boks pinjol
KORBAN PINJOL : Ahmad Saputra alias Aput saat nongkrok di komplek dekat rumahnya. FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Fenomena pinjaman online (Pinjol) seperti dua sisi mata uang bagi masyarakat. Kehadiran pinjol menjadi angin segar bagi masyarakat yang sedang membutuhkan suntikan dana segar dalam waktu yang cepat, dan proses yang mudah. Tapi, jika tidak menyanggupi klausul dalam perjanjian, masyarakat akan menanggung konsekwensi berat.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

Pinjol saat ini sangat marak di Indonesia, beberapa peruasahaan besar bersaing mendapatkan nasabah, dengan menawarkan kemudahan proses peminjaman kepada calon nasabahnya. Pada dasarnya, pinjol hadir demi memudahkan transaksi pinjam uang di masyarakat. Akan tetapi ada juga beberapa oknum pengusaha pinjol nakal yang memanfaatkan momen ini untuk ‘mencekik’ nasabah lewat bunga dan denda yang besar. Melebihi ketetapan undang – undang Perbankan dan pada umumnya mereka tidak terdaftar dalam lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indionseia (RI).

Radar Depok menyambangi seorang pria bernama Ahmad Saputra di sekitar kawasan rumahnya Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Cilodong. Pria yang akrab disapa Aput ini baru saja pulang dari tempat kerjanya.

Aput yang berprofesi sebagai Office Boy di sebuah showrum mobil di Kota Depok ini mengaku, pernah terjerat pinjol sekitar dua tahun yang lalu.  Pada saat itu, Aput yang masih pengangguran belum mengerti apa itu pinjol. Suatu hari salah seorang teman sepermainanya di rumah bernama Junet mendatangi rumahnya. Kedatangannya untuk meminjam data pribadi Aput untuk dijadikan jaminan pinjol.

“Temen saya ini sebenarnya kerja sebagai sekuriti, tapi hobinya itu judi online. Nah karena dia kalah terus gajinya habis, terus memohon ke saya untuk mau meminjamkan data dan menjadi penjamin untuk pinjol dia,” kata pria yang kala itu nongkrong di portal komplek dekat rumahnya.

Aput yang masih lugu dan polos, mau saja menerima permintaan temannya. Dengan sigap temannya meminta gawai milik Aput lalu mendownload aplikasi Akulaku. Lalu data diri Aput beserta NIK nya dimasukan ke dalam aplikasi dan tak lupa Aput juga diminta untuk berswafoto. “Saya kan gak ngerti tuh apa pinjol, jadi saya disuruh selfie ya nurut aja,” ucapnya.

Benar saja, hari itu juga pinjaman sebesar Rp700 ribu masuk  ke rekening Aput. Klausul dalam pinjaman tersebut, Aput diharuskan membayar tagihan pinjaman dalam jangka sebulan Rp760 ribu. “Pada saat pinjaman pertama itu, si Junet komitmen, dia langsung bayar dan lunas,” terangnya.

Selang beberapa minggu, Junet kembali mendatangi Aput untuk meminjam kembali akun Akulakunya untuk kembali melakukan pinjol. Jumlah yang diajukan ke pinjol masih sama yaitu Rp700 ribu. Sebab, dalam aturan Akulaku yang dikatakan Aput, untuk pinjaman pertama sampai ke tiga maksimal hanya boleh Rp700 ribu baru setelahnya bisa meminjam di atas satu juta.

Namun, yang jadi pembeda pada pinjaman ke dua ini, Aput juga ikut andil meminjam Rp200 ribu, sehingga Junet hanya menerima Rp500 ribu. Saat itu dia merasa terdesak dan membutuhkan uang, untuk biaya operasional mencari kerja sehingga dia mau tak mau nebeng ke pinjaman Junet.

Akan tetapi, pada pinjaman ke dua ini, Junet mengkhianati Aput. Junet mangkir dan sama sekali tidak mau membayar tagihan yang sudah jatuh tempo. “Saya sebenarnya mau bayar hutang saya, tapi kan dia enggak. Masa saya yang naggung semuanya, saya ga punya duitlah,” ujarnya.

Tak mau ambil pusing, Aput pun menghapus aplikasi tersebut dari gawainya. Dia mengaku tidak ada tagihan ataupun depkolektor yang datang kerumahnya, lantaran dia melakukan wanprestasi. Tetapi dia yakin, datanya sudah di blacklist dari aplikasi tersebut.

“Pas di Akulaku sih gak ada yang datang atau neror yah, saya memang sama sekali gak bayar karena gak ada uang saya saat itu. Tapi saya yakin udah gak bakal bisa minjem lagi di Akulaku,” sesalnya.

Akan tetapi selang beberapa bulan kemudian, Aput pun mempunyai niat untuk mencari pinjol sendiri. Aplikasi pinjol yang dia pilih saat itu adalah Modal Nasional. Alasan pinjaman, untuk biaya operasionalnya dalam bekerja. Kebetulan saat itu dia diterima bekerja menjadi office boy di tempat kerjanya saat ini, namun saat itu statusnya masih pegawai outsorching. “Di Modal Nasional saya pinjam Rp1.200.000, buat pegangan saya, karena saya udah kerja,” bebernya.

