Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Setiap orang muslim pasti sudah mengetahui urgensi ajaran Islam. Bahkan sebagai pengamal ajaran Islam tidak sedikit yang merasakan kelebihan dari ajaran Islam yang banyak mengandung manfaat bagi kehidupan manusia. Baik sebagai ajaran yang menuntun jalan hidup maupun sebagai penuntun komunikasi yang baik antara manusia dengan Tuhannya. Dan yang lebih penting lagi adalah missi yang mendamaikan. Bahwa manusia hidup ini semuanya menginginkan kenyamanan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Ajaran Islam memang bersifat dogma yakni suatu yang harus dipercaya kebenarannya. Baik sudah mampu membuktikan filofis maupun logis ataupun belum mampu membuktikannya. Karena ajaran agama telah disertai dengan dalil-dalil yang termuat di dalam nash (tex) Al-Qur’an itu sendiri. Sehingga dalam memahami suatu nash tidak bisa berdiri sendiri (nash itu ansich) tapi harus ada keterkaitan tekstual dan kontekstual. Munasabah (keterkaitan) antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Dengan cara memahami nash yang tidak berdiri sendiri akan menemukan hakikat nash ataupun maqashid syari’ah yang diharapkan dapat dijadikan pedoman ataupun petunjuk pelaksanaan hukum yang terkandung di dalamnya. Bahkan secara teologis dapat memperkokoh iman seseorang. Maka dari situlah akan diperoleh pelaksanaan ajaran Islam yang luwes dan kreatif. Beberapa Ulama melahirkan konsep ke-Islaman dengan cara menggali penafsiran-penafsiran sebuah teks yang dihubungkan dengan situasi dan kondisi yang melingkupi. Maka dari itu bermunculan tafsir-tafsir salaf maupun tafsir kontemporer. Baik yang ma’tsur (tekstual) maupun yang kontekstual (bil ra’yi).

Dari beragamnya penafsiran nash Al-Qur’an akan memperkaya wawasan umat Islam. Tentu saja tidak terhindar dari masalah khilafiyah (perbedaan pandangan) antara satu Ulama dengan Ulama lainnya. Namun itu semua dilakukan dalam rangka tataran ilmiah yang bisa memperkaya wawasan umat Islam di berbagai lapisan. Sehingga umat bisa memilih dengan leluasa dari berbagai pandangan tersebut. Tentu saja tetap menjaga kredibilitas Penafsir yang memenuhi syarat-syarat sebagai penafsir (lahir- batin), baik persyaratan ilmiah (logika) maupun persyaratan batiniyah (spiritualitas penafsir).

Jadi intinya semakin banyak pandangan/pendapat Ulama, semakin memudahkan para pemeluk Islam dalam berkarya. Jangan sampai dengan beragamnya penafsiran, justru membanyak pertentangan (perseteruan) yang tidak produktif dan hanya menguras energy. Untuk itulah bisa berpegangan pada kalimat “Ikhtilafu ummati rahmatun : perbedaan di antara umatku bisa mendatangkan rahmat”. Dan tentunya ini menimbulkan sikap toleran atau tasamuh di antara sesama pemeluk islam. Dan kemudian mempersatukan umat Islam dalam satu kekuatan yang dahsyat.

Maka kaidah yang dipergunakan oleh mayoritas Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah “Al-Muhafadzatu alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Yakni memelihara ajaran yang lama (qadiem) dan mengambil ajaran (kebiasaan yang baru/jadied). Jadi bukan hanya sekedar tajdid (pembaharuan saja), tapi tetap mempertahankan ajaran lama yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, para Sahabat dan Ulama’-ulama’ salaf, juga mengembangkan pandangan Ulama’ muta’akhkhirin (kontemporer). Dengan begitu ajaran Islam berkembang, tanpa tercerabut dari akarnya. Semoga kita sebagai muqallid dan muttabi’ bisa memperoleh kemudahan dalam ber-Islam di bawah bimbingan Para Ulama’. Wallahu a’lam.(rd)

Editor : Fahmi Akbar