merger sekolah
SD MERGER : Murid salah satu SD Negeri Kota Depok usai mejalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Selasa (12/10). ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok melakukan kebijakan penggabungan (merger) manajemen satuan pendidikan. Kurun 2021, sebanyak 26 SD Negeri dilebur hingga menjadi 12 saja.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Disdik Koa Depok, Wawang Buang menjelaskan, merger tersebut berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Nomor : 421/123/Kpts/Disdik/Huk/2021. Per 1 Juli 2021, proses penggabungan SDN tersebut telah selesai dilakukan.

“Dari 221 SD Negeri, sekarang menjadi 207 sekolah disebabkan merger ini. Kita satukan dua atau tiga sekolah dalam satu kawasan, guna mengefisienkan sarana-prasarana serta Tenaga Pendidikan dan Kependidikan (TPK),” ujarnya kepada Radar Depok, Selasa (12/10).

Wawang menjelaskan, selain dalam satu area, indikator lainnya seperti sekolah yang tidak memiliki peningkatan murid. Maka satuan pendidikan tersebut bisa digabung dengan yang lainnya.

Dia merinci, beberapa sekolah yang sudah dilebur dalam satu manajemen diantaranya SDN Beji 6 dan SDN Beji 7 menjadi SDN Beji 6, SDN Mekarjaya 5 dan 6 menjadi SDN Mekarjaya 5, SDN Grogol 1 dan 3 menjadi SDN Grogol 1. Kemudian, SDN Ratujaya 3 dan 4 menjadi SDN Ratujaya 3, SDN Depok Baru 2 dan 5 menjadi SDN Depok Baru 2, SDN Pasir Gunung Selatan 1 dan 3 menjadi SDN Pasir Gunung Selatan 1, serta SDN Depok Baru 8 dan SDN Depok Jaya 5 menjadi SDN Depok Baru 8.

Lalu, SDN Cisalak 1 dan 3 menjadi SDN Cisalak 1, SDN Baktijaya 3 dan SDN Mekarjaya 5 menjadi SDN Baktijaya 3, serta SDN Sukamaju Baru 2 dan 3 menjadi SDN Sukamaju Baru 2.

“Itu yang dua sekolah, yang tiga sekolah kita gabungkan adalah SDN Beji Timur 1, 2, dan 3 menjadi SDN Beji Timur 1, SDN Tugu 6, 8 dan 11 menjadi SDN Tugu 6,” pungkasnya.

Lebih lanju, Awang-sapaanya-menambahkan, pada 2022, pihaknya masih akan mengkaji terkait kemungkinan penggabungan satuan pendidikan. Sekitar satu atau dua sekolah lagi.

“Kami lihat ada beberapa sekolah yang punya kemungkinan digabung, contohnya SDN Citayam 1 dan 4 yang dalam satu area, cuma jumlah siswanya terlalu besar sampai 1.000 orang, ini yang perlu diperhatikan. Cuma sampai saat ini belum ada perencanaan,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro