ketapel depok
CINTA KETAPEL : Pengrajin katapel, Conayio (34) saat menjelaskan pembuatan katapel di lokasi produksi, di kawasan Beji.

Mungkin permainan yang satu terkenal dengan jadul dan tidak modern. Tidak sekeren game di gadget anak masa kini. Tapi ini menjadi permainan di anak di tahun 90’an. Namanya ketapel. Permainan ini memang tergerus dengan zaman, tapi siapa sangka pemuda asal Kota Depok, Conayi (34), menjadi pengrajin yang mampu mengirim hingga ke mancanegara.

Laporan : Arnet Kelmanutu

RADARDEPOK.COM, Bahasa ketapel yang berasal dari bahasa Latin ‘Catapulta’ yang diserap dari bahasa Yunani yakni ‘Katapeltes’ mempunyai arti menarik yaitu kebawah dan melempar.

Seiring berjalannya waktu alat permainan itu berkembang hingga Nusantara Indonesa dengan nama ketapel. Hal ini dijelaskan Conayio, pengrajin ketapel yang berdomisili, Jalan Margonda, Kawasan Beji.

“Kurang lebih begitu artinya. Nggak asik kalau bahas sesuatu tapi nggak dari sejarahnya dulu,” kata pria bertato ini.

Meski dirinya mengakui alat permainan ini sudah sedikit peminatnya di kalangan milenial, lantas tidak membuatnya berhenti mengenal Katapel. Justru sebaliknya, mempelajari sampai menjadi pengrajin ketapel, yang kini dikirim ke berbagai negara.

Mulai dari dua tahun lalu, Conayio memutuskan untuk memproduksi mainan unik ini. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga jatuh cinta pada permainan ini, hingga mengenali jauh lebih dalam. Guna menghasilkan Katapel yang berkualitas. Terbukti pesanan yang datang dari berbagai negara, baik Eropa dan Asia.

“Nggak cuma ke luar negeri, di dalam negeri juga ada yang pesan. Alhamdulilah terus berlembang,” ungkap Conayio di ruang produksi ketapel.

Harga pun bervariatif, tergantung permintaan dari pemesanan. Misalnya penggunaan bahan baku, seperti kayu dan karetnya. Lalu, tingkat kesulitannya, hal itu yang mempengaruhi harga dari ketapel yang dinamai ‘Little Margo Apollo’.

Setiap harinya, Conayio bisa menyelesaikan ketapel dengan kualitas terbaik. Tiga sampai empat buah. Kesulitannya harus membentuk pola, kekencangan lemparan, hingga mengukur kedua sisi agar seimbang dan menciptakan lontaran yang baik. “Kadang bisa lebih kalau dengan kualita standar,” tambahnya.

Pembuatannya tergantung pesanan atau ketika dirinya senggang tidak ada pesanan, baru membuat ketapel yang kerap diturunkan untuk perlombaan atau pameran. Sebab bukan hanya dirinya yang mendalami dunia permainan ketapel, bahkan ada komunitas untuk bertukar ide dan pikiran.

Tak jarang, Conayio keluar sebagai pemenang bila ada perhelatan lomba katapel antar Komunitas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. (*)

Editor : Junior Williandro