ilustrasi tukang bakso
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Semangkuk bakso tentu sungguh nikmat. Apalagi musim hujan begini, paling enak makan bakso yang masih panas. Kenikmatannya sungguh tiada tara.

Bakso kerap dimasukan oleh seseorang sebagai kategori makanan yang paling enak di indonesia.

Ada banyak sekali varian bakso yang bisa kita jumpai di Indonesia. Ada bakso Malang, yang terkenal dengan teksturnya yang khas serta kondimennya yang bermacam-macam. Ada juga bakso Solo, yang juga terkenal dengan kuahnya yang keruh, pekat, serta gurih bukan main.

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dianggap sebagai dosa yang biasa dilakukan para penikmat bakso. Tentu saja ini bukan dosa yang akan dicatat malaikat Raqib dan Atid, melainkan sekadar kebiasaan yang berbeda dari kebiasaan pada umumnya. Saya mencatat ada tiga dosa umum yang dilakukan orang ketika sedang makan bakso. Kira-kira apa saja, ya?

Terlalu banyak menambahkan saus dan kecap

Dimakan polosan begitu saja bakso itu sudah enak. Kalau mau menambah rasa lain, mungkin hanya sambal yang cocok untuk menambah rasa pedas. Bisa juga sih memberikan beberapa tetes cuka untuk sekadar menambah rasa asam. Itu saja sebenarnya sudah cukup, dan kita sudah bisa menikmati kuliner satu ini dengan khidmat dan lahap.

Baca Juga : Rp 23 Juta untuk 22 RTLH di Kelurahan Depok

Namun, banyak orang yang luput akan hal itu. Alih-alih memilih menikmati kuah dengan khidmat, mereka malah menambahkan saus atau kecap yang kadang takarannya terlalu banyak. Secara look, warnanya jadi kurang appetizing. Merah-merah hitam gitu, kan jelek jadinya. Secara rasa pun aneh, kecut-kecut manis dan rasa gurih kuahnya sudah hilang. Tinggal rasa saus kecap saja yang dominan. Okelah kalau kuahnya nggak telalu gurih nggak apa-apa menambah saus kecap, tapi kalau ketemu yang gurih, apa tega melakukan dosa ini?

Terlalu banyak menambahkan sayuran

Kalau kita lihat pada bakso Malang atau Solo, sayuran bukanlah kondimen penting. Ada warung yang menyediakan sayur, ada juga yang nggak. Mau pakai sayur silakan, mau nggak pakai sayur juga nggak apa-apa (meski kebanyakan orang memilih nggak pakai sayur). Bahkan keberadaan sayur dalam mangkuk berada di barisan paling bawah, yang mana masih lebih penting keberadaan tusuk gigi ketimbang sayur.

Namun, kalau kita lihat bakso non-Malang/Solo (di Jakarta, misalnya), kita akan lihat begitu banyak sayur yang tersedia. Dalam satu porsi isinya hanya beberapa butir bakso, mie/bihun, serta sayuran (biasanya sawi dan taoge). Ini agak aneh, sebab jika terlalu banyak sayuran akan mengubah autentisitas rasa yang seharusnya bisa lebih muncul. Intinya kalau mau pakai sayur, sedikit saja, jangan banyak-banyak. Kalau bisa ya nggak perlu sayur, sih. Persetan alasan biar lebih sehat. Kalau mau sehat ya jangan makan bakso lah!

Tidak menghabiskan kuah

Orang-orang mungkin lupa, bahwa selain bakso, mi, siomay, atau kondimen lain, kuah juga merupakan aspek penting. Salah satu yang “dijual” dalam semangkuk bakso adalah rasa kuah kaldu yang gurih. Perpaduan antara bakso serta kondimen lain dengan kuah gurih itu seperti Andra and The Backbone, sempurna! Apalagi kalau ketemu kuah yang pekat, butek, beuh… itu sudah pasti jaminan gurih. Dengan tambahan sedikit sambal, maka kenikmatannya akan semakin paripurna.

Namun sayang sekali, banyak orang yang memilih mengabaikan kuah ini. Mereka biasanya nggak menghabiskan kuah dan menyisakan cukup banyak. Entah apa alasannya. Padahal, kalau mau kenikmatannya sempurna, kuah itu harus dihabiskan. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya