Sri Utami Komisis C
Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Sri Utami. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pada Selasa (21/9) sore sejumlah kawasan di Kota Depok diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Di antaranya di wilayah Pancoranmas, Beji, Sukmajaya, dan Cilodong.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Sri Utami menilai, badai dan hujan yang datang lebih awal merupakan indikasi dari perubahan iklim atau climate change, akibat terjadinya pemanasan global.

Sri Utami menegaskan, hal ini sebetulnya juga sudah disinggung oleh para pemimpin dunia di tingkat internasional yang kemudian juga dikutip oleh Menteri Keuangan RI. Bagaimana negara-negara maju galau dengan semakin nyatanya perubahan iklim dunia.

Seperti Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang pernah memprediksi Jakarta akan tenggelam, itu adalah warning dari terjadinyaa Climate change secara global.

“Ini merupakan dampak dari suhu bumi yang meningkat, semakin panas, akibat aktivitas manusia yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip ramah lingkungan,” ungkap Sri Utami kepada Radar Depok, Selasa (21/9).

Selain itu lanjut Sri, karena suhu bumi yang meningkat ini terjadi pencairan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan akan meningkatkan permukaan air laut. Begitu juga di Indonesia, BMKG sudah memprediksi pencairan es di Puncak Jaya Wijaya.

Akibatnya perubahan iklim ini salah satu indikasinya adalah terjadinya cuaca yang tidak menentu. Misalnya hujan yang datang lebih cepat dan terjadinya badai.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi pemerintah dan masyarakat untuk membangun kota dan hidup secara ramah lingkungan. Ini harus menjadi tolok ukur utama, ketika membangun kota itu harus dilandasi dengan  prinsip-prinsip ramah lingkungan.

“Kita memiliki tiga Perda yang mengatur terkait aktivitas pembangunan yang harus bersandingan dengan prinsip ramah lingkungan. Salah satunya adalah Perda Kota Hijau, selain Perda PPLH dan Perda RPPLH,” terang Sri Utami.

Caranya menurut Sri, pertama mengurangi penggunaan kendaraan yang berbahan bakar fosil. Melihat tingkat pengguna dan kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Depok sangat tinggi sekali, mencapai lebih dari 50 persen jumlah penduduk di Depok.

Ini tentu akan menjadi penyebab polusi meningkatnya gas CO2 dan CO di udara, cuaca yang semkin panas. Oleh karena itu ia berharap Pemkot Depok segera mengikuti apa yang dirintis oleh pemda DKI untuk mengintegrasikan transportasi publik.

“Sehingga masyarakat lebih menyukai menggunakan transportasi publik yang terintegrasi, murah, tetapi kemudian tidak menimbulkan kemacetan, serta polusi udara yang memanaskan bumi,” tuturnya.

Lalu pengelolaan sampah secara ramah lingkungan. Sampah yang dikelola tidak ramah lingkungan akan menghasilkan gas metana, ketika terlepas ke atmosfir maka akan meningkatkan suhu bumi.

“Maka itu kami berharap pengolahan sampah ini juga dengan prinsip ramah lingkungan,” ujarnya.

Selanjutnya penting untuk melakukan penanaman pohon secara massif. Ia mengatakan, kalau hujan badai masyarakat takut pohon tumbang. Tetapi kemudian harus dipahami bahwa pohon itulah yang kemudian bisa menyelamatkan dari bencana yang lebih besar lagi.

“Artinya jangan sampai kita takut ketimpa pohon, kemudian pohon-pohon malah ditebang akibatnya cuaca semakin panas, dan menjadi risiko meningkatnya perubahan iklim,” terangnya.

Sri Utami mengingatkan, untuk di ABT ini DLHK harus melakukan penanaman pohon secara massif. Masyarakat juga harus diedukasi, mereka harus cinta pohon. Kalau tidak punya halaman harus menanam dalam bentuk pot, dan sebagainya.

“Intinya cuaca di Depok harus kita turunkan suhunya. Satu-satunya jalan dengan menghijaukan lahan sebanyak-banyaknya. Semoga dengan itu bisa mencegah secara lokal.  Lebih sejuk dan bisa mengurangi dampak dari perubahan iklim yang ke depan akan lebih sering dihadapi,” pungkasnya. (gun/**)