Jangka waktu pinjaman yang dia ambil sama seperti yang sebelumnya, yaitu satu bulan pinjaman. Namun nasib malang kembali menerpanya, uang gajinya terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya.

“Saya kan tinggal sama mbah saya dan adik saya serta ayah saya. Ibu saya sudah meninggal, sedangkan ayah saya kerja gak kerja, dan adik masih sekolah, jadi gaji saya sepenuhnya untuk kebutuhan hidup keluarga lah, sampai gak bisa bayar pinjaman,” kenangnya.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada itikat baik dari Aput. Setelah jatuh tempo lewat, deptkolektor dari Modal Nasional menghubungi Aput melalui Whatsapp untuk menagih hutangnya. Aput menjawab pesan tersebut dan mengatakan baru sanggup untuk membayar bunga pinjamanya sebesar Rp200 ribu, dan pihak aplikasi pinjol tersebut mengiayakannya.

“Saya bilang saya lagi gak punya duit, saya cuma sanggup bayar bunganya aja Rp200 ribu, nah si depkolektornya mengiyakan,” imbuhnya.

Setelah mentransfer pembayaran bunga ke rekening yang diberikan deptkolektor, Aput pun mengecek status pinjamannya di aplikasi tersebut. Akan tetapi Aput merasa terkejut, lantaran status pinjamannya tidak berubah sama sekali, masih tetap sama seperti sebelumnya. Pembayaran bunga yang dilakukan tidak mengurangi nominal kewajiban pembayaran hutangnya.

Dia sempat menghubungi deptkolektor itu untuk menanyakan kenapa status pinjamannya tidak berkurang. Padahal dia sudah bayar Rp200 ribu. Namun, tidak ada jawaban yang diterima  Aput. Di situ dia merasa jengkel dan memutuskan untuk lari dari tanggungjawabnya dan menghapus aplikasi pinjolnya itu.

“Sampai tiga bulan saya diemin itu deptkolektor. Mereka menghubungi beberapa orang di kontak saya, seperti teman saya termasuk bapak saya untuk meminta saya melunasi hutang saya,” ucapnya.

Beruntungnya, deptkolektor tersebut tidak menghubungi pihak manajemen perusahaan tempat Aput bekerja, karena nomor mereka ada di gawai miliknya. Pelarian Aput tidak semulus aplikasi Pinjol sebelumnya.

Pada suatu hari, sepulang kerja dia dipanggil dua orang tidak kenal saat hendak masuk gang rumahnya.  “Kan kalau saya ada yang manggil siapa aja pasti saya tengok, nah dua orang deptkolektor ini manggil saya pas saya lagi bawa motor. Aput katanya, nah saya nengok, terus motor saya disetop. Ternyata mereka deptkolektor dari aplikasi pinjol,” tuturnya.

Dua orang deptkolektor ini mengenakan pakaian rapih dan berbadan tegap. Mereka menghampiri Aput dan menghardiknya untuk melunasi hutangnya. Aput yang merasa kaget sekaligus malu dilihat tetangganya pun sempat bersitegang dengan mereka.

“Mereka sempat ngegas ke saya supaya saya mau bayar utang, ya saya gas balik aja sabar mas gak gini caranya. Kita omongin baik–baik di rumah mbah saya,” pintanya pada deptkolektor.

Setelah tiba dirumah mbah Aput, kesepakatan pun tercapai. Aput baru menyanggupi untuk membayar sebagian hutangnya, lantaran gajinya masih terpakai untuk kebutuhan hidup mereka.  “Nah di situ saya bayar mereka Rp500 ribu, akhirnya mereka setuju dan langsung pergi, kayaknya mereka mau nagih lagi ke temen saya si Junet dia minjem juga di situ,” tuturnya.

Proses penagihan ini akhirnya bisa selesai dalam tempo tiga bulan setelah dia didatangi deptkolektor. Bayar tiga kali, pertama yang di cegat Rp500 ribu, lalu bulan berikutnya Rp500 ribu, nah di bulan ke tiga bisa bayar Rp300 ribu. “Mereka gak marah dan pergih. Pas saya cek aplikasi nama saya dan status pinjaman saya sudah dinyatakan lunas. Bahkan saya ditawarin buat minjem lagi,” ujarnya.

Aput mengaku, tidak mau lagi menggunakan pinjol lantaran sudah kapok dengan kejadian yang menimpanya. Dia lebih memilih untuk bekerja keras dan hidup hemat daripada  harus kembali menjadi buruan deptkolektor.  “Gak lagi deh, udah cukup deg-degannya dicari dan diteror, lebih baik saya cari kerjaan sampingan atau nabung aja,” pungasnya. (dra/rd)

Editor : Fahmi Akbar