kondisi makam
BERSIHKAN: Petugas TPU Tirtajaya tengah merapikan salah satu makam, Rabu (6/10). DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Area Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Depok kian menyusut. Tercatat kini, hanya tinggal enam lokasi saja yang masih menampung jenazah, baik warga Depok maupun luar Depok.

Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) TPU, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Mohamad Iksan mengatakan, terdapat total 13 TPU yang dikelola langsung oleh Pemkot Depok. Antara lain, TPU Karabha Tapos, Cilangkap, Sukatani, Cimpaeun, dan Tapos.

“Lalu TPU Kalimulya 1,2, dan 3, TPU Tirtajaya, Sawangan, Pondok Petir, Pasir Putih, Bedahan. Dengan luas dan kapasitas atau daya tampung yang berbeda-beda,” ujarnya kepada Radar Depok, Rabu (6/10).

Iksan menyebut, sampai dengan saat ini estimasi TPU yang masih dapat menampung jenazah. Antara lain TPU Bedahan dengan luas 6 hektar sebanyak 18.400 lubang makam,TPU Pasir Putih dengan luas 8 hektar mempunyai kuota 25.000 lubang makam baik Covid-19 maupun umum.

TPU Tapos dengan luas 2,4 hektar estimasi masih punya kuota 6.513 lubang makam, TPU Cimpaeun dengan luas 4 hektar masih bisa menampung sebanyak 11.333 lubang makam. Selanjutnya TPU Sukatani dengan luas 8.000 meter persegi mempunyai kuota 2.100 lubang makam, dan TPU Cilangkap dengam luas 7.500 meter persegi masih bisa menampung 2.100 lubang makam.

“Untuk TPU Kalimulya 1,2,3 dan TPU Tirtajaya sudah overload. Kalimulya 1 sudah terisi 10.700 lubang makam, Kalimulya 2 4.200 lubang makam, Kalimulya 3 4.322 lubang makam, dan Tirtajaya 1400 makam. Tetapi kalau ingin mengisi juga, harus punya keluarga yang dimakamkan disini, nantinya bisa tumpang,” bebernya.

Rencananya, pada TPU Tirtajaya akan mendapatkan lahan tambahan dari pengelola Grand Depok City untuk menambah kapasitas jumlah lubang makam tersebut. “Insyaallah ditambah 6.000 meter persegi,” ucapnya.

Setiap TPU, lanjut Iksan, dijaga dan dirawat oleh para petugas makam dengan jumlah yang bervariasi. Seperti di TPU Tirtajaya misalnya, ada lima orang bersiaga untuk mengurus lokasi peristirahatan terakhir itu.

“Jumlahnya gak sama dan saya tanamkan kepada mereka yang penting membantu masyarakat dulu, Insya Allah rezeki akan ngikut. Mereka merapikan makam sesuai kesepakatan dari pihak keluarga, contoh mau dipasangi rumput dan dirapikan,” tuturnya.

Sebagai informasi bahwa masyarakat akan dikenakan biaya retribusi yang sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat.

Di dalamnya, tertuang bahwa bagi masyarakat Kota Depok (KTP/Domisili Depok) dikenakan biaya sebesar Rp100.000 per tiga tahun pertama, yang dibayarkan pada awal pemakaman. Kemudian, bagi masyarakat non Kota Depok (KTP luar Depok) dikenakan biaya sebesar Rp 1.000.000.

Kemudian ada biaya pemeliharaan makam sebesar Rp 25.000 yang dibayarkan saat awal. Jadi, total biaya untuk masyarakat Depok sebesar Rp175.000 dan masyarakat non Kota Depok Rp 1.750.000,” terangnya.

Biaya tersebut tidak dibedakan antara pemakaman jenazah Covid-19 dan jenazah umum. Dan biaya tersebut dengan rincian, izin pemakaman, penggalian, serta pengurukan. Bahkan, dirinya menegaskan tidak pernah mengintruksikan untuk meminta biaya, di luar biaya tersebut. “Di luar itu tidak pernah mengintruksikan teman-teman meminta, karena dari Pemkot sendiri tidak ada pungutan lagi,” tandasnya.

Di lokasi yang sama, Koordinator TPU Tirtajaya, Indra menjelaskan memang kondisi saat ini, lokasi peristirahatan terakhir itu sudah mengalami overload. Hanya tinggal tersisa beberapa lagi untuk dibuat lubang makam.

“Ya, hitungan jari lah. Soalnya dari 2014 orang-orang dari Depok Timur, Sawangan, dan lainnya pada memilih memakamkan sanak saudaranya ke sini,” tutupnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro