Terpisah, Pakar Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono menuturkan, pelaksanaan PTM dengan lebih dari 10 siswa sangatlah berisiko menimbulkan klaster baru. Menurutnya, pemerintah tidak serius dalam menerapkan pembelajaran offline tersebut.

“10 orang atau lebih dari 10 orang saja berkumpul di kelas, kemungkinan akan terjadi peningkatan lagi. Pemerintah harus serius melakukan survei di awal, kemudian tatap muka, dan mengevaluasi pelaksanaan,” katanya.

Pemerintah khususnya, Kota Depok harus memperbaiki kontak tracing dan angka testing terlebih dahulu. Khawatir, bila sewaktu-waktu betul-betul terjadi klaster baru Covid-19, siapa yang akan bertanggung jawab.

“Tapi menurut saya itu saja gak cukup kalau tidak punya data. Tenaga kesehatan saja sudah divaksin dua kali dan prokes ketat, tetap saja terpapar. Apalagi anak-anak terutama TK, PAUD dan SD yang belum divaksin, kalau ada yang meninggal siapa yang akan bertanggung jawab?,” tandasnya. (daf/rd)

Fakta dan Data Simulasi PTMT:

Jadwal :

  • Selasa-Rabu (28-29/9)

Sekolah:

SMP :

  • Timur : SMPN 4 dengan SMP YAPPA
  • Barat : SMPN 18 drngan SMP AL-Hasra
  • Tengah : SMPN 5 dengan SMP AL- Muhajirin

SD :

  • Seluruh Sekolah

Mekanisme:

SMP :

  • Hari pertama tiga sekolah
  • Hari Kedua tiga sekolah
  • Hanya kelas 9 yang masuk dan dibatasi 15 orang

SD :

  • Hanya kelas 1 dan 6 diisi dalam kelompok kecil 15 siswa.

Indikator selama Simulasi :

  • Mulai dari bagaimana siswa datang ke sekolah diantar oleh orang tua
  • Siswa memasuki sekolah harus diukur suhu tubuh.
  • Proses belajar mengajar yang dibatasi dengan jumlah rombel
  • Siswa pulang ke rumah baik dijemput ataupun tidak

Sebelum Simulasi :

  • Disdik bersama KCD sosialisasikan satuan pendidikan

Sarpras Satuan Pendidikan :

  • Protokol Kesehatan
  • Membentuk Satgas Covid-19

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar