gerakan anak negeri
EKSPEDISI JAWA-BALI : Inisiator Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu bersama rombongan di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, Rabu (15/9). Desa ini merupakan desa terbersih di dunia.

Perjalanan tim Gerakan Anak Negeri, berlanjut. Setelah bersua dengan pesisir pantai dan deburan ombak, kini berganti dengan dataran yang lebih tinggi. Rombongan menyambangi Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Rabu (15/9). Inilah desa terbersih di dunia. Selain Desa Giethoorn di Belanda, dan Desa Mawlinnong di India. Penglipuran juga termasuk dalam Sustainable Destinations Top 100, versi Green Destinations Foundation.

Laporan: Imam Rahmanto

RADARDEPOK.COM, Tidak berlebihan memang jika desa ini mendapat predikat terbersih di dunia. Tata letak bangunan rumah berjejer dan presisi. Halaman rumah bersih tanpa satu pun sampah. Rombongan Gerakan Anak Negeri yang baru tiba dibuat terkesima. “Saya kira baru ditata. Ternyata, kebersihannya sudah turun-temurun,” ujar Inisiator Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu.

Jauh sebelum menjadi desa terbersih di dunia, Desa Penglipuran sudah lama menyandang status desa lestari. Pada 1995, Penglipuran mendapat penghargaan Kalpataru atas upaya warga menyelamatkan lingkungan.

Komitmen menjaga lingkungan itu dipertahankan hingga sekarang. Pelancong yang berkunjung, dilarang membawa masuk kendaraan di dalam desa. Mau tidak mau mesti berjalan kaki menyusuri tapak demi setapak.

Menikmati keindahan Desa Penglipuran memang lebih baik dengan jalan kaki. Berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat kawasan desa adat itu sangat sejuk. Rombongan Gerakan Anak Negeri betah berlama-lama.

Sama halnya dengan tempat wisata lain di Bali, pandemi sangat berdampak bagi desa ini. Kunjungan wisata ditutup selama masa PPKM. Para wisatawan, baru bisa menikmati kembali Penglipuran, seminggu lalu. Meski begitu, baru beberapa orang saja yang terlihat menyambangi desa dengan 77 rumah tersebut.

Para warga Desa Penglipuran juga sangat leluasa menjalani aktivitasnya. Beberapa bahkan menawari pelancong untuk masuk ke rumahnya. Mereka menawarkan buah tangan khas Bali. Hazairin yang juga CEO Radar Bogor Group sempat menjajal masuk ke dalam rumah warga.

Perbincangan hangat pun dilakukan. Empu pemilik rumah memperkenalkan tiga bangunan wajib yang harus ada di setiap rumah warga Penglipuran. Yakni: dapur dengan model rumah bambu, ruang tamu semacam balai-balai hingga sangga (tempat sembahyang).

Warga Penglipuran memang sangat memegang teguh ada istiadatnya. Sesuai dengan nama desanya: “Penglipuran”. Berasal dari isitilah Pengeling dan Pura yang bermakna mengingat tempat para leluhur (tempat suci). “Selain desa terbersih, desa ini juga ternyata sudah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya, yang paling prestisius, Sustainable Destinations Top 100,” kata pria yang akrab disapa Bang HS itu. Dalam kesempatan tersebut, Hazairin juga memborong salah satu suvenir penutup kepala khas Bali, Udeng. (mam/c)