tinjau
TINJAU : Walikota Depok, Mohammad Idris saat meninjau prokes pada  PTMT di SDN Sukatani 7, Kecamatan Tapos, Senin (4/10).

RADARDEPOK.COM – Hari yang dinantikan orang tua dan siswa berlangsung juga. Senin (4/10), sedikitnya 1.200 sekolah jenjang PAUD, TK, SD, SMP dan SMA di Kota Depok serentak memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Tapi jangan senang dulu, di masa transisi selama dua bulan PTMT, pemerintah kota (Pemkot) Depok bakal melakukan swab antigen secara acak ke setiap sekolah.  Jika ditemukan siswa atau guru positif sekolah akan ditutup sementara.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, pagi ini (Kemarin) meninjau penerapan protokol kesehatan (Prokes) pada PTMT di SDIT Amal Mulia di Sukamaju Baru, dan SDN Sukatani 7. Dari hasil peninjauan tersebut dia menilai penerapan prokes sudah cukup baik, namun ada beberapa fasilitas yang perlu dilengkapi.

“Nantinya selama dua minggu, dua pekan akan datang, kami akan keliling lakukan swab test secara acak untuk memantau. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa,” tuturnya usai kegiatan, Senin (4/10).

Walikota menjelaskan, langkah ini merupakan upaya dari Pemkot Depok dalam mencegah penyebaran Covid-19. Jangan sampai kecolongan dan timbul klaster baru dari pelaksanaan PTMT. “Mereka rata-rata sudah divaksin, sehingga siap untuk PTMT. Terima kasih kepada para guru dan perangkat sekolah yang telah menyiapkan ini,” ucapnya.

tinjau wakil ptm
KEMBALI SEKOLAH : Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono saat monitoring Uji Coba PTMT di SMAN 3 Depok, Senin (4/10). FOTO : IVANNA/RADAR DEPOK

Terpisah, pada saat memonitoring SMAN 3 Depok, Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono mengatakan, terdapat 1.200 sekolah di Kota Depok yang melaksanakan PTMT. Pada hari pertama monitoring, dirinya melihat belum ada kendala. beberapa sekolah sudah mematuhi protokol kesehatan yang sudah di atur.

“Alhamdulillah berjalan lancar, Saya lihat sangat bagus dengan siswa yang masuk semuanya juga melengkapi alat-alat  yang di perlukan untuk masing-masing pribadi. Dari mulai masker cadangan, minum bawa sendiri, sapu tangan, dan handsanitizer,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Senin (4/10).

Imam menjelaskan, semua jenjang pendidikan sudah melakukan PTMT,  pihaknya juga mengantisipasi klaster yang mana setiap siswa memiliki jadwal masuk sekolah untuk menghindari kerumunan. Pemkot Depok juga akan mengadakan evaluasi jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

“Ada evaluasi jika terjadi hal-hal yg tidak diharapkan, kita akan stop pembelajaran ini apakah secara total atau persial. Sekolah-sekolah yang tidak mematuhi prokes akan kita tutup,” jelasnya.

Imam juga mengaku, akan melakukan swab antigen kepada guru dan siswa. Namun, untuk saat ini program tersebut belum terlaksana karena rata-rata siswa dan guru sudah melakukan vaksinasi. “Kita akan melakukan swab antigen secara berkala baik dari guru, maupun siswa. Untuk saat ini belum dilaksanakan karena rata-rata  siswa sudah divaksin, mudah-mudahan tidak ada lagi yang bergejala. Kalau bergejala sudah jelas tidak boleh masuk,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Wijayanto menerangkan, sekolah hanya boleh melakukan dua kali tatap muka dalam seminggu, dengan durasi waktu selama 120 menit. “Tetap dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti cek suhu sebelum masuk ke sekolah,” terangnya.

Wijayanto menjelaskan, Perwal membatasi jumlah siswa maksimal 50 persen di tiap kelas selama PTMT. Akibat pembatasan ini, tidak mungkin seluruh siswa bersamaan menjalani pembelajaran daring atau tatap muka. “Kan siswa diatur untuk masuk ke sekolah. Ada yang pengaturannya berdasarkan nomor absen ganjil-genap ataupun absen pertengahan,” bebernya.

Wijayanto menyebut, terdapat 33 SMP Negeri dan 214 SMP swasta yang memulai PTMT hari ini dengan sistem  hybrid yang  memadukan PTMT dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). “Seluruh SMP di Depok serentak dimulai PTMT hari ini. Tapi ya itu, secara hybrid,” ucapnya.

Menurutnya, PTMT akan digelar sampai Desember 2021. Lalu untuk semester 2 di Januari 2021, konsepnya diganti dengan Pembelajaran Adaptasi Pembiasaan baru. “Teknis pelaksanaan Pembelajaran Adaptasi Pembiasaan Baru ini akan kami tetapkan setelah mengkahi uji cobadi PTMT 3 bulan terakhir,” katanya.

Lalu, berbeda dengan SD dan SMP, Kasi Pengawasan Pendidikan Kepala Cabang Dinas (KCD) Wilayah II, Irman Khaeruman mengungkapkan, Jenjang SMA pun serentak memulai PTMT pada tanggal 11 Oktober 2021.  Terdapat  213 Sekolah SMA dan SMK Negri maupun swasta dan 90-92 persen yang siap melakukan PTMT. “Mayoritas tanggal 11 Oktober. Diharapkan pada PTM tanggal 11 ini diberikan semacam sosialisasi, edukasi dulu,” ungkapnya.

Irman menjelaskan, segala sesuatu di PTMT ada peraturan. Ada beberapa instrumen pengawasan yang sudah disampaikan ke semua sekolah. Dari instrumen-instrumen itu bukan hanya masalah sarana prasarana (sarpras), Tetapi kurikulum, penjadwalan dan  pengaturan siswa.

“Monitoring dilakukan pengawas sekolah, dibantu komite dan warga sekitar. Termasuk pembelajarannya seperti apa, berapa sesi setiap hari. Itu diatur oleh satuan pendidikan, disesuaikan dengan jumlah siswa yang ada di satuan pendidikan,” jelasnya.

Jika ada satu siswa yang terkonfirmasi positif, sekolah akan ditutup selama  14 hari sesuai dengan aturan yang di tetapkan. “Itu kebijakan dari Satgas Covid-19, mudah-mudahan tidak sampai 14 hari,” ucapnya.

Siswa SMAN 3 Depok, Zacky Mahendra yang duduk di bangku kelas X mengaku, lebih memilih PTM dibandingkan harus belajar daring, karena menurutnya. PTM lebih mudah di mengerti karena mendapatkan penjelasan secara langsung. “Mungkin kalau daring,  jaringannya kadang ngelag  terus pemahamannya kurang juga,” ujarnya.

Selain itu, siswa SMAN 3 Depok lainnya, Arya Muhafiz menambahkan, juga lebih memilih PTM karena dapat bertemu dengan teman-temannya. Dengan harapan, dengan di laksanakan PTM ini dapat menjadi lebih baik dan mendapatkan ilmu secara penuh. “Semoga setelah dilaksanakan PTM, jadi lebih baik aja dan kami dapat ilmu yang penuh,” tandasnya (van/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani 

Editor : Fahmi Akbar