kisah pemuda yang jadi relawan
KEAKRABAN : Swafoto Musyaffa Kautsar bersama rekanannya saat menjadi relawan di Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Depok.

Musyaffa, warga Kelapa Dua, Kecamatan Cimanggis ini, menghabiskan masa remajanya untuk menemukan jati diri, mencari eksistensi, serta pengalaman yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Hobinya sejak kecil membantu orang lain, membuatnya tertarik bergabung menjadi bagian dari relawan di salah satu perusahaan Non-Governmental Organization atau NGO.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

RADARDEPOK.COM, Mentari siang itu begitu terik. Bunyi klakson mewarnai hiruk pikuk suasana Jalan Boulevard, Grand Depok City (GDC), Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya. Mengenakan hoodie berwarna biru celana hitam dengan kacamata frame kotak, pria 23 tahun ini menyeruput secangkir kopi di Kafe Kopi Dari Hati, sembari menceritakan pengalamannya saat menggali pengalaman menjadi relawan.

2016, menjadi langkah awal pemuda berkacamata ini membulatkan tekadnya untuk belajar menjadi seorang relawan. Kala itu, Mus-sapaanya-sedikit kebingungan, bagaimana caranya dan dimana wadah yang bisa menjadi tempat dia menimba ilmu dan pengalaman.

“Waktu itu saya ingin berkontribusi, bergerak langsung di bidang sosial. Tapi, gak tau harus bergerak sama siapa dan bagaimana caranya. Akhirnya, teman-teman saya yang sudah tergabung di Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengajak bergabung,” ujarnya saat di temui pada sela-sela kegiatannya.

Tentunya kesempatan tersebut tak disia-siakan. Dia langsung tancap gas untuk terjun langsung untuk memberi pertolongan kepada sesama manusia. Didasari adanya panggilan jiwa dan kepuasan hati jika bisa menarik senyuman masyarakat.

Dirinya berkontribusi dalam sejumlah program salah satu perusahaan NGO tersebut sebagai anggota relawan. Meskipun, saat itu, ACT masih belum memiliki kantor di Kota Depok seperti sekarang ini.

Mulai dari Operasi Makan Gratis (OMG), Operasi Beras Gratis (OBG), dan masih banyak yang lainnya. Pergerakan ACT seringkali didampingi oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

“Saya di ACT sebagai relawan biasa, ikut terjun di beberapa program sebelum kantor ACT Depok ini ada, saya sudah menjadi bagian di dalam keorganisasiannya,” terang Musyaffa.

Perlahan tapi pasti, jejaknya yang aktif untuk membantu sesama dan menyumbangkan ide-ide kreatif di setiap program. Pada 2020 silam, dirinya dinobatkan sebagai Ketua Program ACT-MRI Kota Depok.

Menjadi leader dalam mencanangkan suatu program, mengharuskan dia putar otak. Mus juga tak segan bila ada anggota yang mau menyumbang gagasan dan ide segar untuk bergerak bersama.

“Alhamdulillah, bisa banyak membantu orang banyak dan bisa belajar banyak arti kehidupan sebenarnya. Teringat di benak saya para korban bencana yang kami evakuasi seperti banjir bandang Sukabumi, Depok, dan Banten, bagaimana penderitaan mereka, kita juga harus menenangkan dan memulihkan trauma,” bebernya.

Pengalaman demi pengalaman yang dididapatkan menjadi sebuah ibrah atau pelajaran. Mus mulai paham definisi dari lembaga di bidang sosial, lalu cara mengelolanya.

Rupanya, dia tak belajar dari ACT Kota Depok saja, tetapi dari beberapa lembaga seperti Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat. “Disitu saya ambil kesempatan untuk menggali ilmu, yang penting niatnya dulu pertama ingin belajar. Kemudian menjadi bermanfaat bukan hanya untuk saya saja, tetapi buat orang banyak,” tuturnya. (bersambung)

Editor : Junior Williandro