epidemologi
Pengamat Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono

RADARDEPOK.COM – Sudah saatnya masyarakat Kota Depok tidak leha-leha akan kasus Covid-19. Diperkirakan gelombang ketiga Covid-19 terjadi pada pasca libur Natal dan Tahun Baru, tepatnya Januari 2022. Kendati demikian, fenomena ini dinilai tak separah kasus pada badai Pandemi Juli 2021. Dasarnya, karena vaksinasi di Kota Depok pada dosis kedua di atas 50 persen.

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, gelombang ketiga Covid-19 diperkirakan terjadi pasca akhir tahun nanti usai libur Natal dan Tahun Baru. Tetapi, kemungkinan jumlahnya tidak sedahsyat Juli pasca lebaran, dengan catatan cakupan vaksinasi dosis kedua telah menyentuh 50 persen.

“Kalau vaksinasi itu mencapai 50 persen dosis kedua atau lebih maka gelombangnya akan kurang dari 10 ribu kasus per hari. Karena Depok sudah lebih dari itu, menurut saya si hanya 40-50 kasus di gelombang ketiga,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Kamis (21/10).

Tri Yunis menyebut, sebetulnya gelombang pertama Covid-19 terjadi pada Januari 2021 dengan kasus harian 18 ribu. Selanjutnya, gelombang kedua pada Juni atau Juli 2021, di Jawa-Bali kasusnya menyentuh 54 ribu.

“Nggak akan lebih dari Juli. Karena Juni atau Juli itu saya menyebutnya bahkan kaya badai. Kalau sekarang kita lihat, seolah-olah kasus Covid-19 menurun,” bebernya.

Fenomena ini menurutnya, terjadi ada beberapa hal, seperti jumlah swab dan testing sedikit, tracingnya sedikit, didukung capaian vaksinasi di atas 50 persen. Lalu, kasus-kasus kecil juga sudah tidak lagi diperiksa.

“Kebanyakan orang sekarang sudah punya kekebalan tubuh. Pembatasan sosial yang sangat panjang dan kacaunya metode tracing menjadi penyebab laporan kasus Virus Korona merosot,” tuturnya.

Menurutnya, pemerintah dapat berkaca dari pengalaman untuk mengantisipasi gelombang ketiga ini. Diantaranya perlu melakukan perbaikann surveilans atau pelacakan kasus dimulai dari sekarang.

“Jadi, bukan Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diketatkan, tetapi surveilans yang harus dipastikan dari sekarang. Apakah surveilans atau tesnya memang sudah menangkap dengan baik kasus yang ada di masyarakat, dari satu kasus saja, hanya delapan orang yang di tes,” tegasnya.

Lebih lanjut, ungkap Tri, pemerintah juga harus meningkatkan capaian vaksinasi dosis kedua serta berhati-hati terhadap pelonggaran PPKM yang telah masuk ke level 2. Upaya-upaya penanggulangan Covid-19 dinilainya sudah cukup baik, contohnya dukungan Palang Merah Indonesia (PMI) dengan disinfektan.

“Harus sangat hati-hati, hal tersebut agar adanya kemungkinan gelombang ketiga menjadi kecil. Masyarakat Kota Depok juga harus taat prokes karena saya liat sekarang kendor,” tandasnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data vaksinasi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Kamis (21/10). Dosis pertama telah menyentuh 69,58 persen atau 1.112.672 orang dan dosis kedua mencapai 52,21 persen atau 842.454 orang serta dosis ketiga atau booster 0,70 persen atau 11.289 tenaga kesehatan (nakes).

Sementara, perkembangan kasus Covid-19 Kota Depok Rabu (20/10), Kasus Konfirmasi mengalami penambahan sebanyak 39 kasus sehingga totalnya 105.263 kasus. Kasus Konfirmasi aktif bertambah 18 kasus dengan jumlah 162 orang dinyatakan belum sembuh dari paparan virus Korona. Pasien sembuh turut mengalami penambahan 19 orang, sehingga totalnya menjadi 102.959 orang, dan kasus meninggal meningkat dua orang dengan total 2.142 orang

Selanjutnya, perkembangan kasus Covid-19 Kota Depok Kamis (21/10), Kasus Konfirmasi mengalami penambahan sebanyak 17 kasus, sehingga totalnya 105.280 kasus. Kasus Konfirmasi aktif bertambah 4 kasus dengan jumlah 166 orang dinyatakan belum sembuh dari paparan virus Korona. Pasien sembuh turut mengalami penambahan 13 orang, sehingga totalnya menjadi 102.972 orang, dan kasus meninggal 0 kasus sehingga total 2.142 orang.(daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar