komandan ODGJ
COPOT ATRIBUT : Babinsa Pasput, Serda Edy sedang mencopot seragam PDL TNI-AD yang digunakan seorang ODGJ. FOTO : INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, PASIR PUTIH – Ada kejadian unik pada proses pelaksanaan tugas patroli wilayah, yang dilakukan Babinsa Kelurahan Pasir Putih (Pasput), Kecamatan Sawangan, pada Rabu(20/10). 

Pada saat Babinsa Pasput, Serda Edy sedang memantau pelaksanaan kegiatan Maulid Nabi di Masjid Ar-Rahman, RW 03 Kelurahan setempat, dia dihampiri seorang pria berbaju loreng pakaian dinas lapangan (PDL) dengan sebuah tongkat besi yang dia himpit di ketiaknya selayaknya seorang komandan satuan militer. 

“Saya lagi nongkrong sambil patroli di halaman masjid dengan warga, tiba – tiba ada pria nyapa saya sambil teriak selamat siang komandan,” ujar Serda Edy, menirukan logat sosok pria yang diduga memliki gangguan kejiwaan tersebut. 

Sontak kejadian tersebut membuat warga setempat terkekeh, lantaran warga sudah tahu bahwa yang menghampiri Serda Edy adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) . Lalu dengan ramah Serda Edy meladeni ODGJ itu. 

“Dia bilang ke saya, kenalan dulu saya juga komandan. Karena warga pada ketawa ya sekalian saya ikut lucu – lucuan aja. Saya jawab ke ODGJ-nya siap senior,” tuturnya. 

Serda Edy mengaku kebingungan lantaran ODGJ ini bisa memakai atribut TNI-AD lengkap dengan tanda pangkat dan lambang satuan Mabes-AD. Akan tetapi, lencana yang tersemat di dada ODGJ itu tidak satupun yang menandakan lambang kemiliteran. 

“Yang bersangkutan memang dikenal kurang waras dan sangat cinta dengan TNI. Maka itu saya gunakan penertiban secara persuasif kepada yang bersangkutan,” ujarnya. 

Dengan sopan Serda Edy meminta pria ODG tersebut untuk melepaskan bajunya, akan tetapi yang bersangkutan sempat melakukan penolakan lantaran tidak terima seragamnya ingin disita. 

“Saya mau copot diomelin sama dia. Dia bilang atribut komandan kok mau kamu copot,” bebernya. 

Namun, berkat keramahan dan ketenangan Serda Edy dalam menghadapi ODGJ, akhirnya seragam itu bisa dilepas. Serda Edy langsung melepas lambang kesatuan, lambang pangkat tingkat Sertu, papan nama, dan logo TNI – AD. Baru setelah semua emblem dilucuti, baju loreng itu dikembalikan ke ODGJ. 

“Jadi pas saya lagi nyopotin semua lambang kesatuan dan pangkat dia sempat marah. Lalu saya jelasin kalau yang dipakai ini pangkat rendah nanti kamu diketawain orang, soalnya ini bukan pangkat komandan. Terus dia masih saja membuntuti saya kemanapun selama saya mencari alat untuk mencopot atribut ini,” terangnya. 

Setelah baju loreng kembali dikenakan ke ODGJ, Serda Edy sempat menanyakan dari mana dia mendapatkan seragam tersebut. 

“Saya bilang, ini bajunya kamu nyolong? Dia jawab dapet nemu di jemuran. Lalu saya tegaskan lagi kalau itu namanya nyolong, terus dia jawab lagi kalau nyolong itu di dalam rumah bukan di jemuran. Udah gitu saya di marahin sama dia karena dia bilang kamu sama komandan kok melawan. Ya saya ketawa sama warga,” imbuhnya. 

Setelah dinasehati Serda Edy, ODGJ tersebut pun berlalu untuk meninggalkan lokasi. 

“Setelah seragamnya saya pasangkan lagi, kami salam komando biar dia senang. Setelah itu dia pergi sambil berpesan ke saya hati – hati kalau jaga, dan saya jawab, siap senior, semua warga yang melihat ya ngakak,” tutupnya. (rd/dra)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Pebri Mulya