Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Hidup ini memang penuh lika-liku. Banyak sekali jalan yang bisa mengantarkan seseorang untuk bisa sampai pada tujuannya. Sehingga tidak sedikit manusia yang tertipu jalan berliku. Ternyata di tengah jalan banyak rintangan dan hambatan. Secara rohanipun demikian. Banyak sekali manusia yang menempuh jalan lapang dan lempeng, tapi juga banyak yang menempuh jalan sesat. Untuk itu perlu adanya control diri dan evaluasi diri. Dengan cara bercermin pada jalan yang baik dan benar.

Ketika seseorang melakukan evaluasi diri, mungkin ditemukan kesadaran bahwa dia ternyata berjalan di atas jalan yang salah. Penuh dengan maksiat (dosa) yang ia lakukan. Dengan kesadaran tersebut, maka ia lalu mengambil langkah untuk bertaubat, memperbaiki diri. Dan itu adalah jalan yang benar, jalan yang harus ditempuh agar mencapai tujuan yang baik dengan cara yang benar. Maka sesegera mungkin ia bertaubat dan berjanji untuk berhenti dari perbuatan maksiat. Tapi sayang sekali banyak orang yang baru bertaubat, tiba-tiba sudah merasa menjadi orang baik, bahkan merasa dirinya menjadi Insan kamil (manusia yang sempurna). Padahal baru saja ia mengenal jalan baik dan belum punya kekuatan untuk menetapkan (mengokohkan) langkah baiknya itu.

Ketika ia merasa sudah baik, maka ia berhenti dari proses pertaubatan tersebut, sehingga tidak menutup kemungkinan terpeleset kembali ke jalan yang tidak benar. Untuk itulah perlu adanya Guru (muaddib) yang mampu membimbingnya senantiasa, sehingga ketika terpeleset dari jalan yang benar, akan segera diingatkan oleh Gurunya tersebut. Jadi kehidupan sehari-harinya harus didampingi oleh seorang Guru yang baik. Tidak cukup hanya bilang “saya bertaubat.” Walau dengan cara bertaubat yang benar, tapi belum tentu bisa menjaga secara konsisten akan pertaubatannya tersebut.

Maka salah satu cara untuk mempertahankan kebaikan dirinya setelah bertaubat, perlu Guru yang selalu membimbing, bukan sekedar mengajar, tanpa ada ‘alaqah ruhiyah (hubungan batin) antara Guru dan muridnya. Hubungan batin tersebut bisa dicapai dengan cara berhidmah kepada guru dengan tulus ikhlash. Maka belajar itu hakikatnya tidak sekedar mengambil Ilmunya guru saja, tanpa pengabdian. Tapi belajar dan disertai pengabdian yang penuh ketulusan. Sehingga gurunya pun akan memberi bimbingan yang lebih dari sekedar yang dibutuhkan.

Dan ini terjadi hanya pada Guru spiritual yang mengerti akan adanya kebutuhan batiniyah sang murid. Jadi Guru itu tidak cukup hanya transfer of knowladge (menyampaikan ilmu pengetahuan) saja tapi juga harus membangun komunikasi kebatinan dua arah, antara guru dan murid. Sehingga muridnya akan selalu terkontrol dan terbimbing sampai menjadi kokoh dan kuat Iman dan Islamnya. Dan murid adalah amanat dari Allah swt yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya, layaknya amanat–amanat yang lain. Semoga kita semua bisa menjadi murid yang sekaligus mengabdi pada guru-guru kita. Seperti halnya prinsip Imam Ali  bin Abi Thalib R.A. yang sangat menghormati gurunya dengan ucapannya yang terkenal : “saya siap menjadi pelayan guruku, walaupun hanya mengajar satu huruf kepadaku. Atau “saya adalah budak bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf.” Wallahu a’lam.(*)

Editor : Fahmi Akbar