Heri Solehudin Artikel
Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja*)

(Refleksi Hari Sumpah Pemuda  28 Oktober 2021)

RADARDEPOK.COM, Sudah kita maklumi bersama bahwa setiap tanggal 28 Oktober kita bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan para pemuda yang dikenal dengan nama Hari Sumpah Pemuda. Saat itu tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung “Katholikee Jongelingen Bond” (Gedung Pemuda Katholik) Jakarta, berkumpul para pemuda dari beragam organisasi.

Di antaranya, Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes dan sebagainya. Para pemuda tersebut menggelar pertemuan yang kemudian disebut sebagai Kongres Pemuda yang diinisiasi oleh Sugondo Djojopuspito, Djoko Marsaid, Mohammad Yamin, Amir Syarifuddin dan para pemuda lainnya.

Bagi mereka tentu bukan hal yang mudah mengingat bangsa ini telah ratusan tahun hidup dalam represi rejim kolonial, ide menyatukan seluruh kepulauan nusantara menjadi satu entitas kesatuan politik yang berdaulat adalah gagasan “gila”. Tidak hanya oleh pemerintah kolonial, namun juga sebagian masyarakat sendiri. Konsekuensinya berhadapan dengan pemerintah kolonial, penjara kolonial dan pembuangan ke daerah terpencil sebagai resiko politiknya.

Momen inilah yang menyadarkan akan perlunya persatuan Nasional demi cita-cita Indonesia merdeka, para pemuda dari seluruh penjuru tanah air yang berbeda-beda latar belakang suku, ras, agama, dan golongan bersama-sama mengikatkan sumpah suci untuk bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Indonesia (NKRI).

Menawarkan gagasan persatuan dan kebangsaan Indonesia seperti “mission imposible”, karena adanya berbagai faktor perbedaan latar belakang, suku, bahasa agama dan ragam perbedaan lainnya yang selalu ditonjolkan pemerintah kolonial, akan tetapi semangat persaudaraan sebangsa menjadikan mereka menghilangkan egoisme masing-masing untuk berkomitmen bersama-sama dalam memperjuangkan bangsanya. Sebuah pelajaran besar yang harus kita jadikan pedoman dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa di masa kini dan masa mendatang.

Generasi Visioner dan Inovatif

Merekalah generasi-generasi emas yang mampu melampaui zamannya, mampu berpikir visioner, visi para pemuda tersebut mampu menembus batas imajinasi dan represi pemerintah kolonial. Berkat dari kesadaran sebagai anak bangsa yang mengalami penindasan dan berbagai sejarah yang sama  mampu menembus batas perbedaan yang ada.  Inilah pelajaran penting bagi generasi saat ini bahwa visi dan imajinasi tanpa batas mampu membongkar kungkungan mental dan pikiran kerdil, yang pada akhirnya menjadi lokomotif perubahan.

Sejarah kemudian juga mencatat bahwa reformasi politik yang terjadi pada tahun 1998 yang berhasil memaksa Presiden Soeharto mundur. juga tidak akan terjadi jika para pemuda, mahasiswa dan kelompok pro-demokrasi lainnya tidak punya imajinasi tentang tata kelola politik dan kenegaraan yang lebih baik, menumbangkan rejim orba merupakan konsekuensi dari implementasi imajinasi tersebut.

Dalam konteks politik kekuasaan saat ini kita juga patut untuk mengkritisi berbagai persoalan bangsa yang akhir-akhir ini dipertontonkan. Betapa tidak ? Era dimana kebebasan berpendapat dijamin undang-undang dan demokrasi yang sudah menjadi pilihan kita, masih saja ada sikap-sikap yang anti kritik dan cenderung otoriter. Perbedaan sikap dengan pemerintah sering diangggap radikal, anti pancasila, pro khilafah dan lain sebagainya, banyak kebijakan yang tidak bisa dikritik, anggota DPR yang punya hak imun dan hak bicara diam membisu melihat sengkaruk persoalan kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Sikap berani tokoh-tokoh seperti Mohammad Yamin, Amir Syarifuddin yang telah melampaui zamanya menginspirasi kita semua untuk berfikir cerdas dan visioner, kreatif dan inovatif, kita tidak boleh menjadi jumud, generasi bebek yang hanya bisa membebek kepada kekuasaan atau menjadi bagian dari kekuatan oligarki menjadi manusia pragmatis yang hanya mementingkan kepentingan pribadi sesaat tanpa memikirkan bagaimana masa depan Bangsa dan Negara yang kita cintai ini. Kita jangan sampai menjadi generasi sampah yang hanya bisa menimbulkan kegaduhan di ruang publik, menjadi buzzer media sosial untuk kepentingan kekuasaan kelompok oligarki yang membayarnya.

Alih-alih menjadi problem solving bagi bangsanya malah menciptakan permusuhan dan membuat gap antara masyarakat yang satu dengan yang lain, mereka menjadi biangkerok perpecahan dan konflik sosial yang bisa berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Mari kita jadikan momentum Sumpah Pemuda kali ini sebagai momentum mereformasi diri kita sebagai generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa. Kapal Besar Republik ini tidak boleh karam karena digerogoti tikus-tikus berdasi yang selalu berlindung dibawah ketiak kekuasaan, karena itu wajib bagi kita menyiapkan generasi terbaik, berkarakter dan berintegritas dalam menyongsong Indonesia Emas. Wassalam.

*)Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta, Anggota Forum Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia. Direktur Heri Solehudin Center.