korban AIA
MERASA DITIPU : Nasabah asuransi AIA menuntut kejelasan atas uang mereka.

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Bak bola salju, para korban yang dirugikan asuransi AIA mulai bersuara. Mereka jumlahnya banyak, dengan kerugian yang bervariasi.

Salah seorang korban, Yuliyah, terpaksa menanggung nestapa lantaran harus menanggung rugi cukup besar. Uang yang mestinya bisa dipakai untuk biaya masuk sekolah anaknya, justru kini entah dimana.

Kejadian bermula beberapa tahun lalu. Kala itu dia mau hendak membuka tabungan di salah satu bank swasta di Jakarta. Di lokasi, dirinya ditawari agen AIA untuk ikut tabungan pendidikan. Karena tertarik, ia pun ikut. Dua nama anaknya didaftarkan.

Setelah saya buka dua polis, yang saya tahunya itu tabungan pendidikan ternyata itu asuransi unit link,” katanya, Senin (18/10).

Kini, ujar Yuliyah, sudah berjalan tahun ke delapan. Mestinya sudah masuk pencairan. “Tujuh tahun lalu saya buka premi Rp25 juta per tahun, saya buka dua polis. Setelah itu akhirnya satu polis saya tutup, satunya lagi tetap berjalan dengan harapan duitnya tidak dipotong nilainya,” bebernya.

Lebih lanjut, uang yang disetorkan ke asuransi tersebut jumlahnya sekira Rp97 juta, selama tujuh tahun. Dengan kejadian ini, ia hanya bisa berharap agar uang preminya segera dikembalikan.

Saya sudah coba tanya AIA tapi saya selalu dipingpong. Saya sudah merasa tidak beres tahun ke dua. Pas saya mau pembayaran premi yang tertera disitu nama saya, sedangkan nama kedua anak saya hanya ahli waris,” katanya.

Dirinya seringkali mencoba mencari jawaban atas persoalan tersebut, namun sayangnya tidak ada respon serius dari pihak asuransi itu.

Saya sudah coba tanya-tanya tapi mereka tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan kami. Sampai sekarang nggak ada kabar,” katanya.

Sementara itu, nasabah lainnya, Dede Arfan mengaku, awalnya ia berniat mengucurkan deposito pada sebuah bank sebesar Rp100 juta, namun tiba-tiba dihandle oleh pegawai asuransi AIA dengan dalih sebagai investasi tabungan berjangka yang bunga depositonya 5 sampai 15 persen.

Yang bikin saya sedih dan kecewa ketika saya melihat teman-teman yang lain jadi korban, barulah saya lihat polis ternyata pas saya baca semuanya data diri saya dipalsukan, dari kerjaan dan ahli waris saya dipalsukan,” tuturnya.

Sedari awal dia tidak ada niat untuk mengikuti asurasi tersebut. Ia hanya berniat investasi untuk membeli rumah.

Tapi ternyata saya mengalami kerugian sekira Rp34 juta dari total Rp125 juta selama 5 tahun,” ujarnya.

Dirinya sudah mencoba melaporkan kasus yang dialaminya itu ke Bareskrim Mabes Polri dan Wakil Ketua DPR RI, namun sayangnya belum juga ada kejelasan.

Sampai kapanpun saya tidak akan rela uang saya diambil mereka,” tuturnya.

Terpisah, Ansari Lubis, pria yang dipercaya sebagai kuasa hukum para korban mengaku, dengan mencuatnya kasus ini, diperkirakan jumlah nasabah yang merasa dirugikan atas asuransi tersebut akan semakin bertambah.

Kalau saat ini yang sudah datang ke kita ada sekitar lima orang dan nanti akan bertambah terus, karena sudah berkoordinasi melalui medsos. Total kerugiannya macam-macam, dan masalahnya pun macam,” katanya.

Rencananya, sejumlah nasabah lainnya yang juga merasa dirugikan oleh asuransi tersebut bakal memberikan kuasa hukum pada Ansari dan rekan-rekannya.

Sebelumnya, Ansari dan tim telah lebih dulu memperjuangkan nasib Sutomo, pensiunan mantan perwira Polri yang juga mengalami nasib serupa. Hingga berita ini diturunkan, kasusnya masih dalam proses mediasi di ranah pengadilan. (rd/jun)