nur mahmudi ismail
Nur Mahmudi Raih Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen

RADARDEPOK.COM – Nur Mahmudi raih profesor riset bidang teknologi pascapanen, ketahanan pangan nasional belum kokoh. Mantan Walikota Depok ini resmi ditetapkan sebagai Profesor Riset Bidang Teknologi Pascapanen oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pria yang lahir dan tumbuh besar di keluarga petani ini dikukuhkan sebagai profesor riset di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Gedung B.J Habibie, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Nur Mahmudi mengatakan, selama 20 tahun terakhir Indonesia telah menelantarkan bahan pangan rata-rata sebanyak 23-48 juta ton per tahun berupa food loss and waste (FLW). Adapun Food Loss (FL) yang ia maksud yakni kehilangan pangan sejak tahap panen, pascapanen, pengolahan dan pengemasan.

Sementara Food Waste (FW) yakni kehilangan pangan pada tahap distribusi, pemasaran, penyajian dan konsumsi. “Dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tahun 2021, jumlah ini secara signifikan mengurangi penyediaan pangan sehingga dapat memperlemah ketahanan pangan di Indonesia,” ujar Nur Mahmudi.

Nur Mahmudi mengatakan, mengutip laporan dari Hunger Map tahun 2020, masih ada 5-14,9% penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan. Bencana kelaparan ini disebabkan oleh lemahnya pengolahan, distribusi dan pemasaran pasca panen.

Dia pun memberi contoh, pada 2018 terdapat 95.000 ton susu yang tidak diolah menjadi produk pangan, tetapi menjadi pakan ternak. “Jika 95.000 ton susu peternak tersebut diolah menjadi keju minimal 10% akan menghasilkan sekaligus meningkatkan penyediaan keju nasional sebanyak 9.500 ton,” jelas dia.

Kemudian, alumnus Institut Pertanian Bogor Jurusan Tekonologi Pangan dan Gizi ini menyebut, pada tahun 2018, terdapat daging tercecer sebanyak 27.000 ton daging sapi dan 178.000 ton daging ayam ras. Dalam hal ini, Nur Mahmudi merujuk pada laporan Kementerian Pertanian tahun 2020.

Selain susu dan daging, Indonesia pada tahun 2021 akan mengalami kehilangan ikan sebanyak 4,89 juta ton. Menurut Nur Mahmudi, tingginya Food Loss and Waste komoditas ikan di Indonesia disebabkan oleh lemahnya penerapan rantai dingin sejak penangkapan, pascapanen, pengolahan, distribusi dan pemasaran.

“Ketahanan pangan nasional belum kokoh, masih banyak yang mengalami kelaparan dan menghadapi berbagai permasalahan gizi dan kesehatan masyarakat,” pungkasnya.(rd)

Editor : Fahmi Akbar