workshop inklusi
PEMBINAAN : Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wijayanto sedang memberikan sambutan dalam kegiatan yang bertemakan Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan Melalui Workshop Pembinaan Sekolah Inklusi, Rabu (23/11). FOTO : PEBRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK  – Memaksimalkan peran Sekolah Inklusi, Dinas Pendidikan kota Depok mengadakan kegiatan tentang Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan Melalui Workshop Pembinaan Sekolah Inklusi, Rabu (23/11). Peserta dalam workshop tersebut adalah SD dari lima kecamatan, yakni dari Bojongsari, Sawangan, Limo, Cinere, dan Beji.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wijayanto mengatakan, workshop tersebu untuk mensinergikan suasana pendidikan untuk anak inklusi di sekolah umum, terutama di sekolah negeri. Jadi, harus ada penerimaan secara terbuka dari warga sekolah.

“Sekolah Inklusi harus bisa membuat warga sekolah menerima keberadaan inklusi. Siap untuk menerima perbedaan, baik secara akademik ataupun non akademik,” ucapnya.

Wijayanto menuturkan, ini adalah tentang menerima keberagaman yang ada di masyarakat, baik itu dari segi kekurangan ataupun kelebihan seseorang. Hal itu diajarkan sejak dini, demi untuk menghindari adanya tindakan intimidasai terhadap orang lain untuk orang yang termasuk kategori inklusi.

“Sekolah Inklusi adalah tempat pendidikan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Harus ada pembinaan dari sekolah untuk warga sekolahnya,” terangnya.

Baca Juga : Di Depok ada 11.000 Kasus HIV/AIDS, Ini yang Dilakukan KPA

Sementara itu, Kasi Kurikulum SD di Disdik Kota Depok, Suhyana mengatakan, siswa inklusi butuh perhatian dan intervensi tentang kebaikan, karena kondisi yang mereka jalani bukan keinginan mereka. Sekolah Inklusi harus bangga, karena bisa merasakan apa itu inklusi, tetapi untuk bisa mencapai itu semua harus tahu tujuannya.

“Sekolah Inklusi harus ditopang dengan sumber daya manusia dan wawasan yang luas. Oleh karena itu, perlu ada pembinaan kepada sekolah,” terangnya.

Suhyana menjelaskan, anak yang termasuk dalam kategor inklusi ada yang berada di atas normal dan juga dibawah normal. Karena, sejatinya orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata di usianya, harus mendapatkan penanganan khusus. Oleh karena itu, ada program akselerasi.

“Orang tua ataupun orang umum lainnya tidak bisa menyebut anaknya inklusi, tetapi yang memiliki hak untuk menyebutkan seseorang inklusi adalah psikolog. Oleh karena itu, perlu ada kerjasama yang baik antara sekolah dan orang tua dalam memberikan pendidikan yang layak,” jelasnya. (rd)

 

Jurnalis/Editor : Pebri Mulya