Lipsus 1 pinjol
Lipsus Radar Depok

RADARDEPOK.COM  – Dunia pinjaman online (Pinjol) memang menggiurkan. Dengan bermodalkan gadget dan identitas pribadi, uang tunai segera cair ke rekening peminjam. Siapa sangka, lama kelamaan bunga yang harus dilunasi melampaui pokok pinjaman. Bahkan, bisa berlipat-lipat ganda.

Hal ini kerap terjadi kepada masyarakat yang kurang menguasai perjanjian peminjaman, tergesa-gesa karena kebutuhan mendesak. Akibatnya, tidak membaca syarat dan ketentuan yang berlaku. Alhasil, peminjam kerap diburu para tim eksternal dari pihak pinjaman online.

Salah satu yang pernah mengalami diburu pihak eksternal : Desi Wihanda, seorang ibu satu anak yang berdomisili di Jalan Kober, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya. “Pernah alami sekitar dua kali. Karena saya minjam dua kali dengan nominal Rp1 juta dan1,5 juta. Dengan kurun waktu pengembalian enam bulan,” katanya.

Di selasar rumhanya Desi menyebut, pada pinjaman awal hanya menerina sekitar Rp900 ribu karena dipotong biaya administrasi. Lalu dengan cicilan setiap bulan Rp330 ribu dan berlangsung selama enam bulan. Bulan ketiga sampai keenam dia tidak melakukan pembayaran, karena sang suami dirumahkan. Sehingga penghasilan perbulan sudah tidak ada.

Kejadian perburuan diawali dari sini. Saat bulan keenam seharusnya lunas, tapi menunggak tiga bulan sejak bulan ketiga. Hal ini membuat ia resah karena menerima berbagai macam pesan yang mengingatkan untuk melakukan pembayaran. “Di telpon iya, di Whatsapp iya, di SMS iya. Setiap saat, sehari bisa sampai 10 pesan yang masuk HP saya. Ini yang buat saya risih, memang saya belum bayar karena suami tidak kerja lagi,” tambahnya.

Desi pun berembuk dengan sang suami untuk pinjam ke tetangga dan kerabat, guna membayar lunas seluruh uang pinjamannya yang masih menunggak. Alhasil pinjaman uang di dapat dari kerabatnya agar tidak terus diburu tukang tagih.

Tapi siapa sangka, kata Desi, beberapa hari kemudian pihak eksternal sampai di rumah kontrakannya. Ada empat orang yang datang menggunakan sepeda motor. “Tidak ada ancaman apapun, mereka hanya minta pelunasan. Saya sudah siapkan uangnya. Katanya memang harus bayar secara langsung ke eksternal kalau sudah lewat dari batas waktu,” paparnya.

Lain halnya pinjaman kedua yang sebesar Rp1,5 juta, karena sudah tahu peraturannya ia memberanikan diri lakukan pinjama kembali, tanpa sepengetahuan suami. Uang tersebut juga untuk menambah kebutuhan rumah.

Tapi perburuan kembali terjadi. Kali ini, karena Desi tidak lakukan cicilan dari awal dan sudah lewat batas waktu. Alhasil seluruh kontak yang diajukan peminjam dihubungi pihak pinjaman online, baik suami, saudara, hingga kerabat. “Semua kontak yang saya sertakan di telpon. Risih mah pasti ya, malu kalau teman atau saudara tahu kita sedang ditagih utang,” lanjut Desi.

Namun yang tetap membuat dirinya tenang adalah pinjaman online tersebut terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Karena meyakini melakukan penagihan manusiawi dan dalam taraf yang wajar, itu karena memang dari kesalahan peminjam.

Tak hanya itu, Desi menuturkan, bunga yang dibebankan kepada peminjam tidak lebih dari 30 persen total pinjaman. Jika telah melewati batas cicilan, bunga akan tetap di 30 persen tidak bertambah, jadi hanya segitu maksimalnya.

Berbeda hal dengan Desi ibu rumah tangga. Salah satu pemuda biang kerok yang kerap memanfaatkan jasa pinjaman online tanpa membayar, Erick Gavrino. Dia beberapa kali melakukan pinjaman dengan kedok mencicil sebuah gadget dari jasa pinjaman online.

Salah satunya kelakuannya yang berhasil ialah mencicil gadget merek Xiaomi dengan harga Rp1,9 juta, yang setiap bulannya harus membayar sekitar Rp250 ribu hingga 10 bulan. Namun, pembayaran hanya dilakukan satu kali, lalu menghilangkan jejak. “Saya dapat hapenya, beberapa hari kemudian saya jual, jadi saya dapat uang,” ungkap Erick.

Dia menjelaskan, saat melakukan peminjaman juga wajib foto diri bersama kartu identitas. Tapi dia mampu mengelabuhi, terbukti saat pengambilan handphone yang diantarkan ke alamat palsu oleh seorang kurir.

Namun dipastikan Erick jika kurir bisa diajak kompromi dengan berbagai alasan, agar kediamannya tidak menjadi lokasi pengantaran handphone. “Nanti kita dihubungi kurir, mereka mau ke rumah antar barang. Bisa kita atur ketemu di jalan atau di daerah lain,” ucapnya.

Kejadian tersebut telah dilakukannya beberapa kali, namun dengan identitas berbeda. Karena membuat suatu identitas bisa dilakukan di kelurahan, terlebih jika kenal orang dalam kelurahan. Identitas bisa dimanipulasi sehingga yang di datangi adalah alamat yang salah.

Kini, pusaran penipu tersebut semakin luas, ada beberapa titik, di Pondok Gede, Priuk Jakarta Utara, Depok, hingga Bekasi. Hal ini karena rekan Erick berdomisili dimana-mana, jadi mulai mengikuti permainan penipuan. “Tetap jangan lakukan sesering mungkin, pasti ketahuan. Saya sudah sekitar 3 tahun begini. Saya juga akan stop sebentar lagi, karena pasti akan terbongkar,” tegas Erick.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar