korban susur sungai
MENGENANG: Abdullah Sajat (46) dan Wahyu Indratri (45) bersama anak pertamanya saat bercerita sambil menunjukkan foto anak ketiganya, Mohammad Kafka Firmansyah (12) yang menjadi korban dari peristiwa susur sungai. FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Orang tua mana yang tak menitikkan air mata, bila mendengar kabar sang buah hati tiba-tiba dikabarkan meninggal. Begitupula dengan pasangan Abdullah Sajat dan Wahyu Indratri, orang tua dari Muhammad Kafka Firmansyah  yang tenggelam saat mengikuti kegiatan susur sungai di Sungai Cileuer, Leuwi Ili Dusun Wetan RT1/1, Desa Utama, Cijeungjung, Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10) malam.

Laporan : Daffa Syaifullah

Sebuah gawai digenggam Abdullah dengan erat seraya memandang dengan tatapan kosong. Dalam layar, foto Firman (sapaannya almarhum anaknya) sedang tersenyum sembari memeluk Al-quran disertai mengenakan peci hitam.  Anak ketiga dari tiga bersaudara itu kelahiran 26 Juli 2009. Hatinya remuk, dadanya pun sesak sambil sesenggukan, mengenang momen bersama sang anak sebelum berangkat mondok di MTs Harapan Baru Cijeungjing, Ciamis.

Saat berada bersama keluarga, Firman dikenal sebagai anak rajin yang kerap membantu membersihkan rumah maupun di lingkungan sekitar rumahnya. Canda tawa pun selalu hadir tatkala Firman berkumpul dengan kedua orang tua serta dua kakak kandungnya, yang semuanya wanita.

“Saya sama sekali gak nyangka (Firman) bisa seperti ini (tewas tenggelam di sungai),” terang Jajat –sapaan akrab Abdullah Sajat-.

Jajat mengaku, Firman adalah anak baik-baik yang memutuskan untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Tepat tiga bulan lalu, dia mengantar sang anak mencari sekolah mana yang menjadi pilihan Firman. MTS Harapan Baru dipilih Firman.

“Baru tiga bulan dia masuk pesantren, saya anterin mulai dari di Depok sampai akhirnya milih disini (Ciamis). Firman memang anak yang baik, dia mau masuk pesantren buat belajar agama lebih baik lagi,” ucapnya didamping istri dan anak pertamanya.

Pertemuan terakhirnya bersama istri dengan Firman terjadi pada dua bulan lalu atau satu bulan setelah Firman masuk pesantren. Tak ada firasat apapun. “Harusnya hari ini saya ke sana (pesantren Firman) jenguk dia, tapi kenyataannya malah begini,” terangnya sambil sesenggukan menahan tangis.

Jajat mengingat kembali anak bungsunya itu sempat meminta pulang ke rumah. Permintaan Firman itu diutarakan kepada keluarganya lewat video call tepat akhir pekan lalu.

“Dia bilang mau pulang. Tapi saya bilang nanti dulu ya nak, sabar, nanti kita ketemu lagi. Mungkin dia kangen karena memang belum pernah berpisah jauh dan lama,” ungkap Jajat sambil mengingat masa itu.

Pada peristiwa naas itu terjadi, kegiatan susur sungai yang diikuti anak ketiganya itu tidak ada informasi kepada orang tua dari pihak sekolah. Padahal, biasanya pihak sekolah akan memberitahu sejumlah kegiatan yang akan dijalani Firman saat berada di pondok.

“Biasanya kalau mau kegiatan apapun gitu pasti kirim ke hape, mau mulai belajar atau apapun. Tapi kalau kegiatan kemarin (susur sungai) gak dikabarin sama sekali,” terangnya.

Di hari yang sama, Jajat menaruh curiga lantaran banyak pesan dari grup whatsapp sekolah putranya itu, bahkan sampai puluhan. Pria berumur 46 tahun itu tak menghiraukan jika ada pesan masuk dari grup itu.

Setelah mengecek, rupanya pesan yang masuk berupa foto-foto tentang kejadian susur sungai. Dari puluhan gambar itu, satu diantaranya menampilkan nama-nama korban yang ada di sebuah rumah sakit di wilayah Ciamis.

“Saya kaget, tiba-tiba foto list nama itu dihapus sama pengirimnya. Padahal saya sebelumnya lihat ada nama anak saya di daftar itu, saya langsung bertanya kenapa di hapus fotonya dan menelepon yang ngirim,” kesalnya.

Tidak sabar menunggu, Jajat kemudian mencoba mengulik informasi di beragam grup media sosial atas peristiwa yang merenggut nyawa putranya itu. Alhasil, kebenaranpun didapatkan ada yang menginformasikan peristiwa yang menelan belasan korban dari sekolah tempat sang putra dititipkan.

“Lalu, saya langsung cari-cari informasi lagi tentang putra saya ke pihak sekolah. Ternyata benar ada kejadian (tenggelam saat susur sungai),” ucapnya sambil kemudian menangis.

Bocah 12 tahun itu usai ditemukan kemudian dibawa ke Depok pada Sabtu (16/10) 06:30 WIB.  Isak tangis keluarga dan sanak saudarapun pecah tetiba jenazah sampai di rumah duka, Kampung Cikumpa RT6/5 Kelurahan/Kecamatan Sukmajaya. Almarhum langsung dimandikan, disalatkan, dan dikafani

“Jam 09:30 WIB, anak saya akhirnya dimakamkan di makam keluarga, Jalan Haji Japat, Lingkungan Cipayung RW1, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya. Saya betul-betul merasa kehilangan,” jelasnya.

Sementara, korban lainnya Siti Jahra Anjani langsung dibawa pihak keluarga ke kampung halamannya di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat untuk dimakamkan. Warga setempat menilai, orang tua Jahra merupakan sosok ustad yang rajin mengurus masjid tak jauh dari kediamannya.

“Keluarganya di Tasikmalaya semua, kemungkinan sampai 14 hari. Bapaknya ustad dan aktif di masjid sini (wilayah RW5 Kampung Cikumpa, Kelurahan/Kecamatan Sukmajaya),” tutup Ketua RW5 Kelurahan Sukmajaya, Waris.(daf/rd)

Editor : Fahmi Akbar