taman hutan cagar alam
Tahura Pancoranmas Cagar Alam di Kota Depok

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kota Depok memiliki ruang terbuka hijau yang terbilang luas dan bisa disebut hutan kota, yakni Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoranmas.

Tahura yang diresmikan pada 1999 itu, termasuk salah satu cagar alam tertua di Indonesia.

Saat itu, penetapannya tidak jauh jarak waktunya dengan Cagar Alam Cibodas-Gede. Sebelum menjadi cagar alam, area hijau itu mulanya adalah bagian dari tanah partikelir milik tuan tanah berkebangsaan Belanda, Cornelis Chastelein.

Dalam bukunya, Invallende Gedagten ende aenmerckinge over de Coloniën, yang terbit pada 1705, Chastelein menyebut bahwa dia membeli lahan perkebunan 1.240 hektare di selatan Batavia pada 18 Mei 1696 yang kemudian dinamai Depok.

Chastelein kemudian mewariskan seluruh lahannya di wilayah Depok itu kepada 12 marga budak-budaknya, kecuali sepetak lahan berhutan.

Dalam wasiatnya bertanggal 13 Maret 1714, dituliskan lahan hutan tersebut tidak boleh dipindahtangankan dan harus dikelola sebagai cagar alam.

Berselang 12 abad kemudian, tepatnya pada 31 Maret 1913, lahan tersebut diserahkan ke Pemerintah Hindia Belanda untuk dikelola Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming).

Kawasan itu lalu ditetapkan sebagai cagar alam (natuurreservaat) berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 7 tertanggal 13 Mei 1926.

Sebelumnya, Pemerintah Hindia Belanda pada 1889 juga telah menetapkan kawasan Gunung Gede sebagai cagar alam.

Sesuai surat keputusan, Cagar Alam Pancoranmas bersama dengan Cagar Alam Cibodas-Gede menjadi cagar alam pertama di Indonesia.

Namun, perkembangan wilayah yang pesat di sekitar Jabodetabek tidak menguntungkan bagi kelestarian Cagar Alam Pancoranmas.

Wilayah hutan itu berangsur-angsur mengalami penyempitan akibat pertumbuhan permukiman di sekitarnya. Selain itu, keanekaragaman hayatinya berkurang sehingga dinilai tidak layak lagi untuk dipertahankan sebagai kawasan cagar alam. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya