umkm baju muslimah
Irene Ferro Cyanida

Irene Ferro Cyanida. Biasa disapa Irene. Dia erupakan mantan karyawan di salah satu bank swasta, yang saat ini mencoba memproduksi busana muslimah. Seperti apa kisahnya ?

Laporan : Ivanna Yustiani

RADARDEPOK.COM, Usianya kini 36 tahun. Single parent yang memiliki tiga anak. Sebelumnya, Irene merupakan seorang pengusaha laundry yang berakhir dengan gulung tikar. Demi memperjuangkan hidup, irene melamar sebagai karyawan bank swasta. Tetap ada pekerjaan sampingan. Jadi dosen sebuah kampus di Jakarta.

Punya paras cantik serta fashionable, seorang dosen dengan jurusan ekonomi manajemen pemasaran, otomatis dirinya memiliki banyak kenalan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Pada suatu hari, dilaksanakan pengabdian masyarakat di tempatnya mengajar, setelah selesai menjadi public speaking, ia diminta oleh Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Kota Depok menjadi bagian Public Relation IPEMI.

Alhamdulillah, setelah berjuang untuk hidup, saya mendapat amanah dari Ketua IPEMI Kota Depok untuk menjadi Ketua bidang humas,” ujar perempuan yang sudah delapan tahun menjadi dosen.

Seiring berjalannya waktu, dengan usaha, support serta memiliki banyak teman yang bergelut di bidang konveksi desainer, dirinya pun mematangkan hatinya untuk membuka usaha. Dengan bekerjasama oleh Cut Nyak Konveksi munculah brand baju muslim yang diberi nama House Of Gendys.

House of Gendys menjual produk seperti outfit muslimah masa kini yang diincar para remaja-remaja. bahkan, dirinya pun menjual bahan-bahan baju. Ia pun menjual brand tersebut di sosial medianya, dengan cara itu, banyak yang mengetahui produk apa saja yang di jual. Sebelum pandemi, House of Gendys sudah mengikuti beberapa bazar di sebuah mal untuk memamerkan karya-karya yang dimiliki Irene.

Namun, Saat pandemi hadir, usahanya pun mengalami omset turun, sehingga ia harus berpikir bagaimana cara untuk mencari rezeki yang halal. Dirinya percaya, meskipun dengan status yang single paret, Irene mampu berjuang hidup demi anak-anaknya.

Pandemi berjalan, orderan kami menurun, tapi tidak menutup usaha untuk tetap berjalan. Omset kita berkurang, tetapi tidak menutup ruang untuk mencari rezeki lain,” bebernya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro