pasar tanpa pedulilindungi
LAYANI PEMBELI : Pedagang Bumbu di Pasar Tugu sedang menyediakan bumbu pesanan pelanggannya. FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Emak-emak yang biasa belanja di pasar Kota Depok tidak perlu khawatir saat belanja. Hingga kini pemerintah kota (Pemkot) belum memberlakukan masuk pasar menggunakan aplikasi Pedulilindungi. Tidak seperti tetangganya : Kota Bogor yang sudah menerapkannya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok, Zamrowi mengatakan, pihaknya mengikuti instruksi Mendagri nomor 39/2021, yang menyatakan pasar rakyat di daerah PPKM Level 3 Aglomerasi tidak diberlakukan akses Pedulilindungi.

“Untuk Pasar Rakyat kapasitas pengunjung dibatasi 50 persen dari kapasitas, dan tidak menggunakan alat Pedulilindungi, kecuali supermarket atau hypermarket,” kata Zamrowi kepada Harian Radar Depok, Selasa (28/9).

Akan tetapi, lanjut Zamrowi, meski tidak diwajibkan menggunakan Pedulilindungi, semua masyarakat, baik pedagang, pengunjung, maupun pengelola pasar wajib menaati protokol kesehatan dan menaati ketentuan waktu operasional yang berlaku.  “Kita tetap mewajibkan semua warga yang ke pasar untuk mematuhi protokol kesehatan,” tututurnya.

Terpisah, Kepala UPT Pasar Tugu, Ikhwan Suryadin Nasution mengungkapkan,  operasional Pasar Tugu tetap berjalan seperti biasanya, tidak ada perubahan apalagi mewajibkan untuk menggunakan aplikasi Pedulilndungi. “Gak ada instruksi dari pimpinan untuk memasang alat Pedulilindungi, masih sam seperti biasa,” kata Ikhwan.

Ikhwan menuturkan, pihaknya selalu memastikan pengunjung dan pedagang yang ada di Pasar Tugu untuk mematuhi protokol kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya satuan tugas yang memantau ketaatan protokol kesehatan di sana.  “Kami punya petugas yang rutin patroli ke dalam pasar untuk memantau protokol kesehatan. Kalau ada yang tidak pakai masker atau berkerumun akan kami tegur dan berikan masker. Kami juga menyediakan tempat cuci tangan dan handsanitizer di beberapa sudut pasar untuk memudahkan masyarakat mencuci tangannya,” bebernya.

Sementara itu, Kepala UPT Pasar Cisalak, Sutisna menambahkan,  semenjak pandemi Covid-19 pengunjung yang datang ke pasar juga cenderung menurun, sehingga potensi kerumunan sangat kecil. “Kita gak pakai aplikasi Pedulilindungi, selain belum ada instruksi memang kondisi pasar saat ini agak sepi juga,” terangnya.

Akan tetapi, lanjut Tisna, pihaknya tetap berkomitmen untuk memastikan pelaksanaan protokol kesehatan di Pasar Cisalak tetap terjaga dengan baik.

“Selama pemantauan yang kami lakukan, sudah tidak ada lagi sih pelanggaran protokol kesehatan. Baik pengunjung maupun pedagang sudah sadar untuk menggunakan masker dan mencuci tangan,” imbuhnya.

Salah satu pengunjung yang sedang berbeanja di pasar Cisalak, Kadijah Rahmawanti (52) mengaku, kurang setuju jika pasar tradisional diberlakukan aplikasi Pedulilindungi. Hal ini dikarenakan dia tidak begitu paham teknologi. “Saya gak ngerti aplikasinya. Saya aja hape cuma buat nelfon sama whatsapp aja, itu juga mata udah seliwer,” katanya terkekeh.

Senada dengan Kadijah, Ibnu Baskoro salah seorang pemuda yang juga sedang berbelanja  di Pasar Cisalak mengaku tidak masalah jika pasar tradisional memberlakukan aplikasi Pedulilindungi. Sebab, dia sendiri sudah memiliki aplikasi tersebut di gawainya. Akan tetapi, dia merasa kasihan jika banyak pengunjung pasar tradisional yang belum faham tentang aplikasi ini.

“Kalau saya sih ada aplikasi Pedulilindungi, tapi kan rata – rata yang ke pasar ibu – ibu yah, kasian juga kalau mereka nanti kesusahaan untuk menggunakan aplikasinya atau tidak bisa masuk pasar untuk membeli kebutuhan pokok untuk keluarga mereka,” pungkasnya. (dra/rd)

Jurnalis : Indra Siregar Abertnego

Editor : Fahmi Akbar