Artikel Heri Solehudin
Oleh: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja*)

RADARDEPOK.COM, Hari ini Selasa, 12 Rabi’ul Awwal 1442 bertepatan dengan 19 Oktober 2021 ummat Islam seluruh dunia diingatkan kembali untuk melakukan refleksi terhadap kelahiran Muhammad bin Abdullah.  14 abad yang lampau, tepatnya tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 570 Masehi, Hari bersejarah bagi ummat Islam inilah yang kemudian diperingati sebagai hari Maulid Nabi Muhammad SAW  yang dalam khazanah tradisi Islam acapkali diperingati dengan beragam ritual-religius. Peringatan dan ritualisme-religius tersebut merupakan cerminan cinta sekaligus penghormatan kaum Muslimin kepada sosok pribadi yang mempesona, yakni nabi dan rasul terakhir dalam Islam, Muhammad SAW.

Muhammad yang lahir dalam kondisi masyarakat yang sangat jahiliyah dipersiapkan oleh Allah SWT sebagai rahmat, sebagai penerang, pembawa pesan kebaikan, penuntun moralitas dan pelopor perubahan bagi Bangsa Arab ketika itu sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an bahwa : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (Al-Ahzaab ayat 21). Dalam hadistnya juga disebutkan : “Bahwasanya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan ahlak manusia” (HR Al Baihaqi dari Abu Hurairah ra).

Dalam konteks Bangsa Indonesia terlepas dari persoalan ikhtilaf dalam memperingati Maulid Nabi ada pro dan kontra namun setidaknya kita bisa mengambil sisi positif dari momentum peringatan tersebut, maulid yang merupakan tonggak awal sejarah peradaban Islam adalah inspirasi besar dalam membangun dan mengokohkan tali persaudaraan sesama anak bangsa., sebagai bangsa yang majemuk, heterogenitas masyarakat kita menuntut kita semua sebagai anak bangsa untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan sebagai sebuah masyarakat bangsa, karena kita berbeda-beda baik suku, agama, ras dan golongan sebagai sebuah komitmen bersama sebagai sebuah jati diri bangsa Indonesia yang majemuk.

Masyarakat  Bernegara

Sejarah kemudian mencatat bahwa setelah mendapatkan tekanan demi tekanan di tempat kelahirannya (Makah) maka pada tahun 622 M Muhammad SAW kemudian memutuskan untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah),  langkah politik dengan berhijrah inilah yang kemudian menjadi titik balik dalam sejarah perjuangan Islam. Dukungan yang semakin kuat karena posisi Nabi bukan hanya sebagai pemimpin agama akan tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat (Politik), langkah-langkah strategis kemudian dilakukan dalam mengepakkan sayap dakwah Islam, membangun Masjid Nabawi, membangun sistem ekonomi, Yatsrib diubah namanya menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah. Rasulullah melakukan ‘reconstructing of society’, dengan semangat kolaborasi, mengkolaborasikan semua potensi masyarakat Yatsrib (Madinah) yang berbeda suku, ras, agama, dan keyakinan. Mempersatukan seluruh penduduk Madinah, baik muslim, yahudi maupun penyembah berhala berdasarkan ikatan sosial politik dan kemanusiaan dengan prinsip-prinsip kebebasan beragama, toleransi, persamaan, persaudaraan, dan tolong-menolong sebagaimana yang sering kita kenal dengan istilah Piagam Madinah .

Momentum Maulid Nabi SAW yang bagi ummat Islam menjadi tonggak awal sejarah gerakan perubahan masyarakat akan menjadi spirit bagi kita semua dalam pembangunan Bangsa dan Negara. Spirit dan  inspirasi besar akhlak Rasulullah yang sangat relevan dalam konteks bangsa kita saat ini adalah menjaga persaudaraan dan perdamaian di tengah maraknya kebencian dan permusuhan di antara anak bangsa, karena adanya perbedaan afiliasi politik dalam kontestasi Pemilu maupun Pemilukada. Sebagai ummat Rasulullah kita menyadari betul bahwa kebesaran  Muhammad SAW bukan karena kekuatan harta benda, tahta, atau bala tentara, melainkan pada akhlak, budi pekerti, moralitas, mentalitas, dan spiritualitas. Dengan kepribadian seperti itulah Muhammad berhasil menyatukan perbedaan suku, agama, dan latar belakang sosial lainnya serta menjadikannya sebagai kekuatan.

Hari ini setelah selama hampir 2 tahun bangsa kita dilanda pandemik Covid-19 yang memporakporandakan seluruh sendi-sendi ekonomi dan sosial kita, dengan momentum Maulid Nabi SAW ini kita dapat meneladani langkah dan strategi Rasulullah dalam menghadapi masyarakat yang heterogen. Keadaan masyarakat Madinah yang majemuk itu sangat relevan dengan masyarakat bangsa kita saat ini dimana bangsa ini disatukan dari banyaknya perbedaan. Agama menyebutkan bahwa perbedaan adalah merupakan rahmat, harmoni dan keselarasan masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah yang harus kita teladani bersama sebagai anak bangsa, sebagai tokoh masyarakat, sebagai politisi, sebagai pemimpin, kita semua meneladani kepribadian Rasulullah SAW. Bagi milenial dapat dicontoh dengan menjadi pemuda kreatif dan berprestasi meskipun mungkin ada banyak hambatan dan keterbatasan, bagi para pemimpin dapat mencontoh kejujuran dan keadilan sehingga bisa menjadi pemimpin yang sangat adil bagi seluruh rakyatnya. Wallaahu a’lam.

*) Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta, Anggota Forum Doktor Sospol Universitas Indonesia, Wakil Ketua PDM Kota Depok.