RADARDEPOK.COM – Selama pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 membuat pembatasan bepergian dan beraktivitas di seluruh belahan dunia. Kegiatan yang biasanya dilakukan di kantor, sekolah, pusat perbelanjaan, tempat pertemuan umum menjadi terbatas dilakukan secara daring dari hunian masing-masing. Tertahan di rumah untuk melakukan aktivitas rutin meningkatkan keadaan stress yang dapat menganggu pola konsumsi. Untuk mengkompensasi keadaan stress dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori, lemak, garam, dan gula. Kelompok makanan yang berada pada puncak pyramid Pesan Gizi Seimbang (PSG) yang seharusnya dikonsumsid alam jumlah minimal karena dapat meningkatkan risiko obesitas. Obesitas menjadi fenomena baru yang ditemui hampir pada semua kelompok umur di masa pandemi Covid-19, padahal obesitas menjadi salah satu faktor risiko yang meningkatkan keparahan jika terinfeksi virus SARS-CoV-2 yang dapat berujung pada kematian.

Pola kegiatan yang terkonsentrasi di rumah menyebabkan rendahnya aktivitas fisik sementara pola konsumsi makanan berkalori tinggi sering dilakukan. Kombinasi dua kegiatan yang dapat meningkatkan risiko menjadi obesitas. Berkeringat, beraktivitas fisik yang membakar kalori memang menjadi tantangan di masa pandemi ini terkait restriksi bepergian dan berkumpul. Sering kita temui kegiatan olahraga yang digelar secara daring, para peserta berpartisipasi dengan mengirimkan bukti kegiatan yang terhubung dengan aplikasi yang akan menyimpan informasi aktivitas fisik dan dapat dilakukan dimana saja, tanpa harus berkumpul dan menimbulkan kerumunan. Kegiatan olahraga yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi dapat menjadi alternatif kegiatan di masa pandemi, kegiatan komunal namun dilakukan secara mandiri.

Dari laman Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan aktivitas fisik dilakukan selama 30 menit per hari. Semakin panjang waktu yang dilakukan untuk melakukan kegiatan membakar kalori akan semakin membawa manfaat untuk kesehatan jangka panjang. Aktivitas fisik mendapat perhatian penting dalam pencegahan penyakit dan setiap tanggal 6 April ditetapkan sebagai hari aktivitas fisik sedunia. Aktivitas fisik memiliki beberapa manfaat diantaranya : (1) membantu mengendalikan berat badan, (2) mengontrol tekanan darah, (3) menurunkan risiko osteoporosis pada wanita, (4) mencegah diabetes mellitus, dan (5) memperbaiki postur tubuh. Di masa pandemi ini, aktivitas fisik memberi manfaat tambahan yakni mengurangi stress dan meningkatkan imunitas tubuh.

 

Rekomendasi aktivitas fisik sekitar 30-45 menit bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran, vitalitas dan stamina yang memberi manfaat dalam menghadapi infeksi zat renik. Frekuensi melakukan aktivitas fisik sebaiknya 2-3x/minggu dalam intensitas sedang dan menghindarkan kontak dengan orang lain. Olahraga dengan intensitas tinggi tidak dianjurkan karena berisiko meningkatkan cidera dan infeksi pernafasan. Beberapa pilihan aktivitas fisik yang dapat dilakukan di masa pandemi antara lain: jogging, jalan kaki, menari, lompat tali, push-up, yoga, pilates, senam yang dapat dilakukan secara individual. Olahraga berkelompok akan meningkatkan risiko kontak dengan orang lain dan menyalahi aturan kegiatan selama pandemi. Variasi waktu yang diperlukan untuk kegiatan fisik ditentukan oleh kelompok umur, sejak dari kelompok balita, remaja, dewasa hingga lansia harus bergerak untuk memenuhi jumlah minimal aktivitas fisik yang bermanfaat untuk kesehatan. Untuk yang sudah memiliki komorbid, melakukan olahraga membantu melatih jantung untuk berdetak, melebarkan pembuluh darah dan menjaganya tetap stabil, serta membakar cadangan lemak.

Aktivitas fisik yang dipilih harus memenuhi kaidah penting yakni Baik Benar Terukur dan Teratur (BBTT).  saat menjalani aktivitas fisik. Baik dimaksudkan jenis aktivitas fisik harus sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang bersangkutan. Benar yakni kegiatan aktivitas fisik dilakukan dengan urutan yang tepat, sejak dari pemanasan hingga pendinginan. Terukur menandakan kegiatan harus dilakukan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan risiko cedera.  baik yang disesuaikan dengan kondisi fisik yang bersangkutan. Pilihan kegiatan aktivitas fisik perlu dilakukans secara teratur setidaknya 3-5 kali/minggu. Pastikan ada periode untuk beristirahat untuk masa pemulihan dan mengembalikan energi yang digunakan selama beraktivitas.

Mekanisme yang dianggap dapat menjelaskan peran aktivitas fisik dalam meningkatkan sifat protektif melalui immunosurveillance berdasarkan studi yang menggunakan hewan coba. Setiap aktivitas fisik dengan intensitas menegah dapat meningkatkan aktivitas antipatogen dari sistem imun makrofag yang berhubungan dengan sel imun, immunoglobins, anti inflamasi, dan cytokine di dalam darah. Semua zat kimia tersebut diangkut ke sel paru-paru untuk menurukan jumlah material patogen di dalam darah. Menimbang manfaat dari aktivitas fisik untuk menjaga berat badan, menurunkan risiko infeksi, dan menambah kekebalan tubuh, maka melakukan aktivitas fisik menjadi salah satu cara untuk menjaga kita tetap sehat dan produktif di masa pandemi ini. Salam sehat, tetap semangat.

Oleh: Lestari Octavia*)

*)Dosen Universitas Gunadarma, Depok.