Godong Ijo
ILUSTRASI : Lokasi wisata Godong Ijo yang berada di Kota Depok. ist

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Seiring dengan penyematan status Zona Kuning untuk Kota Depok. Sejumlah area publik mulai dibuka. Pusat perbelanjaan, seperti mal hingga bioskop sudah buka. Kini pertanyaannya, kapan destinasi wisata di Kota Belimbing bisa kembali buka.

Nyatanya, hingga Kini Pemkot Depok belum membahas soal itu. Alasannya, masih menunggu arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Ketua Harian Tiga Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Sri Utomo menegaskan, pengenduran kawasan wisata belum menjadi pembahasan oleh tim Satgas Kota Depok.

“Hingga kini belum ada pembicaraan. Dan kami akan diskusikan juga dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok dan dinas terkait,” ucapnya kepada Radar Depok, Jumat (17/9).

Sampai saat ini, kata dia, Kota Depok masih berpedoman kepada Keputusan Walikota Depok nomor 443/395/Kpts/Huk/2021 tentang perpanjangan kedua Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3 Corona Virus Disease 19.

“Kami juga masih terpaku dengan kebijakan tersebut, sehingga untuk kawasan wisata masih akan dibahas untuk kedepannya seperti apa,” terangnya.

Tetapi, terang Sri, nantinya jika memang sudah dibuka, baik pengelola ataupun pengunjung harus tetap memperhatikan seluruh protokol kesehatan yang diberlakukan.

“Setelah ada kebijakan, yang jelas semua harus mengikuti semua pedoman yang ada. Terutama dalam penerapan Protokol Kesehatan (Prokes),” bebernya.

Sebelumnya diketahui, beberapa tempat wisata di Indonesia sedang memasuki masa uji coba pembukaan. Salah satu aspek yang diujicobakan adalah penggunaan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk pengunjung.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menjelaskan, aplikasi PeduliLindungi sudah diinstalasikan di beberapa tempat wisata. Saat ini, aplikasi tersebut sedang coba digunakan sebelu mmenerima pengunjung.

Sebagian sudah. Aplikasi PeduliLindungi sudah diinstalasi, diimplementasikan,” tutur Sandi.

Dengan uji coba itu, Sandi yakin pertumbuhan industri kreatif dan pariwisata akan makin masif. Sebab, sudah hampir 5 bulan sektor tersebut tutup.

Kita makin yakin bahwa dengan aplikasi tempat-tempat wisata yang 20 minggu lalu ini terbuka kesempatan bagi tempat wisata dan sentra dan industri kreatif untuk uji coba,” beber Sandi.

Untuk Surabaya, Sandi sedang melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur. Nanti, kepala dinas pariwisata mengajukan surat pembukaan.

Mereka yang akan mengajukan kepada kami. Kami akan melakukan evaluasi. Seandainya diajukan, akan kami pertimbangkan,’’ kata Sandi.

Sandi juga sedang mengkaji aturan aplikasi PeduliLindungi yang melarang anak-anak di bawah usia 12 tahun untuk masuk ke mal dan tempat wisata. Saat ini pihaknya sedang melakukan evaluasi aturan tersebut.

Sekarang kita evaluasi PeduliLindungi. Ini akan terus kita perluas, kita sosialisasikan untuk anak-anak di bawah 12 tahun akan ada pengecualian,’’ papar Sandi.

Aturan itu akan didasarkan pada diskresi atau kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Juga Satgas Covid-19 setempat. “Tapi kita mendorong PeduliLindungi ini menjadi salah satu standar yang diutamakan dalam pembukaan destinasi wisata dan sentra kreatif,” ucap Sandi.

Soal aplikasi PeduliLindungi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Depok, Manto mengaku, belum mengetahui secara detail ihwal penggunanya. Termasuk di Kota Depok.

Pasalnya, aplikasi tersebut dirilis oleh Kementerian Kominfo RI. Namun secara keseluruhan, PeduliLindungi sudah 10 juta orang yang mengunduh.

“Untuk berapa banyak yang mendownload di Depok kita belum tahu, karena aplikasi PeduliLindungi di rilis oleh Kementrian Kominfo RI,” ujarnya kepada Radar Depok, Jumat (17/9).

Aplikasi PeduliLindungi termasuk perangkat yang diandalkan pemerintah, untuk bisa membawa masyarakat keluar dari krisis pandemi Covid-19. Sayangnya, aplikasi ini ternyata menyimpan sederet kekurangan dan kelemahan pada saat ingin digunakan.

Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha menjelaskan, yang kini acapkali dikeluhkan masyarakat (tentang PeduliLindungi) adalah eror dan lambat pengaksesan. “Suka lambat dan error saat mau digunakan,” jelasnya.

Ia menerangkan, data sertifikat vaksin dan data pribadi akan terjaga dengan aman. Sejauh ini, belum ada permasalahan kebocoran data sampai saat ini. “Masih aman,” tukasnya.

