mobil digelapkan janda
GELAPKAN MOBIL : Jajaran 40 unit mobil hasil penggelapan dari berbagai merk telah berhasil diamankan Polres Metro Depok, Rabu (15/9). FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Skema yang diterapkan komplotan ini sungguh ciamik. Bayangkan dalam dua bulan, janda Dona Deliana (DD) yang mendalangi penggelapan mobil berhasil menipu pengusaha rental sampai 40 unit mobil. Aksi tipu-tipunya pun di wilayah Depok, Bekasi, hingga Karawang. Rabu (15/9) jadi hari apes bagi lima sekawan, kelimanya dijejerkan Polres Metro (Polrestro) Depok diperkenalkan kepada publik sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Yusri Yunus menerangkan, Satuan Reskrim (Satreskrim) Polres Metro Depok menangkap kompolotan spesialis penggelepan dengan modus rental. Aksi ini, didalangi seorang janda warga Harjamukti Kecamatan Cimanggis Kota Depok.

“40 unit yang berhasil diamankan, modusnya dengan berpura-pura menyewa mobil, lalu digelapkan,” terangnya yang didampingi Kapolres Metro Depok, Kombes Imran Siregar dan Kasatreskrim Polres Depok AKBP Yongen.

Kejahatan ini berhasil diungkap, setelah seorang warga yang menjadi korban berinisial T mengaku mobil jenis Innova disewa pelaku DD. Namun tidak pernah dikembalikan, hingga akhirnya lapor ke Polres Depok. Tim Resmob yang dipimpin AKBP Yogen melakukan pelacakan.

Yusri melanjutkan, atas laporan tersebut, petugas langsung melacak keberadaan pelaku yang menjadi dalang kejahatan ini, dan berhasil meringkus di kawasan Cimanggis. Setelah itu, dilakukan pengembangan hingga berhasil menggarap empat pelaku lainnya, yang menjadi kaki tangan dalam kasus ini.

“Mereka yaitu Angga, Bambang, Nemit dan Nasep,” ungkapnya kepada Harian Radar Depok, di halaman Polres Metro Depok.

Yusri merinci, para pelaku melancarkan aksinya dengan bergerilya di tiga kota, yakni Depok, Bekasi, Karawang, dengan cara berpura-pura sewa mobil tapi tidak dikembalikan, justru di bawa lari dan di jual tanpa BPKB.

Dari hasil pemeriksaan dan penyidikan. Ternyata ke lima komplotan tersebut beraksi sejak Juli 2021 lalu dan telah berhasil menggelapkan sekitar 40 unit mobil berbagai merek.

Di lokasi yang sama, Kasat Reskrim Polres Depok AKBP Yongen membeberkan, seluruh mobil dijual dengan harga murah, agar cepat terjual. Harganya berkisar Rp60 juta hingga Rp70 juta dengan surat kendaraan hanya berupa STNK.

“Kalau dipasaran harganya Rp200 juta. Yang diambil pelaku berbagai merek mobil,” bebernya.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan jika pembeli yang menerima dengan harga murah dapat dijadikan penadah dalam kasus tersebut. Namun, pihaknya masih terus melakukan pendalaman kasus ini.

Dia pun berharap, agar masyarakat juga turut serta membantu polisi dalam menyerahkan mobil yang telah di beli dengan harga murah dari pelaku,. Sebab hal ini akan membantu percepatan pengembangan.

“Bisa saja yang beli ikut terseret karena menjad penadah, sebab harga mobil yang di beli jauh dari harga pasaran,” tegas Yogen.

Sementara, salah satu korban berinisial Ida Rosida menambahkan, mobilnya di sewa pelaku sejak Juni, yang setiap bulannya Rp5 juta. Namun pembayaran tidak langsung dilakukan di awal saat pinjam atau ambil mobil, begitu juga bulan kedua peminjaman.

“Sewanya kontrak sampai 6 bulan, setiap bulan Rp5 juta. Saya puji syukur pada Allah atas penangkapan ini,” ungkapnya haru saat dihadirkan rilis penggelapan mobil rental.

Kembali dijelaskan korban, pada bulan kedua peminjaman, sudah ada rencana pengambilan kembali mobil tersebut, karena pembayarannya macet dengan berbagai alasan, rapat, sibuk, dan urusan lainnya.

Namun, penarikan mobil tidak terjadi karena pelaku berjanji akan membayar melalui rekening. Tepatnya pada 3 September, tapi belum melakukan pembayaran pelaku telah ditahan Satreskrim Polres Metro Depok. “Saya kenalnya dari adik iparnya, yang memang persis di depan rumah kita,” jelas korban saat dikonfirmasi.

Korban tidak menyimpan curiga, sebab adik ipar yang menjadi tetangganya tidak pernah melakukan kejahatan atau aktifitas mencurigakan sehingga percaya. Pelaku menyewa mobil korban untuk alasan kebutuhan proyek, karena pelaku mengaku sebagai kontraktor. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar