TBC
BANGGA : Perwakilan RS Hasanah Graha Afiah dan Puskesmas Cinere yang menjadi Fasyankes Terbaik dan layak mendapatkan penghargaan sebagai Fasyankes dengan Gerakan TOSS TBC Terbaik dari Dinas Kesehatan Kota Depok pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-57, Jumat (12/11). DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Menurunnya investigasi kontak kepada penderita Tuberkulosis (TBC) di Kota Depok selama masa pandemi, menyebabkan cakupan penemuan terduga TBC masih jauh dari target. Estimasi penemuan terduga TBC di Kota Depok mencapai 32.006 kasus, dengan target 100% di tahun ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Depok, Umi Zakiati mengatakan, jika sesuai update pelaporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), upaya penemuan kasus secara aktif (active case finding) yang biasa dilakukan untuk deteksi dini mengalami penurunan. Untuk itu, pihaknya melakukan evaluasi untuk meningkatkan deteksi dini TBC.

“Kami akan perkuat lagi di lintas sektor dengan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), kader, dan Puskesmas serta mitra kesehatan lainnya untuk meningkatkan investigasi. Jadi jangan sampai nanti terlambat untuk penanganannya,” ujarnya kepada Radar Depok, bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-57, Jumat (12/11).

Umi merinci, penurunan penemuan kasus secara aktif tentunya berdampak pada angka penemuan terduga TBC. Sampai Oktober atau triwulan ketiga di 2021, cakupan penemuan terduga TBC baru mencapai 25,6 persen atau 8.187 kasus.

Kemudian, indikator Penemuan dan Pengobatan TBC (Treatement Coverage) di Kota Depok juga baru menyentuh angka 2.485 kasus atau 35,6 persen, dari estimasi 6.973 kasus dengan target 90 persen.

“Angka Penemuan Terduga hanya bisa dilakukan melalui Investigasi Kontak terhadap Kasus TBC. Permasalahannya, adalah Angka Penemuan Terduganya, masih jauh dari target, karena indikator ini yang membuat kita bisa menemukan kasus untuk indikator Penemuan dan Pengobatan TBC (Treatement Coverage),” bebernya.

Penyakit TBC merupakan penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh kuman atau bakteri Mycobacterium tuberculosis. Cara penularan melalui percik renik (droplet) yang dikeluarkan oleh penderita saat bersin, batuk, berbicara maupun tertawa, satu orang penderita TBC dapat menularkan kepada 10-15 orang di sekitarnya.

Meski begitu, penderita TBC masih punya harapan untuk sembuh, melalui kepatuhan dalam meminum Obat Anti Tuberkulosis secara rutin minimal enam bulan.

“Angka Keberhasilan Pengobatan (Treatement Success Rate) di Kota Depok dari target 90 persen, cakupannya sudah berhasil 75,8 persen. Indikator dikatakan berhasil apabila gejala klinis sudah tidak ditemukan, dan menyelesaikan pengobatan TBC secara lengkap,” tuturnya.

Terkait fasilitas layanan kesehatan yang melakukan program pelayanan dan pelaporan TBC di masa pandemi Covid-19, pihaknya mengapresiasi Rumah Sakit dan Puskesmas yang telah konsisten dengan komitmen sebagai garda terdepan dalam menjalankan Gerakan Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

“Dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-57 Tahun 2021 Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, khususnya Program Pencegahan dan Pengendalian TBC memberikan penghargaan kepada Fasyankes melalui penilaian dari beberapa kriteria, maka didapatkanlah 1 RS dan 1 Puskesmas, yaitu RS Hasanah Graha Afiah dan Puskesmas Cinere yang menjadi Fasyankes Terbaik dan layak mendapatkan penghargaan sebagai Fasyankes dengan Gerakan TOSS TBC Terbaik dari Dinas Kesehatan Kota Depok,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Tengku Farida Rachmayanti menuturkan sebuah hal yang wajar bila cakupan penemuan terduga TBC belum optimal. Sebab, di masa pandemi, pada sisi lainnya juga harus melindungi relawan atau kader agar tak terpapar virus Korona, serta pola investigasi lain perlu dipikirkan bersama untuk menyikapi situasi ekstraordinary.

Menurutnya, Untuk pemantauan agar penderita TB konsisten dengan pengobatan dapat dilakukan melalui Pendekatan mikro berbasis RT/RW, bisa dirancang polanya menggunakan aplikasi tertentu dan langsung ke sasaran keluarga yang terpapar. Masalah TB tidak bisa dipungkiri, keluarga punya peran penting keluarga dalam pencapaian kesembuhan. Apalagi ini menjadi bagian dari indikator kesehatan keluarga yang ditetapkan kemenkes.

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang dan keluarganya. Tuberkulosis yang tidak ditangani dengan benar berisiko menyebabkan kerusakan paru-paru yang parah dan penularan ke orang-orang terdekat,” tandasnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Junior Williandro