Pengelola Mesti Punya Sertifikat CHSE

Pemerintah Kota Depok masih belum menentukan waktu uji coba pembukaan tempat wisata dalam masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 saat ini dimulai. Hingga saat ini, putusan kebijakan tersebut menunggu Surat Keputusan (SK) baik dari dari Walikota.

Kepala Disporyata Kota Depok, Dadan Rustandi menuturkan, senada dengan Satgas, pihaknya juga masih menunggu SK digelontorkan secara resmi dari pusat sampai ke daerah, salah satunya ke Kota Depok.

“Saat ini, kami menunggu SK terlebih dahulu soal pembukaan kembali tempat destinasi wisata di Kota Depok,” ujarnya.

Dadan menegaskan, pengelola destinasi wisata harus bertanggung jawab secara penuh baik dari pengunjung, dan karyawan, bila terdapat lokasi atau tempat wisata yang telah membuka terlebih dahulu sebelum adanya SK.

“Mereka wajib bertanggung jawab secara penuh. Tetapi ada baiknya menunggu peraturan resmi dari pusat maupun pemkot, demi kebaikan bersama di sisi kesehatan serta keselamatan masyarakat,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok, Tatik Wijayati menerangkan sebagai salah satu upaya persiapan pembukaan kembali objek wisata di Kota Depok. Pihaknya mendorong pengelola maupun lembaga untuk memiliki sertifikat Clean, Health, Safety, and Environment (CHSE).

“CHSE juga sebagai persiapan menghadapi reopening tempat-tempat wisata, hotel, mice, kafe, maupun restoran. Kami terus memberikan pembinaan agar mereka bisa mendapatkan itu,” tuturnya.

Dikatakannya saat ini, pihaknya terus mendata pelaku usaha yang memiliki sertifikat tersebut. Meski begitu, tercatat sejumlah sektor pariwisata sudah memenuhi CHSE.

“Nah ini kami baru mendata. Kalau tempat wisata kaya Godong Ijo sudah punya CHSE, lalu Kinasih Resort Depok, kemudian Hotel-hotel besar di Margonda semuanya sudah CHSE,” tuturnya.

Adapun syarat yang harus dipenuhi demi memperoleh sertifikat antara lain, memiliki TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata), atau Nomor Induk Berusaha bagi usaha skala mikro dan kecil, serta perizinan lain sesuai perundang-undangan. Kemudian memenuhi sejumlah indikator penilaian.

“Kemudian untuk mendapatkannya, mereka harus diverifikasi tempat usahanya terkait indikator CHSE. Jika sudah selesai dan nilainya memenuhi, maka akan keluar suratnya,” tandasnya.

Sekedar informasi, Pemerintah akan melakukan uji coba pembukaan tempat wisata di kota-kota yang menerapkan level 3. Rencananya, akan ada 20 tempat wisata di kota dengan level 3 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan implementasi platform PeduliLindungi.

Terpisah, Ketua Pokdarwis Situ Jatijajar, Taryono menegaskan, telah mempersiapkan 15 orang Satgas Covid-19 Khusus untuk menerapkan protokol, bila wisata telah dibuka. Sehingga penerapan dapat berjalan dengan baik, karena ada petugas yang memang ditugaskan untuk fokus menerapkan protokol kesehatan.

“Kami telah melatih diri, mempersiapkan tim satgas kecil di lingkungan situ. Jadi kami siap membuka wisata masyarakat di Situ Jatijajar,” jelasnya.

Dirinya memastikan, hingga saat ini memang belum ada kepastian, untuk pembukaan tempat wisata. Masih menanti regulasi keputusan pusat hingga daerah.

Menurutnya, pihak wisata tentu menanti peraturan yang jelas, agar tidak melanggar ketentuan. “Pasti kami menanti aturan pastinya. Biar kami jadikan acuan,” kata Taryono.

Dilokasi berbeda, Koordinator Pemasaran Wisata Studio Alam TVRI, Doko Sumarto menambahkan, jika belum mempersiapkan apapun terkait rencana pembuakaan tempat wisata. Hal ini dikarenakan pemerintah belum membuat keputusan pasti hingga ke teknis.

“Intinya kami menunggu keputusan pasti dari pemerintah sampai kepada teknis,” tambahnya.

Dirinya selalu siap dalam memberikan pelayanan rekreasi masyarakat Depok, sebab hiburan menjadi salah satu meningkatkan imun tubuh.

Jika dalam situasi normal, studio alam dalam sehari menampung 5 ribu pengunjung. Namun jika harus menerapkan 50 persen dari kapasitas total pengunjung, pihak studio alam siap dengan segala peraturan.

“Pasti kami ikuti aturannya. Baik prokes ketat hingga membatasi pengunjung agar mengantisipasi penyebaran,” ungkap Doko.

Ia memastikan jika seluruh sarana dan prasarana telah dipersiapkan menyambut pembukaan tempat wisata. Sterilisasi juga dilakukan selama penutupan studio alam, penyemprotan disinfektan hingga mempersiapkan pengecekan suhu tubuh dan hand sanitaizer. (tul,cr1,daf,arn,jpg)