ultah kood
TINGKATKAN BUDAYA : Walikota Depok, Mohammad Idris (baju putih, kiri) saat menerima potongan nasi tumpeng dari Ketua KOOD KH Ahmad Dahlan, saat perayaan HUT KOOD ke 21 di K3D, Jalan Margonda Raya, Rabu (29/9).

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Menginjak usia remaja : 21 tahun. Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD) akan fokus mengurusi seni, budaya, dan mengedukasi warga Depok untuk merawat dan melestarikan bahasa para leluhur, yaitu bahasa asli Depok.

Dengan ulang tahun yang ke-21 ini saya berkeinginan agar Bahasa Depok bisa menjadi mata pelajaran di Kota Depok. Saya akan mencetak kamus bahasa Depok sebanyak 300 halaman,” kata Ketua Umum KOOD, KH Ahmad Dahlan, saat perayaan HUT KOOD ke 21 di K3D, Jalan Margonda Raya, Rabu (29/09).

Menurut Dahlan, perlunya sekolah-sekolah di Depok memasukan mata pelajaran tersebut agar bahasa daerah asli Kota Depok tidak menjadi punah.

“Untuk bahasa Depok nantinya akan masuk di sekolah-sekolah dalam mata pelajaran Bahasa Depok. Mengingat, bahasa pengantar Depok sekarang sudah lama hilang yang dikhawatirkan untuk generasi ke depannya Bahasa Depok akan punah dengan masuknya budaya dari luar,” tegasnya saat perayaan hari jadi KOOD ke-21 di Rumah Budaya Depok, Kampung Rawa Denok, Kota Depok.

Lebih dari itu, dia menjelaskan, pihaknya telah menyepakati untuk tidak berpolitik praktis. Anggotanya, dipersilahkan berpolitik namun tidak diperbolehkan mengatas-namakan organisasi yang menjunjung tinggi budaya Depok itu.

“Disepakati pula bahwa KOOD tidak berpolitik praktis, tapi mempersilakan anggotanya untuk berpolitik. Asal tidak membawa-bawa nama organisasi KOOD,” terang Dahlan.

Walikota Depok, Mohammad Idris menyebutkan, diusia KOOD yang menginjak dewasa itu diharapkan mampu bersinergi dengan Pemkot Depok

“Sebagai organisasi yang menginjak usia ke-21 Insya Allah bisa bersinergi dengan Pemerintah Kota Depok serta akan lebih efektif lagi mengingat visi Kota Depok ada kata berbudaya, sesuai dengan Peraturan Daerah dari SK Gubernur Jawa Barat,” ujar Idris.

Terkait usulan bahasa Depok masuk ke sekolah, jelas Idris, dapat dilakukan atas dasar peraturan Kemendikbud. Pendidikan yang bersifat pembinaan, kewenangannya ada di Kepala Daerah dari Kemendikbud untuk melakukan pembelajaran.

“Jadi istilahnya muatan lokal, dalam unsur budaya bahkan unsur agama jadi muatan lokal bisa dimasukkan di sekolah-sekolah di Depok. Bahasa Depok juga bisa dikembangkan nantinya di sekolah sebagai muatan lokal bagi pelajar kita,” ungkap Idris.

KOOD senidiri adalah organisasi atau perkumpulan yang berdiri sejak tahun 2001 silam, yang digagas putra-putri asli Depok, di antaranya H Naming Bothin (almarhum), KH Syihabudin Ahmad, Hj Ratna Nuryana, H Ahmad Dahlan, H Ma’ruf Aman, KH Ahmad Damanhuri, H Mazhab HM. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro