kualitas guru dianggap rendah
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Peneliti Bank Dunia (World Bank), Rythia Afkar menilai bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah. Hal itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihaknya pada 2020.

Hal itu disampaikan Rythia saat rilis survei Bank Dunia terkait learning loss akibat pandemi Covid-19 di Indonesia selama 1,5 tahun terakhir. Menjadi sorotan tentang rendahnya kualitas guru tentang kompetensi dan kemampuan mengajar.

“Kita juga sudah tahu dari hasil penelitian kami tahun lalu bahwa, guru Indonesia yang disurvei oleh kami memiliki performance yang cukup rendah,” kata Rythia

Namun, Rythia tidak menjelaskan lebih detail terkait rilis tersebut. Namun, dia mendorong para guru di Indonesia mestinya bisa mendapat lebih banyak pelatihan, pengawasan, dan pengembangan kemampuan.

Terlebih, katanya, guru saat ini mestinya bisa memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka, terutama dalam mengajar di kelas agar lebih interaktif dan motivatif bagi siswa.

“Sebetulnya opportunity untuk belajar lebih banyak. Bisa dari mana saja. Bisa melihat dari mana-mana. Supaya mereka dapat mengajar dengan baik,” kata dia.

Dalam rilis yang sama, Rythya juga kembali mengungkap bahwa sebanyak 53 persen siswa di kelas IV sekolah dasar tak memiliki buku pelajaran. Kemudian, ada 29 persen kelas yang disurvei, tak memiliki standar minimum pembalajaran oleh guru.

Dia mendorong para pihak terkait untuk memikirkan ulang proses belajar di sekolah-sekolah Indonesia. Bukan saja soal kualitas guru, namun juga termasuk fasilitas di kelas.

“Nah hal-hal ini yang sebetulnya perlu juga dibackup. Bukan hanya kualitas guru, tapi fasilitas, equipment, itu juga sangat mendukung proses pembelajaran. Sehingga anak-anak bisa belajar dari berbagai macam hal, dan juga lebih interaktif,” kata dia.

Dalam rilisnya terkait learning loss akibat pandemi, Bank Dunia menyebut Indonesia telah kehilangan waktu antara 10-12 bulan masa pembelajaran. Di sisi lain, dia menjelaskan, pandemi juga menyebabkan efektivitas belajar siswa hanya mencapai 40 persen.

Jumlah itu kata dia terbilang rendah, dan memperburuk kualitas belajar siswa di sekolah. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya