sidang lanjutan babi ngepet
SIDANG BAPET : Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alfa Dera saat menunjukan salah satu barang bukti chat whatsapp dalam persidangan lanjutan perkara Babi Ngepet dengan agenda pembuktian, di Kantor Pengadilan Negeri Depok, Selasa (05/10). FOTO : ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok mendatangkan dua saksi dalam agenda sidang pembuktiaan terkait perkara  penyebaran berita bohong babi ngepet dengan terdakwa Adam Ibrahim (44) di Pengadilan Negeri Depok.

Kedua saksi tersebut, yakni Didi Candra dan Iwan Kurniawan memberikan keterangan dengan agenda pembuktian, bahwa saksi disuruh terdakwa mengambil Babi hutan yang dipesan secara online oleh terdakwa di daerah Puncak, Kabupaten Bogor.

“Lalu saksi Iwan Kurniawan yang melakukan penangkapan terhadap babi hutan dalam keadaan telanjang atas perintah terdakwa,” jelas Kasie Intelijen Kejaksaan Negeri Depok, Andi Rio Rahmat, Selasa (05/10).

Dilanjutkannya, penangakapan babi dengan kondisi telanjang sebagai strategi penangkapan atau ritual yang diperintah terdakwa menggunakan pesan whatsApp.

“Seluruh chat WhatsApp tersebut juga ditunjukan dipersidangan oleh Penuntut umum,” tambah ucap Andi Rio.

Rio menegaskan, didapatkan fakta keterangan dipersidangan adanya kerumunan dan keonaran dimasyarakat karena penyampaian berita bohong yang dilakukan terdakwa di muka umum, babi hutan yang ditangkap adalah babi ngepet. 

“Padahal babi tersebut adalah babi hutan. Hal tersebut juga terungkap dipersidangan  berdasarkan keterangan saksi Iwan yang melakukan penangkapan babi hutan tersebut,” ungkap Rio.

Keterangan selanjutnya disampaikan saksi Didi Candra, ketika persidangan menerangkan bahwa saat keempat warga melakukan penangkapan dengan telanjang, kondisi babi hutan tersebut linglung dan lemas seperti dari perjalanan jauh, karena baru diantar saksi ke Terdakwa.

“Jadi total sudah 7 saksi yang di hadirkan oleh Jaksa penuntut umum Alfa dera dan Dwi Putri yang mana seluruh saksi saksi dihadirkan kesemuanya menerangakan  sesuai apa yang didakwakan oleh Jaksa penuntut umum yakni terdakwa melakukan perbuatan Pidana Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 14 Ayat (2) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana,” terang Rio.

Sidang selanjutnya, Rio menuturkan JPU akan menghadirkan dua saksi ahli. Pertama, Profesor Ahli Bahasa dari Universitas Pendidikan Indonesia dan Ahli Sosiolog dari Universitas Trisakti. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya