rapat hiv/aids
TANGGULANGI HIV/AIDS : Rapar Koordinasi Persiapan Hari Aids Sedunia (HAS) bersama seluruh komponen masyarakat, di Ruang Rapat Gedung Baleka 2, Selasa (23/11). ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Kota Depok tidak bisa main-main dalam penanggulangan HIV/AIDS. Fakta membuktikan, per Desember 2020 ada 1.244 penyintas HIV/AIDS yang tersebar di Depok. Lebih takjubnya, dari data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok ribuan penyitas itu, kini didominasi seks sejenis atau lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Ketua KPA Depok, Khaerudin menerangkan, Kota Depok yang menjadi penyanggah Ibu Kota Jakarta termasuk menjadi salah satu penyumbang terbesar penyintas HIV/AIDS bagi Jawa Barat. Bahkan, dari tahun 2019 ke 2020 ada peningkatan penyintas.

“Iya kita akui Depok jadi penyumbang terbesar ya. Sehingga KPA dari provinsi menerapkan deklarasi ini dengan target 2030 bisa tertangani,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, di Balaikota Pemerintah Kota Depok, Selasa (23/11).

Dibeberkannya, jumlah penyintas di Depok tertular dari perilaku buruk, seks bebas, penggunaan jarum suntik narkoba secara bersama, wanita maupun pria yang menjadi penjajak seks karena faktor ekonomi.

Namun, pada 2019 penularan paling banyak terjadi dari penggunaan jarum suntik atau biasanya disebut penasun. Pada 2020, ada perubahan penularan yang mendominasi yaitu dari hubungan seks sejenis atau LBGT. “Ada penyintas yang bukan dari prilaku buruk. Itu biasanya menimpa anak yang berasal dari orang tuanya,” ungkap Khaerudin.

Kota Depok memiliki area risiko tinggi yang besar. Estimasi kelompok risiko tinggi di kota Depok sekitar 22.901 orang. Kelompok resiko tinggi, dengan jumlah Wanita Pekerja Seks (WPS) sekitar 33, pengguna jarum suntik sekitar 286, pasangan pengguna jarum suntik sekitar 84, lelaki seks dengan lelaki (LSL) sekitar 410, lelaki beresiko tinggi atau pelanggan WPS sekitar 67, pasangan beresiko tinggi atau LBT sekitar 123 dan waria sekitar 25.

“Kecenderungan kelompok resiko tinggi tersebut  akan berkontribusi meningkatkan kasus HIV/AIDS di Kota Depok, dengan estimasi kasus HIV/AIDS mencapai 3.539 orang,” bebernya.

Namun, bukan berarti KPA bersama seluruh komponen tidak melakukan upaya. Hal ini sudah dilakukan sejak tahun 2008. Baik dari pemerintah maupun NGO atau LSM yang bergerak di kemanusiaan HIV/AIDS.

Program pengupayaan seperti, Harm Reductions atau pengurangan dampak buruk, yaitu upaya pencegahan penularan HIV AIDS pada kalangan pengguna Napza suntik PMTS, dengan Pencegahan HIV AIDS Melalui Transmisi Seksual. “Program ini dilakukan KPA dengan beberapa LSM, serta seluruh Puskesmas Kecamatan yang ada di Kota Depok Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB),” katanya.

Program tersebut berupa pencegahan, pengobatan, dan perawatan atau dukungan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui puskesmas bekerjasama dengan KPA, LSM  serta melibatkan kader masyarakat WPA dan Kader Pendamping ODHA.

Program-program tersebut berjalan dengan adanya dukungan dana dari founding, baik  dalam negeri atau luar negeri seperti, USAID, HCPI, dan Global Fund (GF). Lalu, ada juga beberapa program lainnya yang di danai APBD melalui dinas terkait.

“Sampai dengan saat ini angka kasus HIV terus meningkat di Kota Depok. Program-program yang sudah berjalan masih belum efektif untuk bisa menahan laju epidemi ini,” papar Khaerudin.

Permasalahan lainnya adalah, cakupan pendampingan Orang Dalam HIV/AIDS (ODHA) yang masih rendah. Saat ini estimasi ODHA sekitar 1.079 orang di Kota Depok, sesuai data KPA pada 2018. ODHA yang telah terapi ARV sekitar 506 orang sesuai data RSUD kota Depok, Gap terjadi dengan lost ODHA atau belum menggunakan ARV sekitar 573 orang.

Hal ini dipengaruh juga dengan belum maksimalnya dukungan masyarakat dan keluarga dalam penanganan kasus ODHA. Sementara ini pendampingan terfokus pada LSM yang di danai  founding serta kader pendamping yang berjumlah 33 orang. Dengan dibantu Kader WPA di setiap kecamatan yang melakukan pendampingan di Kota Depok, untuk menangani jumlah ODHA yang cukup tinggi.

Sementara, Koordinator LSM Kuldesak, Hages Budiman menambahkan, saat ini pihaknya telah mendampingi 844 penyintas yang dengan pelayanan kesehatan di RSUD Kota Depok, RS Sentra Medika, dan RS Hermina Depok. “Data yang kami miliki belum yang ditambah dengan RS Universitas Indonesia ya,” tambahnya kepada Harian Radar Depok.

Seluruh yang LSM Kuldesak dampingi, semua dari populasi kunci dan masyarakat  LSL, Napza Suntik, WPS, Pria Pekerja Seks (PPS), Anak, Ibu Rumah Tangga, Pelanggan Seks.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar