peternak telur
AMBIL: Salah satu peternak di Jalan Kampung Kebon Duren, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Nisar saat mengecek kondisi telur ayam ras di kandang, Minggu (10/10). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Emak-emak yang biasa belanja buat kebutuhan keluarga, bisa segera menyerbu nih. Di pasaran, harga telur ayam ras di Kota Depok beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. Minggu (10/10), peternak mematok harga Rp16.000/Kg.

Salah satu peternak di Jalan Kampung Kebon Duren, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Nisar mengatakan, saat ini, dia memiliki 600 ekor ayam yang harus diberi makan setiap pagi dan sore. Biaya pakannya, yakni Rp6.300/Kg, dan sehari bisa menghabiskan 60kg.

“Untuk sehari hasilkan telur sekitar 20 kg. Saya jual Rp16.000 per kg langsung ke penjual telur seperti warung. Ya kalau dihitung malah keluar modal lebih saya,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Minggu (10/10).

Nisar menyebut, dalam seminggu, budget yang dikeluarkan hanya untuk membeli pakan unggasnya itu sebesar Rp3,3 juta, dengan jenis yang bagus. Sementara, kualitas dan kuantitas dari pakanan ayam tersebut tidak bisa dikurangi.

“Satu ayam itu membutuhkan 1 ons. Jika kurang dari itu, bisa mempengaruhi kondisi tubuhnya seperti kurus sehingga menyebabkan susah bertelur. Begitupun kalaupun diberi pakan dengan kualitas di bawah itu, bisa stress dan gak mau makan,” bebernya.

Peternak yang sudah merintis usaha dari 1983 itu mengaku, tak tahu mengapa harga telur ayam ras bisa anjlok sedemikian rupa. Biasanya, merosotnya paling lama sekitar 2-3 bulan saja, lalu stabil kembali. “Sejak ada Covid-19, harga telur lama-lama anjlok. Dari lebaran tahun ini lah harga terus anjlok ampe sekarang,” ucapnya.

Dengan kondisi seperti itu Nisar hanya bisa pasrah, dan berharap kondisi komoditas tersebut bisa kembali stabil di angka Rp20.000 per kg. Meski harga telur murah, justru permintaan telur berkurang, biasanya satu peti telur bisa langsung habis terjual dalam sehari.

“Saya pasrah aja. Semenjak harga telur anjlok,  satu peti aja kadang nggak ada yang ngambil bahkan saya bisa simpan stok sampai 10 peti. Tapi kalau harga telur lagi mahal ayam belum nelur aja udah banyak yang pesen,” tuturnya.

Senada dengan itu, salah satu pedagang Pasar Agung, Ari Margono mengungkapkan, saat ini, harga telur ayam ras sudah mulai merangkak naik. Dari Rp17.000 per kg, menjadi Rp19.000 per kg.

“Harga telur (yang saya jual saat ini) Rp19.000. Saya ambil untung sekitar 2-3 ribu, dan barangnya saya ambil dari Jawa daerah Blitar,” terangnya.

Ari menjelaskan, harga telur sebelumnya dari peternak, dia pernah beli di angka Rp13.000 per kg. Sehingga banyak orang yang menjual telur dipinggir jalan dengan harga obral Rp 16.000 per kg. “Kalau pedagang sih bisa ambil untung, yang kasian peternak karena ia harus ngikutin harga pasaran telur,” ujar Ari.

Penjual telur obral di pinggir jalan dengan harga yang di bawah pasaran, lanjutnya, menyebabkan para pedagang baik di pasar maupun warung terpaksa harus mengikutinya. “Sekarang jadi banyak banget yang jualan telur di pinggir jalan kasih harga obral. Itu juga salah satu penyebabnya harga jual telur anjlok,” tegasnya.

Terpisah, Kepala UPT Pasar Agung, Biher Purba mengatakan, harga telur bisa terbilang fluktuatif, jika terjadi peningkatan, hanya sekitar Rp500-1.000. Menurut pantauannya, baik dari pedagang maupun pembeli belum ada yang melaporkan keberatan atas harga telur itu.

“Dulu sempat Rp17.500 sampai Rp18.000. Sebagai konsumen, memang sangat merasakan terbantu,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan, jumlah pedagang telur di Pasar Agung adalah 6-7 pedagang. Harapannya, semua pihak dapat diuntungkan dan harga tetap stabil.

“Tetapi ini juga kita gak tau dari hulu apa gimana. Dulu sempat kan harga sampai Rp24 ribu per kg, tetapi sekarang udah di bawah Rp20 ribu, bagus,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Pasar Kemiri Muka, Wahyu Hidayat mengungkapkan harga telur disana juga mengalami penurunan. Per Jumat (8/10) harganya mencapai Rp18.000/Kg. “Kalau sekarang sekitar segitu lah. Anjlok kira-kira sudah dari tiga hari lalu,” tandasnya. (daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar