artikel nia

Oleh: Nia Lestari

Guru SMA Negeri 6, Depok

Mahasiswi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka Jakarta.

 

SELAMA masa pandemi Covid-19, pembelajaran “daring” menjadi pilihan tunggal yang diatur oleh pemerintah sebagai sarana pembelajaran dalam pencegahan penyebaran Covid-19.  Akibat dari kebijakan tersebut adalah berubahnya cara belajar siswa dan cara mengajar guru. Perubahan tersebut juga membuat perubahan gaya belajar. Pembelajaran kelas menjadi pembelajaran daring yang dikenal dalam istilah PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh ) dapat juga dimaknai sebagai pembatasan akses pendidikan. Pembatasan ini membawa dampak potitif dan negatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kendati hal tersebut, pembelajaran harus diupayakan tetap berlangsung dengan berbagai konsekuensi yang ditimbulkan.

Untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka atau bertemu secara langsung, lalu berubah menjadi daring (online) itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Pelaksanaan PJJ serentak diseluruh Indonesia, menimbulkan berbagai tantangan dan kesulitan karena perbedaan akses internet dan kondisi geografis ditiap daerah yang berbeda. Banyak siswa dan guru yang mengalami kedala dalam hal tersebut. Pemerintah mencoba berbagai cara untuk meminimalisir kendala tersebut, dengan mengencangkan stabilitas jaringan internet, bekerja sama dengan berbagai pihak dalam membuat aplikasi pembelajaran online, bahkan memfasilitasi kuota belajar untuk siswa dan pendidik agar kegiatan pembelajaran “daring” dapat berjalan lancar.

Tenaga pendidik dari semua jenjang usia melebur diri untuk mengenal kemudahan dalam mengajar berbasis IT. Sementara, peserta didik yang pada umumnya adalah generasi milineal semakin bersenyawa dengan kemahiran mereka menyelesaikan kegiatan dan tugas belajar berbasis IT. Hampir 2 tahun sudah pembelajaran “daring” dilakukan. Seiring menurunnya kasus terkonfirmasi Covid-19, maka pemerintah menggencarkan vaksinasi untuk para pelajar agar pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bisa segera direalisasikan. Namun, Pelaksanaan PTM itu harus dengan memperhatikan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 35 Tahun 2021, bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan harus berkapasitas maksimal 50% dari normal, dengan menjaga jarak minimal 1,5 meter. Kemudian setiap siswa mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas paling banyak dua kali dalam satu minggu, paling lama empat jam pelajaran per hari dengan tiga puluh menit setiap jam pelajaran. Karena pembatasan pembelajaran tersebut, maka munculah istilah Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas itulah yang mendasari terbentuknya metode Blended Learning. Belajar dalam kelas dan PJJ masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan belajar dalam kelas cenderung terbatas dengan tempat dan waktu , tetapi memiliki kelebihan dengan bertemu guru, siswa bisa langsung mendapat feedback dari guru tersebut atas pencapaian yang sudah mereka lakukan. Begitupun sebaliknya, belajar menggunakan internet memang tidak terbatas tempat dan waktu, tetapi tidak adanya guru  yang mendampingi , siswa tidak langsung mendapat feedback dan cendrung mengalami salah pengertian. Maka dengan dipadukannya kedua metode tersebut, Blended learning dapat menjadi jawaban untuk metode belajar yang menjadi trend pembelajaran tatap muka terbatas.

Pada penggunaan Blended Learning, Guru bisa menggabungkan keunggulan dan pengalaman pembelajaran daring yang telah dialami siswa dan pembelajaran tatap muka yang akan dilaksanakan. Guru bisa memberikan materi lebih dulu untuk dipahami siswa dirumah lalu membahasnya dikelas ketika dilaksanakannya PTMT. Selain dapat mengoptimalisasi waktu sedikit yang diberikan saat tatap muka, blended learning ini juga memberikan manfaat bagi siswa. Di antaranya, dapat menciptakan kemandirian belajar dan tanggung jawab akademis siswa. Menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang berpusat pada teknologi. Meningkatkan kemampuan kolaboratif. Serta memicu keterlibatan secara penuh (fisik dan sosio emosional) peserta didik dalam proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan (Serevina, 2021).

Blended learning mengkombinasikan berbagai bentuk perangkat yang dapat digunakan dalam pembelajaran mulai dari aplikasi komunikasi yang sudah biasa digunakan seperti whatsapp, zoom, facebook, program pembelajaran berbasis web seperti Edmodo, Zenius, Quipper, Zenler atau menggunakan aplikasi lain seperti google classroom dengan pemberian materi dan diskusi didalam kelas.

Blended learning yang didalamnya ada pembelajaran secara online dan tatap muka secara lebih detail mempunyai unsur unsur sebagai berikut: tatap muka dikelas, belajar mandiri, pemanfaatan aplikasi (web), tutorial, kerjasama, dan evaluasi. Tujuan utama Blended Learning dimana untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran dengan menyediakan berbagai media pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik dan keharusan dari pelaksanaan protokol kesehatan, juga dapat mendorong peserta untuk memanfaatkan sebaik-baiknya komunikasi melalui online dan offline, dalam mengembangkan pengetahuan. Hal ini, menjadikan Blended Learning sebagai solusi terbaik dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. (*)