gedung tinggi jakarta

RADARDEPOK.COM – Jakarta bukan lagi sebagai daerah yang bisa dipandang sebelah mata dalam hal pencakar langit dunia.

Sampai 13 Oktober 2021, ibu kota Indonesia ini memiliki hutan beton yang mencakup 107 pencakar langit dengan ketinggian di atas 150 meter, 42 gedung menjulang di atas 200 meter, dan satu bakal supertall yang mengangkasa setinggi 382,9 meter.

Supertall tersebut adalah Autograph Tower yang berada di kompleks pengembangan multifungsi Thamrin Nine, Jakarta Pusat.

Konstruksi Autograph Tower telah mencapai tutup atap atau topping off pada Oktober 2020, dan kini sedang dalam proses penyelesaian tahap akhir (finishing).

Menurut Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH), kondisi ini menempatkan Jakarta di peringkat 12 dunia, kota dengan pencakar langit terbanyak.

Jakarta mengungguli Kuala Lumpur, Singapura, Melbourne, Beijing, Sydney, dan kota-kota maju dunia lainnya.

Sementara posisi jawara dipegang Hong Kong dengan 503 gedung di atas 150 meter, 84 gedung di atas 200 meter, dan 6 supertall. Berikutnya berturut-turut urutan kedua hingga kesebelas adalah, Shenzhen, New York, Dubai, Shanghai, Tokyo, Guangzhou, Chongqing, Chicago, Wuhan, dan Bangkok.

Sedangkan untuk tingkat Asia, Jakarta di posisi 9, dan Asia Tenggara di urutan ke-2 setelah Bangkok. Perlukah Indonesia membangun pencakar langit? Editor in Chief CTBUH Daniel Safarik mengatakan lugas, “Ya”, menjawab.

Menurut dia, kota-kota di Indonesia berkembang sangat pesat dan ketersediaan lahan untuk hunian makin lama kian menyusut.

Menggabungkannya dengan banyak bagian dari wilayah urban Jakarta, sebagai contoh untuk saat ini yang tenggelam di bawah permukaan laut, ke depan bangunan tinggi akan banyak dibangun.

“Mungkin lokasinya lebih jauh dari pantai dan di tanah yang lebih kokoh, tetapi di area dengan lahan terbatas,” kata Daniel.

Meminjam ungkapan lama Cass Gilbert, arsitek gedung Woolworth di New York, “skyscrapers are machines to make the land pay”, itulah alasan paling sederhana kenapa pencakar langit harus dibangun.

“Karena secara ekonomi masuk akal, di pasar tanah yang mahal dibangun gedung tinggi,” imbuh dia.

Meski demikian, Daniel mengakui, pencakar langit sebenarnya ditujukan sebagai simbol perkembangan dan kemajuan ekonomi suatu negara kepada dunia.

Namun, ada juga negara yang memang membangun pencakar langit hanya sebagai prestise, seperti Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab.

Dengan embel-embel “dekat Burj Khalifa”, maka harga tanah dan properti yang ditawarkan akan menjadi lebih mahal. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya