seminar pendidikan ideologi pancasila
SEMANGAT : Webinar Penanaman Ideologi-Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Sejak Dini melalui Pendidikan Dasar secara virtual, Selasa (14/09).

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Pentingnya pembangunan karakter anak bangsa sesuai dengan prinsip pancasila harus dibentuk sejak usia dini. Hal ini lantaran pendidikan dasar menjadi landasan yang sangat kuat untuk karakter berbaangsa dan bernegara.

Sekretaris Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (PUM) Kementerian Dalam Negeri, Imran mengatakan, Indonesia merupakan sebuah negara yang unik dengan begitu banyak keanekaragaman. Namun dengan keberagaman yang ada tersebut, bersepakat bahwa bentuk kesatuan yang dipilih yang menjadi acuan dalam bernegara dan memilih ideologi pancasila sebagai landasan filosofi Way of Life  dari bangsa Indonesia.

“Menurut catatan statistik tahun 2010 Indonesia saat ini terdapat lebih dari 1.340 suku atau etnis, 700 bahasa daerah, 6 Agama dan 187 aliran kepercayaan yang dianut oleh beragam masyarakat Indonesia dan terdapat 270 juta lebih jiwa penduduk yang ada di Indonesia ini dan mendiami lebih dari 17.504 pulau yang ada di indonesia yang diakui saat ini,” ujarnya saat Webinar Penanaman Ideologi-Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Sejak Dini melalui Pendidikan Dasar secara virtual, Selasa (14/09).

Meski begitu, menurut Data Riset Opini Publik 2019 terkait ancaman ideologi, saat ini bangsa Indonesia tengah dirundungi Ideologi komunisme dengan presentase 20 persen, Budaya Asing 17,92 persen, Hoax 15,17 persen, Isu Sara 12,82 persen, Intoleransi 12,75 persen, Paham khilafah 1,33 persen. Sementara, 20 persen responden menyatakan ancaman lunturnya nilai nilai pancasila adalah ajaran komunisme Berita hoax, Sara dan Intoleransi menjadi ancaman baru yang muncul selama 3 tahun belakangan ini dan angka ketiganya mencapai 40,47 persen.

“Selain itu banyak juga survei-survei lainnya. Hal ini harus kita tanggapi dengan bijaksana daa dengan langkah konkrit bagaimana penanaman nilai nilai kebangsaan dan pengembangan karakter bangsa yang sudah menjadi suatu kebutuhan yang mendasar sehingga kehidupan kebangsaan dan kebernegaraan itu dapat belangsung terus menerus dan dapat dipertahankan sampai dengan akhir hayat bangsa indonesia saat ini,” bebernya.

Dengan adanya pembangunan karakter bangsa, lanjutnya, maka masyarakat akan turut berkonribusi dalam memberikan semangat pemikiran dan gagasan dalam pengambilan keputusan terkait dengan penyelenggaraan berbangsa dan bernegara sehingga dapat mencapai apa yang menjadi cita cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana digambarkan dalam UUD 1945.

“Karakter anak bangsa yang sesuai dengan prinsip pancasila harus dibentuk sejak usia dini sampai dengan pendidikan tinggi. Perlu digaris bawahi bahwa pendidikan dasar menjadi landasan yang sangat kuat untuk karakter berbaangsa dan bernegara,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Direktur II Pascasarjana UNJ, Prof. M Jafar mengungkapkan Ki Hajar Dewantara mencetuskan banyak sekali pemikiran, salah satunya adalah Tri Sentra Pendidikan. Pendidikan itu merupakan sinergi dari tri sentra pendidikan yang terdiri dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Banyak masyarakat dan keluarga yang menjadikan sekolah adalah tempat favorit bahkan menjadikannya tempat penitipan anak. Namun ditengah pendemi ini, Ki Hajar Dewantara memberikan penguatan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam proses pendidikan,” katanya.

Pembinaan wawasan kebangsaan tetap dimulai dari keluarga, untuk selanjutnya adalah sekolah. Sekolah adalah lembaga belajar yang dipercayai dan menjadi revolusi sosial yang paling besar bagi keluarga terhadap anak-anaknya karena memiliki struktur yang sangat jelas didalamnya.

“Pertama, sebagai upaya pembiasaan agar ketika dewasa mereka terbiasa dengan pembuatan dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Kedua, Memanfaatkan momentum karena anak usia dini masih lunak, dalam artian mudah dimbimbing daripada remaja. Ketiga, untuk menanamkan rasa nasionalisme dan patriotisme. Keempat, agar anak memiliki karakter baik seperti toleransi, tenggang rasa, peduli, bekerja sama, berprestasi, tertib, disiplin, dan mau melestarikan budaya serta merawat dan mencintai lingkungan,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sekolah Dasar, Direktorat Jendral PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Sri Wahyuningsih menerangkan bahwa setiap anak memiliki potensi tumbuh dan kembang sesuai dengan porsi dirinya. Salah satu tempat untuk melakukannya adalah di Sekolah Dasar.

Pendidikan Sekolah Dasar memiliki tujuan diantaranya memberikan bekal kemampuan dasar baca tulis hitung (calistung), pengetahuan dan keterampilan serta etika yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan dan persiapan siswa untuk mengikuti pendidikan di SMP.

“Sekolah dasar tentu memiliki karakteristik tersendiri bagi peserta didiknya yaitu Suka bermain, memiliki Rasa ingin mengetahui yang besar, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan gemar membentuk kelompok sebaya,” tandasnya. (rd/daf)

 

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Pebri Mulya