walikota pantau ptm
MONITORING SIMULASI : Walikota Depok Mohammad Idris sedang melakukan monitoring pelaksanaan simulasi PTMT di SDN Bojongsari 1, Selasa (28/9). IST

RADARDEPOK.COM – 28 September menjadi hari bersejarah bagi dunia pendidikan di Kota Depok. Di tanggal ini, Pemerintah Kota Depok secara resmi melakukan simulasi sekolah Tatap Muka Terbatatas yang dilakukan di sejumlah sekolah. Mulai dari tingkat PAUD hingga SMP, setelah sekian tahun kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara virtual, akibat pandemi Covid-19.

Pantauan Harian Radar Depok, Walikota Depok Mohammad Idris memonitoring simulasi pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongsari 1, Kecamatan Bojongsari Selasa (28/9).

Walikota mengatakan, PTMT merupakan kebutuhan pembelajaran saat ini. Karena dia mengamati, selama pemberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) persiapan yang dilakukan lebih rumit dibanding tatap muka. Maka dari itu, pihaknya mulai mengizinkan simulasi ini, tentunya harus sesuai dengan arahan satgas covid-19 di Kota Depok.

“Kami ingin memastikan agar pelaksanaan PTMT nanti tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, dan sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Idris, Selasa (28/9).

Idris juga  menyarankan agar orang tua siswa  dapat mengantar jemput anaknya selama PTMT. Dengan antar jemput, orang tua bisa memastikan anaknya benar-benar disiplin prokes. Sehingga  dapat meminimalisir  munculnya cluster penularan Covid-19 di lingkungan pendidikan.

“Jika yang menjemput orang lain, atau menggunakan ojek baik online atau bukan, maka orang tua harus mengingatkan agar jangan pernah melepas masker dan gunakan dobel masker. Jangan sampai karena abai prokes, anak menjadi terpapar covid-19,” terangnya.

Selain itu, Idris juga berpesan, tenaga pendidik juga harus selalu menjaga prokes. “Jangan sampai melanggar, bahkan malah makan dan minum bersama. Kita harus tetap berhati-hati. Jangan karena solidaritas akhirnya minum satu gelas, makan satu piring, tolong hindari. Jadilah tauladan bagi para siswa,” pintanya.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wijayanto mengatakan, pelaksanan simulasi PTMT berlangsung selama dua hari, sejak 28 – 29 September 2021. Simulasi diikuti satu sekolah PAUD, dua TK, 24 SD, dan enam SMP.

“Dari hasil simulasi, pihak sekolah dan murid-murid sudah siap. Sarana dan prasarana sudah sesuai dengan arahan dan aturan yang berlaku, seperti pengaturan jarak, jumlah tempat, dan waktu yang dibatasi. Kalau tidak ada kendala dalam simulasi ini,  rencananya, PTMT akan dimulai pada 4 Oktober 2021,” bebernya.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana juga membeberkan sebuah fakta yang mengejutkan. Dia mengaku, sebenarnya simulasi PTMT ini sudah berjalan sebulan belakangan untuk jenjang pendidikan PAUD, TK, SD, SMP.

“Jadi simulasi yang dilakukan pada 28-29 september ini merupakan penilaian akhir, bisa atau tidaknya kita laksanakan PTMT. Sebenarnya bukan hari ini dimulai simulasinya,” ungkap Dadang.

Dia menjelaskan, pelaksanaan simulasi ini sudah dimulai sejak diberlakukannya PPKM Level 3 di Depok, di mana dalam setiap produk Kepwal yang dikeluarkan Pemerintah Kota Depok sudah menuliskan jika ada klausul persiapan sekolah PTMT.

“Jadi alas hukumnya pelaksanaan simulasi PTMT sejak sebuan belakangan ini ya poin pada Kepwal tadi, yang menyatakan persiapan sekolah PTMT. Salah satu buktinya, saya punya anak kelas tiga SD di SD Islam Al Fikri, sekolahnya itu sudah dua minggu ini melakukan simulasi PTMT,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika tidak ada aral melintang, PTMT di Depok akan berjalan pada 4 Oktober mendatang. Tentunya dengan mengikuti prosedur yang sudah berjalan seperti, pelaksanaan PTMT hanya diikuti siswa tingkat atas dan tingkat bawah dan jumlah siswa per kelasnya juga dibatasi.

“PAUD dan TK satu kelas maksimal lima orang, untuk SD dan SMP maksimal 18 orang satu kelas,” terangnya.

Selain itu, Satgas Covid-19 juga sudah mempersiapkan mekanisme penanganan jika seandainya ada penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Yaitu dengan melakukan mitigasi dan penghentian kegiatan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang terjadi penularan.

“Jika ditemukan ada satu kasus terjadi di satu sekolah, kita akan lakukan mitigasi dan tracing, serta menutup kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut sementara waktu, atau selama satu minggu, baru sekolah itu bisa beroperasi kembali,” pungasknya. (dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar