Ilustrasi Pembelajaran Tatap Muka
Ilustrasi Pembelajaran tatap Muka. IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pemerintah Kota Depok terus mengkaji rencana sekolah Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas pada Oktober mendatang. Perangkat daerah seperti Dinas Kesehatan sudah mulai melakukan koordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, membahas sejumlah persiapan yang harus dilakukan sebelum PTM Terbatas.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengaku, pihaknya bersama Satgas Covid-19 sudah berkoordinasi dalam hal pencapaian vaksinasi guru dan siswa di Kota Depok.

“Sekarang lagi tahap persiapan, kami persiapannya itu percepatan vaksinasi untuk siswa di Depok,” kata Novarita kepada Radar Depok, Selasa (31/8).

Menurutnya, saat ini vaksinasi untuk guru sudah mencapai 90 persen, sedangkan siswa baru menyentuh angka 8,54 persen. “Saat ini vaksinasi untuk siswa terus dikebut, agar segera tercapai target yang diharapkan,” ucapnya.

Selain vaksinasi, dalam kordinasi tersebut Satgas Covid-19 Kota Depok juga masih terus mengkaji dan memantau perkembangan tren Covid-19 di Depok. jika trennya terus menurun dan bahkan Depok masuk kategori PPKM Level 2, bisa jadi PTM tatap muka akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Kami juga masih memantau kesiapan sekolah–sekolah dalam hal sarana prasarana kebersihannya, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer dan alat penunjang protokol kesehatan lainnya,” tuturnya.

Persiapan PTM di Kota Depok juga disoroti oleh Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono. Ia mengaku, belum begitu mendukung pelaksanaan PTM. Hal ini didasari ketidak percayaannya terhadap data covid-19 dan sistim testing tersebut.

“Apakah sudah benar tes PCR dilakukan satu per 1.000 populasi perhari atau perminggu di Depok. Kontak tracing apakah sudah minimal 10 orang kontak erat dari penderita Covid-19,” ungkap Tri Yunis kepada Radar Depok, Selasa (31/8).

Tri Yunis juga mengkritisi data up date Covid-19 yang dikeluarkan setiap harinya. “Gimana saya percaya dengan kasus yang dilaporkan, risiko anak sekolah tertular itu diukur dari tes PCR satu per 1.000 tadi,” bebernya.

Menurutnya, jika sekolah PTM tetap dilaksanakan tanpa melakukan tes yang benar, dikhawatirkan akan muncul klaster baru atau ledakan kasus baru. Selain itu, dia menyoroti vaksinasi siswa di Depok yang belum berjalan masif. “Anak itu udah divaksin atau belum, setahu saya SD belum semua, SMP belum semua, SMA baru 20 persen. Jadi risikonya besar, dan positive ratenya tinggi, ya risiko penularannya juga tinggi,” terangnya.

Menurutnya, sekolah PTM baru bisa dilakukan jika risiko penularan sudah masuk tahap ringan ataupun sedang. Penurunan risiko ini hanya bisa terwujud lewat kontak tracing yang baik dan benar. “Saran saya, perbaiki kontak tracingnya untuk memastikan kasus Covid-19 di Depok itu rendah. Positive rate yang bagus itu 5-6 persen, di atas itu masih berbahaya dan tidak layak untuk melakukan sekolah PTM,” pungkasnya. (rd/dra)

 

Jurnalis: Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR