lapak pasar ditinggalkan
Ilustrasi.

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Masa pandemi virus Korona (Covid-19), berdampak pada tingkat penyewa lapak pasar terus menurun. Belum lagi produk pasar saat ini sudah kalah telak dengan belanja online terutama elektronik dan pakaian.

“Rata-rata yang hidup hanya pasar basah seperti sayur, buah, sembako, beda untuk yang elektronik dan garmen,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), Joko Setiyanto, Selasa (14/09).

Harga yang masih mahal, mempengaruhi rendahnya tingkat penyewa lapak. Tidak semua pasar bisa langsung mendiskon harga penyewaan pasar, tergantung dari pengelolanya. Joko menjelaskan untuk yang dikelola pemerintah daerah tidak bisa segera langsung diturunkan.

“Untuk biaya sewa tempat usaha Pemkab/Pemkot membuat Perda, biasanya berupa tagihan harian untuk biaya keamanan, kebersihan dan listrik. Beda yang dikelola oleh perusahaan daerah dan swasta karena service charge dibuat masing-masing,” katanya.

Joko mencontohkan seperti di Pasar Mayestik paling tidak sudah 30% sudah tutup, sementara kondisi di daerah lebih parah. Lapak yang ditutup kebanyakan adalah yang berasal dari pedagang elektronik dan garmen.

Beda dengan pasar basah yang menjual bahan makanan dan sembako, dimana kondisinya sudah mulai membaik. Dia mencontohkan seperti Pasar Jaya di Tangerang sudah kembali pada perdagangan per hari mencapai Rp 40 miliar atau setara 3.500 ton bahan makanan.

“April lalu kita turun kira kira menjadi Rp 25 miliar dari Rp 40 miliar omzet per hari. Sekarang sudah kembali baik, atau per hari 3.500 ton makanan. Tapi untuk produk garmen masih mentok,” katanya.

Joko juga mengatakan, masalah lainnya adalah harga listrik untuk pasar sama sekali tidak turun dimasa pandemi. Hal ini juga membuat pedagang lari dari pasar.

“Listrik itu tarifnya tidak turun sama sekali, padahal ini penting sekali karena komponen terbesar,” jelasnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya