Ketua MUI Depok KH Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Seorang muslim mempercayai bahwa manusia terdiri dari dua unsur yang kelihatan nyata dan unsur yang abstrak (tidak kelihatan mata). Hal ini didasari pada ajaran agama yang merujuk pada Kitab Suci Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada seorangpun pemeluk agama Islam yang berani mengatakan bahwa manusia itu hanya terdiri satu unsur. Atas dasar keyakinan itulah, maka setiap muslim mentaati segala perintah Tuhan dan Rasul-Nya. Menjalankan ajaran Agama dengan penuh kepatuhan.

Demikian itu dimiliki oleh orang muslim pandai (Ulama’) maupun orang muslim awam (rata-rata). Sehingga tidak heran kalau umat Islam mudah disatukan dalam hal ibadah. Salah satu contohnya kepatuhan di dalam melaksanakan rukun Islam ke lima, yaitu Ibadah Haji ke tanah suci Mekah. Ribuan bahkan jutaan umat Islam mudah berkumpul dalam satu tempat (Masjidil Haram). Dalam kehidupan sehari-haripun seorang Muslim senantiasa merasa bahagia dalam beragama. Sekalipun tidak jarang orang muslim yang kurang menjalani Ibadahnya. Akan tetapi jika menyangkut pembelaan agama sangat giat. Misal saja, ketika seorang muslim dituduh kafir atau tidak beragama Islam, pasti akan sangat marah besar. Akan merasa tersinggung jika dikategorikan kelompok kafir atau munafik.

Mengingat hal itu disebabkan olehnya beragama Islam atau memeluk agama Islam, dengan melibatkan fisik (dzahir) maupun batin (hati). Agama dijalankan dengan dua unsur badan dan hati. Badan boleh lelah, tetapi hati tidak boleh lelah dalam beragama. Maka dari itu hampir semua orang muslim memiliki kecenderungan berkumpul atau mengumpul dalam suatu komunitas yang didirikan berdasar agama. Maka ketika seorang muslim itu rajin berjama’ah, dipastikan mereka lebih suka berkumpul sesama muslim. Dan tentu saja dalam konteks keagamaan yang dianutnya. Ketika seorang muslim –misalnya- berkehendak mendirikan tempat Ibadah (masjid atau mushalla), maka dengan segera muslim lainnya akan membantunya, sehingga segera terwujud tempat Ibadah yang diinginkan.

Maka dari itu seorang muslim pasti mudah mengelola hidupnya dengan melibatkan fisik maupun batinnya. Sebagai contoh, ketika selesai atau lulus sekolah; kemudian mencari pekerjaan/ingin bekerja, pasti didasarkan pada kemampuan fisik juga kemampuan batin atau rohani. Sebelum bekerja, hatinya bertanya apakah baik pekerjaan yang akan dijalani, atau tidak. Dengan cara istikharah sendiri atau minta petunjuk kepada Guru atau Kiai. Hal itu dilakukan untuk memantapkan hatinya, sehingga akan bekerja dengan tenang dan bahagia. Karena kepuasan batin telah diraih dengan kemantapan hati. Seandainya ia bekerja tanpa melibatkan hatinya, mungkin belum tentu  bisa bekerja dengan baik dan istiqamah.

Dan kebiasaan istikharah inilah sebenarnya seorang muslim telah mengokohkan hatinya. Bahkan dalam setiap shalatnya selalu diucapkan kalimat : Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbie alaa dienika.” Wahai Dzat Yang maha membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami pada agama-Mu. Dengan begitu jelaslah seorang muslim yang baik pada dasarnya telah berikrar bahwa dirinya beragama melibatkan jasad (fisik) sekaligus melibatkan unsur rohani (hati). Pertanyaannya adalah, sudahkan kita semua ini telah benar-benar beragama lahir batin. Kalau sudah, maka berbahagialah dalam keagamaan kita, sambil menunggu balasan pahala dari Yang Maha Kuasa, Allah swt.

Tapi kalau sampai hari ini, kita belum melibatkan hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari, maka sekaranglah waktunya kita mengetuk hati kita yang paling dalam, untuk menjalaninya dengan ikhlas. Karena dengan keikhlasan itulah akan muncul sikap tawakkal kepada Allah swt. yang menentukan baik dan tidaknya hidup kita ini. Semoga Allah swt. berkenan membuka pintu hidayah-Nya pada hati kita semua. Aamiin.(*)

Editor : Fahmi Akbar