BOKS 3 Atlet Bulutangkis 3 Habis
BERPRESTASI: Mayang Permata Sari Tarigan saat memamerkan medali yang berhasil diraih bersama rekan ganda putri (Maria Devanya), pada Kejuaraan Singapore Youth Internasional Series, tahun 2018. FOTO: ARNET KELMANUTU/RADAR DEPOK

Mayang Permata Sari Tarigan, Atlet Bulutangkis Asal Depok (3-Habis)

RADARDEPOK.COM, Medali di negara tetangga bersama ganda putrinya menjadi persembahan terakhir atas ketekunan dalam mendalami dunia Bulutangkis. Mayang berhasil mengibarkan bendera merah putih di  Hall Badminton Singapura. Setelah itu, melanjutkan kuliah bersama sahabatnya yang menjadi partnernya saat meraih medali di singapura.

Laporan : Arnet Kelmanutu

Mayang menutup torehan prestasi dengan kepuasan hati. Karena berhasil menyandingkan bendera Merah Putih, bersama negara lain saat menorehkan medali perak pada kelas ganda putri di kejuaraan Singapore Youth Internasional Series 2018.

Dia menceritakan, ketika itu melawan Negara China yang memang rankingnya di atas ganda putri milik Indonesia. Meski tak disorot kamera layaknya Olympiade, namun ia yakin dukungan masyarakat Indonesia mengalir untuk dirinya dan partner. Hal itu yang jadi semangat tersendiri mengalir di dalam tubuhnya.

“Semangat banget, saya yakin banyak yang mendoakan. Dan ini hasil terbaik. Meski juara hanya ada satu,” kata Mayang.

Proses raihan medali bukan tanpa cucuran keringat, tiga set mayang bersama partner berjuang agar dapat menaklukkan sang musuh berat dari China. Namun hasil berbeda, set ketiga menjadi akhir perjuangan setelah angka menunjukan 15-21 bagi kemenangan China.

Menangis, kesal, dan putus asa dirasakan Mayang dalam beberapa waktu sebelum dipanggil ke podium. Sang ibu dan ayah, serta pelatih membangkitkan semangatnya kembali. Mereka telah menjadi juara dan kebanggaan tim hingga tanah air.

“Saya kuatkan diri saya, berdoa menenangkan diri. Saya naik ke podium bersama rekan saya yang sampai sekarang kuliah dan melatih bersama,” ungkapnya.

Sekarang ia menatap masa depan dengan melanjutkan fokus kuliah untuk bekalnya nanti. Dirinya mempercayai atlet bukan menjadi jaminan penting di hari tua, sehingga memilih untuk meraih sarjana. (*)

 

Jurnalis: Arnet Kelmanutu

Editor: M. Agung HR