Relawan RSCM Ketuk Hati
PEDULI: Relawan “Ketuk Hati” memberikan donasi tahunan ke RSCM pada Mei 2021. FOTO: IST

Merliyani Pertiwi, Penggerak Relawan “Ketuk Hati” Asal Depok (1)

RADARDEPOK.COM, Berawal dari ajakan teman yang peduli kepada pasien onkologi (tumor dan kanker) berusia anak-anak dan secara berkala mengunjungi mereka di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Membuat kesungguhan hati Merliyani Pratiwi tergerak untuk menghibur mereka.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Pada 2008, Eiy—sapaan Merliyani Pratiwi—diajak salah seorang kawan yang merupakan relawan Yayasan Hope Indonesia untuk mengunjungi anak-anak penyintas kanker, dan tumor di RSCM Jakarta. Tak hanya dirinya saja, melainkan total ada tujuh orang turut menyambangi rumah sakit yang berdiri sejak 1919 tersebut. tujuannya meringankan rasa sakit yang diderita anak-anak dengan trik sulap dan bercerita.

Mulailah agenda kunjungan mereka susun, tentu atas izin perawat dan dokter yang bertugas. Satu hari dalam seminggu adalah waktu yang diluangkan untuk sekedar menengok dan memberikan semangat hidup pasien onkologi.

“Awal menjenguk itu bingung gak bawa apa-apa, akhirnya kami agendain setiap Sabtu, jam 10 pagi sampai 12 siang. Anak anak itu kami belikan mainan yang simple dan murah-murah dengan modal sendiri,” ujar Eiy.

Mainan-mainan tersebut memang akan dibawa pulang untuk simpanan para relawan. Namun terkadang beberapa anak suka meminta agar mainan yang dibawa agar ditinggal untuk menemani mereka, ataupun request pekan depan kunjungan selanjutnya mau dibawakan mainan apa. Semakin lama, jumlah koleksi (mainan) kian banyak.

Tak disangka pula, kegiatan rutin setiap pekan itu membawa beberapa orang lainnya ikut tergerak hatinya. Kala itu, jumlah relawan bertambah menjadi 15 orang, mereka juga secara intens memuat status di facebook terkait agenda yang mereka gagas. Netizen pun merespon cepat dengan memberikan donasi mainan hingga uang.

“Akhirnya, banyak juga donasi mainan yang masuk. Kalau kami relawan tetap masing-masing biasanya Jumat malam, kami belanja mainan bareng-bareng. Entah di pasar malam, toko mainan anak, atau di supermarket,” bebernya

Satu ketika, ada salah satu anak kurang mampu di rumah sakit tersebut membutuhkan pendonor darah. Berbagai cara mereka lakukan. Di antaranya membuka donasi berupa uang, guna menolong anak tersebut. Palang Merah Indonesia (PMI) mulailah dihubungi untuk meminta kantong darah.  Tetapi, setiap darah yang diambil harus diganti lagi kantungnya dengan donor serta menebus dengan uang. Usai urusan tersebut selesai, akhirnya mereka membawa kantong darah kepada sang pasien anak yang membutuhkan darah, sayangnya anak tersebut tak terselamatkan.

“Besoknya kami mulai open donasi berupa uang, mengantisipasi kejadian serupa. Tapi donasinya sementara untuk beli mainan, cemilan, dan pempers anak. Jumlah relawan waktu itu semakin banyak pernah sampai 50 relawan, tapi pasti ada seleksi alam ya, jadi naik turun aja jumlahnya,” tutur Eiy.

Pernah sekali, dengan mengupdate status kegiatan di Facebook serta membuat list kebutuhan yang diperlukan, kemudian memasukan proposal pada sejumlah perusahaan, membuat donasi yang terhimpun menyentuh angka Rp70 juta. Kemurahan hati relawan ini mendapatkan respon baik dari perawat dan dokter di RSCM.

“Kebutuhan paling besar itu untuk RSCM, bisa sampai 40 jutaan. jadi gak cuma bangsal anak tumor, kanker, tapi bisa ke newborn, IGD dan ruangan lainnya. Dengan catatan, untuk yang tidak mampu ya dan untuk anak-anak aja. Tapi pernah ada request beberapa pasien dewasa (kurang mampu) dari Humas RSCM dan dari perawat disana, jadi kita tetep pasok sesuai kebutuhan permintaan aja,” ucapnya.

Sebetulnya, saat itu pergerakan mereka tanpa adanya embel-embel yayasan ataupun instansi lain, meski awalnya adalah ajakan dari salah satu teman relawan Yayasan Hope Indonesia. Sampai satu ketika, pihak RSCM Jakarta meminta para relawan ini membuat sebuah nama yang jadi ciri khasnya.

“Awalnya kami gak punya nama, tapi karena diminta terus sama RSCM, jadi buat nama deh “Relawan Ketuk Hati”. Kegiatan donasi ini kita jalanin sampai hari ini. Sekarang RSCM punya rumah singgah, jadi kita open donasi bulanan khusus untuk pampersnya aja,” terangnya.

Selain itu, kalau acara tahunan tetap jalan, biasanya diadakan di saat bulan puasa, biar anak-anak merasakan mewahnya Lebaran meski di rumah sakit. “Donasi sejauh ini masih pakai rekening temen-temen relawan (termasuk saya). Kenapa gak pakai bantuan platform, karena kami belum mau. Masih percayain pakai rekening pribadi dan yakin kalau teman-teman donatur juga percaya sama kami, insyaAllah,” tandasnya. (bersambung)

 

Jurnalis: Daffa Syaifullah

Editor: M. Agung HR