Ketua MUI Depok KH Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Problem yang banyak dihadapi oleh manusia di zaman modern sekarang ini adalah kebingungan menentukan peran hidupnya. Dan hal ini tidak sedikit yang dialami oleh banyak orang, baik orang yang beragama dengan baik maupun yang beragama hanya sekedar ikut-ikutan. Hal ini disebabkan oleh karena banyak yang menjadikan dirinya sebagai objek. Tidak atau kurang memerankan dirinya sebagai pelaku dalam pengembangan hidup ini. Padahal manusia telah dibekali oleh Tuhan dengan berbagai perangkat dan alat untuk menjalani hidup di dunia. Di samping memiliki fisik yang sempurna (fie ahsani taqwim) juga dibekali akal pikiran dan hati.

Dengan fisik yang sempurna semestinya bisa memikul beban yang berat yang menjadi beban dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan dengan akal pikiran seseorang bisa menentukan atau lebih kreatif dalam memilih jalan-jalan hidup yang tersedia. Demikian juga dengan hati bisa menentukan motivasi yang seharusnya ditentukan untuk kompas jalan. Rasulullah saw. sudah mengantarkan arahan hidup kita dengan sabdanya yang terkenal itu : “Innamal a’malu bin niyaat,” sesungguhnya (keberhasilan) suatu pekerjaan tergantung pada niat (motivasi) nya. Sehingga apapun yang diraih dalam setiap usaha manusia sangat bergantung pada motivasi hidupnya.

Maka dari itu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, sering menimbulkan kecemburuan. Padahal seharusnya menjadi cambuk dan modal bagi dirinya untuk lebih meningkatkan usaha dan kreatifitasnya. Agar tidak hanya mengedepankan sikap iri atau cemburu. Tapi sebaliknya agar keberhasilan orang lain dapat mendorong dirinya mencontoh untuk sukses atau lebih sukses. Maka di situlah peran ayat Al-Qur’an yang mengajarkan kepada kita agar berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairaat). Berlomba untuk menjadi lebih baik, dengan cara dan kekuatan lahir batin yang dimiliki.

Dari situ maka dapat diambil pelajaran bahwa peran manusia di muka bumi adalah menjadi pelaku (Subjek) bukan menjadi objek. Sehingga apapun yang dikerjakan dapat diarahkan ke mana dia akan berjalan dan apa yang akan diraih. Tentu semua orang menghendaki bahagia di dunia maupun di akhirat. Dari tujuan itu lalu ditarik ke belakang tahap demi tahap. Pertama adalah menentukan usaha apa yang dilakukan yang bisa mendatangkan hasil yang gemilang. Yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan pangan, papan, sandang dan kebutuhan lainnya. Baru setelah itu menentukan kemanfaatan fasilitas yang dimiliki. Misal mempunyai rumah, apakah hanya sekedar tempat tidur atau menjadikan rumah benar-benar sebagai tempat yang nyaman untuk hidup keluarga dan orang-orang yang berjunjung kepadanya.

Kalau mempunyai kendaraan apakah bisa mengantarkan dirinya ke tempat-tempat yang baik atau sebaliknya digunakan untuk berjalan ke tempat-tempat maksiat. Semua itu tergantung pada motivasi yang muncul dari dalam dirinya. Dan peran hati itulah yang sangat dominan dalam menyetir kemanfaatan harta benda yang dikuasai. Karena harta yang dimiliki pada dasarnya adalah amanat yang diberikan oleh Tuhan untuk dipakai selama menjalani hidup. Begitu habis masa tugasnya di muka bumi, maka harta itu pun berhenti fungsi-fungsi yang telah ditentukan selama hidupnya.

Dengan demikian apapun yang dilakukan oleh manusia hendaknya diarahkan kepada jalan yang terbaik menurut aturan Tuhan. Bukan terbaik menurut aturan kita. Dan karena kita yang menjalankan peran tersebut, maka kita sesuaikan dengan kehendak kita sendiri yang tentunya kehendak yang diridlai. Maka jika kita sudah bisa menentukan arah perjalanan kita, berarti kita sudah berperan sebagai subjek. Dan pantang menjadi beban hidup orang lain. Dan itulah dalam istilah keseharian kita; jadilah mental muzakki (pemberi), dan jangan menjadi mental mustahik (penerima). Hal inilah yang dianjurkan Nabi saw. bahwa Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah “(al-yadul ‘ulya khairun minal yadis sufla).” Seandainya saja masyarakat kita ini semua atau mayoritas bermental Subjek, maka insyaAllah tidak akan menjadi beban berat Negara. Tapi justru menjadi penopang pembangunan Negara. Wallahu a’lam.(rd)

Editor : Fahmi Akbar